Matematika Gula

Pedagang mi ayam itu menyorongkan segelas teh manis hangat ke hadapan saya. Legitnya gula sudah terasa sejak saya menangkupkan tepian gelas ke arah muka, sekadar untuk menghirup aroma manisnya. Dalam seruput pertama, rasa gula terasa kental menyergap segenap indera pengecap. Spontan saya berkelakar, “Harga gula lagi murah, nih. Manis betul.”

Gula, pada masa kejayaannya, turut mendudukkan negeri ini di puncak-puncak kuasa atas komoditas pangan vital di dunia. Tanam Paksa yang digagas Gubernur Jenderal Van der Bosch menjadikan Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir gula terbesar kedua setelah Kuba di era 1920-an.

Pada masa keemasan itu pula, bekerja di pabrik gula (PG) bagai tiket menuju hidup yang sejahtera. Malam-malam musim giling tebu menjadi pekan raya khas lingkungan PG. Panggung-panggung hiburan ditegakkan, tempat para buruh memfoyakan uang sebagai tanda perayaan (Nyi Vinon, 2009).

Menjadi buruh PG saja sudah sejahtera, apalagi bila menjadi amtenaar. Pramoedya Ananta Toer menggambarkan dalam Roman Tetralogi Pulau Buru, seorang jelata macam Sastrokassier rela menjual anaknya Sanikem, kepada Herman Mellema Sang Administratuur, demi jabatan juru bayar PG.

Namun, sekarang masa jaya itu sudah berlalu.

Ladang-ladang tebu sudah terlampau jenuh dijejali urea saban musim tanam. Produksinya stagnan, tingkat rendemen pun di bawah rata-rata tebu Brazil yang kini merebut posisi Indonesia. Sementara, mesin-mesin pemeras tebu di pabrik menua, efisiensinya keropos dimakan usia.

Padahal, kebutuhan masyarakat terus meningkat. Alhasil, neraca gula Indonesia defisit, baik gula rafinasi yang diperlukan industri, maupun gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi langsung masyarakat. Pemerintah lantas meluncurkan program revitalisasi industri gula demi berswasembada di 2014.

Pembenahan di sisi perkebunan atau on farm mencakup penataan varietas, mekanisasi dalam pengolahan, perbaikan gizi tanah dan perbaikan masa tanam. Sementara, pemerintah menitik beratkan perbaikan off farm di peningkatan efisiensi dan penambahan kapasitas produksi.

Memang, ada hambatan infrastruktur energi dan transportasi dalam pembukaan lahan dan PG baru di Merauke Integrated Food Estate and Energy (MIFEE). Namun, pemerintah siap dengan sejumlah insentif untuk memicu gairah investor. Di atas kertas, cetak biru Revitalisasi Industri Gula seolah tak bercela.

Kecuali satu faktor: cuaca.

Tak ada yang menyangka, bahkan sekelas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sekalipun, jika tahun ini La Nina mengantarkan hujan mengguyur Indonesia sedemikian murahnya. Terakhir, mereka memprediksi cuaca ekstrim ini akan berlangsung hingga Maret 2011.

Anomali cuaca ini pula yang menyebabkan tak ada keriangan yang biasa saat Republika menyambangi PG Gempolkrep, Mojokerto, pekan lalu. Buruh-buruh legam bertelanjang dada beringsut lesu saat keluar dari bangunan tempat tebu digiling. Lantaran produksi anjlok, tak ada alasan bergembira.

Di sisi lain, petani tebu ikut tertimpa tangga dengan musim hujan yang berkepanjangan ini. Tebu sudah sampai ranumnya, namun perlu kemarau agar sakarida di serat tebu mengkristal jadi gula. Tidak ada pilihan lain, terpaksa tebu-tebu basah itu digiring ke PG.

Administrator Gempolkrep, Syawaluddin, mengatakan, di PG yang menjadi pilot project Revitalisasi Industri Gula di lingkungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X ini, produksi turun sekitar 25 persen dari target semula, menjadi 60 ribu ton saja.

Sedangkan tingginya curah hujan, kata dia, tak hanya menurunkan kadar rendemen ke bilangan 6,3 persen dari target 8,0 persen. Lahan yang becek membuat truk tebu tak mampu masuk mengangkut panen. “Sekarang dua hari giling, sehari berhenti karena tak ada pasokan,” ucapnya.

Soal minimnya pasokan ini, dibenarkan Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Perusahaan PTPN X, Daljadi W Soekarto. Peningkatan kapasitas dan efisiensi mesin di pabrik menjadi tak terpakai karena tak ada tebu yang digiling.

Para pemangku kepentingan di urusan Si Manis ini mulai ketar-ketir menunggu musim giling kelar. Dewan Gula Indonesia (DGI) merevisi target produksi semula yaitu 2,9 juta ton GKP menjadi 2,36 juta ton saja. Kementerian Perdagangan lebih pesimis, mereka perkirakan realisasi giling hanya 1,8 juta ton.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil, memprediksi realisasi produksi akan turun 20-30 persen. Besarannya berkisar 2,1 juta ton, di bawah hitungan DGI. “Saya optimis tetap akan sampai dua juta ton walau cuaca seperti ini,” katanya.

Sembari harap-harap cemas menunggu angka riil realisasi giling, harga gula terus menanjak.

Dua pekan lalu, harga rata-rata nasional gula pasir menyentuh level tertinggi sejak April yaitu Rp 10.982 per kilogram.  Padahal, harga rata-rata di Juni tercatat Rp 9.958 per kg, Juli Rp 10.390 per kg, Agustus Rp 10.692 dan September Rp 10.571 per kg.

Menguatnya harga gula juga ditingkahi tingginya harga lelang di tingkat petani. “Harga lelangnya berkisar Rp 9.100-9.200 per kilogram, ini lebih tinggi dari acuan pemerintah karena pasokannya juga sedikit,” kata Kepala Bagian Penanaman Gempolkrep, Abdul Hamid.

Lesunya musim giling kali ini, seingat Abdul, serupa dengan yang terjadi di 1997. Saat itu pun hujan turun berkepanjangan tanpa bisa ditahan. Seperti mengulang rekaman kelam, dia bercerita sambil menerawang, kala itu pun rendemen merosot, produksi juga anjlok.

Baginya, lebih baik menghadapi kemarau ketimbang penghujan berkepanjangan. Kekeringan, kata dia, bisa dilawan dengan pompa air, sementara hujan tak bisa dihalau begitu saja. Karena itu, dia pun mengatakan, pihaknya sudah bersiap menyongsong El Nino yang biasanya menyusul La Nina.

“Kami sudah beli 20 pompa air, untuk airnya dari sungai dan mata air. Kalau soal air, di sini tidak pernah bermasalah. Waktu El Nino 1998 dulu juga begitu. Mudah-mudahan saja bisa,” kata dia dalam nada penuh doa. Dia berharap, manisnya masa keemasan gula dapat kembali terulang. Semoga.

***

daripada gak kepake cetak n cuma jadi sampah di nyusrum, diposting di sini sajalah XP

oia, nulisnya ini sambil dengerin Sugar Town-nya Zooey Deschanel. mantaps, heheu.

Senangnya Berkunjung ke Pabrik Gula :D

Di Balik Batik Kasbani

Tanggal 2 Oktober selalu jadi hari raya batik bagi bangsa Indonesia. Pada 2009, UNESCO mengakui batik sebagai warisan dunia untuk kategori budaya tak benda dari Indonesia. Bangsa saya ini sebelumnya sempat rungsing, luka, tersinggung, atau apalah namanya, oleh Malaysia yang senang mematenkan ini itu. Termasuk, batik yang dianggap kebudayaan asli Indonesia itu.

Pengakuan ini jelas jadi angin segar bagi sebagian besar penduduk negeri ini. Sejak saat itu, ramai gerakan merayakan “kemenangan” Indonesia atas si tetangga jiran ini. Mulai dari kelompok peduli batik hingga diskon dari penyelenggara taman rekreasi bagi pengunjung yang mengenakan batik. Presiden SBY pun mengimbau khalayak ramai mengenakan batik di tanggal penyerahan pengakuan dari badan PBB itu.

Setiap tanggal bersejarah itu, Jakarta disesaki warga berbatik lebih banyak dari biasanya. Jika di pekan-pekan sebelumnya pemakai batik di hari Jumat hanyalah pegawai negeri sipil dan karyawan, tanggal 2 Oktober lalu rasanya berbeda. Remaja putri yang berjalan-jalan di mall, ibu rumah tangga yang pulang dari pasar, hingga petugas Transjakarta terlihat mengenakan batik.

Pemandangan seorang tukang ojek berbatik di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur pun jadi menarik buat saya. Kasbani (56 tahun), si tukang ojek berbatik, tengah bertengger di atas Honda Astrea keluaran 1996, menanti pelanggan datang di siang yang terik itu. Jari telunjuknya teracung tinggi tiap ada pejalan kaki yang berjalan mendekati deretan motor yang berbaris di pangkalan ojek terminal itu.

Hari itu, Kasbani seakan jadi orang asing dalam patron berbusana tukang ojek yang ada di pangkalannya. Ia jadi satu-satunya pengendara ojek yang mengenakan batik hari itu. Perlengkapan standar tukang ojek macam rompi seragam pangkalan berwarna mencolok, jaket tipis untuk menghalau teriknya matahari, atau kaus katun yang menyerap keringat, tak satupun dikenakan Kasbani.

Usut punya usut, batik Kasbani tak sedikitpun berhubungan dengan penahbisan batik hari itu. Alasan Kasbani sederhana, bajunya yang lain tengah dicuci dan tinggal hem batik itulah baju bersih di lemarinya. Terlebih, hari itu ia harus menunaikan Shalat Jumat, jadi menurutnya tak ada salahnya memakai baju yang sedikit formal walau tetap “narik”. Soal woro-woro Pak Beye, Kasbani sama sekali tak tahu.

Kasbani ternyata tak hirau dengan tetek bengek sengketa budaya seputar batik. Sebagai orang yang tidak mengerti, ia memilih tak mengomentari kabar gembira pengakuan dari badan PBB itu. Ia pun mengaku tak mengerti makna dibalik batik yang ia kenakan. Alih-alih bangga dengan diakuinya batik sebagai milik Indonesia, ia justru berkata lebih bangga jika memiliki batik yang bagus. “Batik yang bagus itu ya harganya mahal, Mbak,” kata kakek enam cucu ini.

Dahulu, busana dan kain batik kerap menjadi alat legalisasi kekuasaan elit atas kelas masyarakat di bawahnya. Berbeda dengan sekarang, ada aturan khusus tentang pakaian yang harus dikenakan oleh raja, sentana, abdi dalem, dan rakyat biasa. Peraturan tersebut teramat rinci hingga membagi-bagi motif batik untuk kelas-kelas masyarakat yang ada. Pada masa lampau, kain batik bermotif parang, seperti parang rusak, parang klithik, parang kusuma, dan lain-lain hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya (Kuntowijoyo, 2004).

Karenanya, wajar bagi wong cilik macam Kasbani merasa berjarak dengan batik yang menurut pandangan awam seperti saya, layak jadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Lumrah pula ketika ia mengasosiasikan batik dengan kemapanan finansial karena selembar kain batik yang berkualitas atas bisa dilego seharga jutaan rupiah. Kemapanan yang jauh dari jangkauannya yang hanya berpenghasilan tiga puluh ribuan rupiah tiap hari.

Di zaman sekarang, barangkali Pak Beye berharap filosofi ketekunan dan keindahan dari batik lah yang dapat dicerap lantas diambil hikmahnya. Goresan canting dari tangan-tangan wanita pembatik melambangkan ketelitian, kelemah lembutan, dan perfeksionisme. Sedang proses pewarnaan dengan malam melambangkan keuletan, semangat dan kerja keras. Namun tak dapat dipungkiri, konstruk berpikir ala zaman feodal yang dimiliki Kasbani masih tertanam di otak sebagian masyarakat.

Akhirnya, barangkali lebih baik bersikap seperti Kasbani yang enggan sok tahu soal perkara sah-mensahkan batik ini. Menurut Iwan Tirta, yang disahkan UNESCO menjadi warisan budaya dunia adalah batik tulis, bukan batik cap pabrikan atau malah sekadar kain bermotif batik yang banyak dikenakan khalayak saat 2 Oktober itu.

Tampaknya, saya ataupun Anda yang memakai sembarang batik di hari itu mesti belajar banyak kepada Kasbani.

http://www.berbatik.com”>

Trotoar Negara Tega

===repost dari catatan FB saya, dipublish 8 April 2010===

Hari itu saya berpapasan dengan sepotong trotoar. Dia biasa saja, saya bisa temukan yang semacamnya di banyak sudut kota lain. Perkerasannya dari paving block, rapat dan tak memberi ruang bagi air menelusup di jeda antar sesamanya. Kansteinnya codet sana sini tanda keusangan, warnanya pun tak jelas apa.

Di trotoar selebar 1,5 meter itu, tergelar sebuah kehidupan: gerobak plus tenda kaki lima. Tulisannya, Sop Kaki Kambing Bang Kumis Tanah Abang 999. Di kanan kirinya, berderet pula semacam Pecel Lele Soto Lamongan, Ayam Goreng Kabita Asgar atau Sate Kambing Asli Madura. Seolah semua harus beri tunjuk asal muasal baru boleh berjualan.

Tak seberapa jauh dari sana, sebuah perempatan jadi tempat jalanan bersaling silang. Perempatan ini selalu ramai oleh mobil bagus, mobil biasa, angkot butut, bis busuk, bis bagus, sepeda, dan sepeda motor. Lampu lalu lintasnya sibuk berkedip mengatur ribuan kendaraan serba acak yang kebetulan bertumbuk di satu kesempatan.

Di perempatan itu, pada sepotong trotoar pula, ada kekuatan bagai magnet. Menyedot sembarang orang dari berbagai latar belakang namun memiliki tujuan yang satu. Seorang calo jadi comblangnya, membuai calon penumpang dengan mengumbar janji muluk. Angkot akan segera berangkat dan cuma butuh satu orang lagi agar bisa laju.

Sekitar pukul setengah lima sore, upacara di trotoar itu dimulai. Awalnya, segerobak perkakas dan perlengkapan diantar ke sana. Gulungan tenda dibaringkan di perkerasan, lantas dibuka dan ditudungkan. Tiang-tiang dipancang, kain pembatas dibentangkan. Makanan dideretkan di rak etalase. Selesai.

Sejak upacara dimulai, pedestrian jadi tak bisa lalu di trotoarnya. Mereka pun tumpah ke bahu jalan. Beberapa sambil haha hihi berjalan sampai ke tepian jalur kendaraan. Pengemudi kendaraan jadi mengklakson mereka kuat-kuat. Si pedestrian terbirit gusar lalu menggesa langkahnya, mengejar badan trotoar yang belum terjajah.

Sayangnya tak bisa. Ada deretan angkot yang sedang ngetem tadi. Angkot, yang jelas lebih kuasa dari tubuh-tubuh manusia, telah merebut badan trotoar lainnya. Lantas para pedestrian itu berpencar lagi ke jalanan. Meramaikan lalu lintas lantas menambah semrawut kemacetan dan hiruk pikuk di perempatan.

Gerombolan sepeda motor tak mau ketinggalan. Mereka gemar berebut posisi paling depan, kabur dari kemacetan. Tak peduli caranya, pokoknya sedepan mungkin. Walau dalam pengejaran posisi terdepan ini, mereka terkadang harus menjajah zebra cross atau malah menghajar potongan trotoar yang masih tersisa.

Sebuah paving block di potongan terakhir trotoar itu remuk, meremah terhajar roda nan perkasa. Campuran semen dan pasir itu kini serupa bubuk, berwarna abu dan sendu. Kanstein, tanah, rumput kecil, dan paving block lainnya tak sempat meratapi kedukaan itu. Roda yang lain telah memupus sang remahan dan membaurkannya ke udara.

Inilah saya di negara yang orang-orangnya saling tega. Tega berjualan trotoar lantaran tak sanggup sewa kios di pertokoan. Tega berjalan di tepian jalanan lantaran tak bisa menggunakan trotoar. Tega mengagetkan pejalan kaki lantaran mereka mengganggu jalanan. Tega mengetemkan angkot di perempatan karena kosong muatan.

Tega bermotor di trotoar lantaran tak mau mengantri dalam kemacetan. Tega mengutip retribusi ke pedagang kaki lima dan mengangkanginya untuk diri sendiri. Tega mengamen dengan mengancam karena ingin punya uang. Tega tak mau bayar pajak karena enggan masuk ke kantong oknum semacam Gayus.

Hanya orang kerdil yang menggunakan kemalangannya untuk membenarkan ketegaan yang dia lakukan. Sungguh teganya dirimu, teganya… teganya… teganya…

Berharap Kepada Timuran

===repost dari catatan FB saya, 18 Februari 2010. juga sudah diterbitkan di HU Republika===

Andi Side (55 tahun) belum juga berangkat melaut, padahal sedari tadi petang telah sampai rembangnya. Sinar Harapan, perahu yang setia mengantar jemput dia dan kelima temannya melaut sejak setahun terakhir, masih tertambat di dermaga, sekitar 200 meter dari gerbang ‘Selamat Datang di Perkampungan Nelayan Cilincing’, Jakarta Utara.

Sedianya, sebelum maghrib menjelang, Andi bersama kelompoknya sudah berlayar menuju bagan masing-masing di perairan utara Jakarta. Lantaran sang empunya kapal belum datang, alhasil mereka harus menunggu sebelum dapat laju. ”Kalau ada uang, saya juga ingin punya kapal sendiri,” lontarnya polos kepada Republika, belum lama ini.

Tiadanya kapal milik pribadi diakui Andi menghambat gerak kerja. Dia tak bisa menjadi nelayan jaring yang melaut hingga jauh, hanya bisa menangkapi ikan di bagan yang berjarak sekitar garis pantai. ”Itu bagan saya,” katanya sambil menunjuk satu di antara puluhan gubuk sederhana, kumpulan bagan yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kami berbincang.

Andi bercerita, bagan seharga tujuh juta rupiah itu didirikannya sejak setengah tahun lalu saat angin Baratan datang. Bagan itulah tumpuannya mencari penghidupan bagi istri dan empat anaknya. Bila angin besar datang, bagannya mungkin tersaput badai. ”Makanya, harus nabung pas kebetulan dapat tangkapan banyak biar bisa bikin bagan kalau tiba-tiba hilang,” ujar pria Bugis ini.

Di bagannya, Andi kerap menangkap beseng, ikan kecil yang jamak dipakai campuran pakan bebek. Satu peti berisi 20 kilogram beseng hanya akan ditebus tengkulak dengan Rp 25 ribu rupiah. ”Kalau belanak harganya lebih tinggi, perkilonya bisa dihargai Rp 3.000 sampai Rp 4.000 tergantung musim,” jelasnya sembari mengingat-ingat.

Padahal, di pasar ikan Kramatjati, Jakarta, harga satu kilogram belanak mencapai Rp 20 ribu. Harga yang tak pernah dikecap Andi dan nelayan lainnya karena rantai panjang distribusi produk perikanan ke pelanggan. ”Ikan beseng juga kalau di petani bebeknya harganya bisa tiga empat kali lebih mahal,” lirihnya.

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), M. Riza Damanik mencatat, rata-rata nelayan hanya memperoleh 20 sampai 26 persen dari harga produk perikanan yang sampai ke konsumen. ”Sisanya terbagi ke tengkulak, perusahaan pengangkutan, dan distributor pengecer,” terangnya.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, menurut Riza harus memperhatikan dengans serius soal kesejahteraan nelayan. Sekitar seperempat dari total nelayan Indonesia yang tercatat di 2003 telah beralih pekerjaan dan kini hanya menyisakan 2,8 juta lainnya. ”Nilai tukar nelayan kini cuma 0,92 poin,” kutipnya dari penelitian yang dilakukan Bank Indonesia.

Riza menjelaskan, artinya dari satu juta rupiah modal yang dikeluarkan nelayan untuk menangkap ikan, mereka hanya mengumpulkan pendapatan Rp 920 ribu. Dengan kata lain, para nelayan merugi selepas melaut. ”Cara mereka agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, para wanitanya bekerja atau mereka mencari pinjaman untuk menambah alat tangkap,” urainya.

Mendapatkan pinjaman pun bukan perkara mudah bagi para nelayan. Riza berkata, bunga pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) Indonesia tinggi dibanding Cina atau Malaysia, yang memberi kredit bagi nelayan berbunga lima persen. Belum lagi prosedur mendapatkan kredit nan panjang dan berliku yang menyulitkan. ”Anehnya, soal KUR ini tidak dituntaskan pemerintah di 100 hari pertama pemerintahan,” perangahnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad mengakui perbankan masih belum melirik sektor perikanan dalam memberikan kredit karena menganggapnya berisiko tinggi. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, para menteri terkait mengatakan akan mengubah mekanisme pemberian pinjaman bagi pelaku di bidang ini.”Sistem pemberian KUR sedang kita benahi untuk ke depannya,” janjinya tanpa menyebut tenggat waktu.

Menanggapi janji Pak Menteri, Andi hanya tersipu. Sejujurnya, dia mengatakan, ingin mencari pinjaman agar bisa membeli kapal motor yang harganya sekitar Rp 20 juta. Bila memang akan ada program pinjaman berbunga rendah, dia amat menyambutnya. ”Tapi, sejak umur 20-an saya jadi nelayan juga nggak pernah ada bantuan atau pinjaman apa-apa dari pemerintah,” lirihnya.

Menjadi nelayan, bagi Andi identik dengan ketidakpastian. Di musim angin Baratan tengah bertiup seperti sekarang, tangkapan seret dan tak mustahil ia pulang dengan jaring kosong. Dia berbahagia bila angin Timuran yang datang. Saat itu, masanya panen besar, dia bahkan pernah menangguk ikan senilai satu juta rupiah dalam semalam. ”Sekarang saya memang menunggu angin Timuran datang, waktu itu ikannya banyak,” katanya bersemangat.

Akhirnya, Andi memilih berharap angin Timuran-lah yang mampu memberinya kesempatan melapangkan rezeki. Dia tak menumpu keinginannya di bahu pemerintah yang punya sederet program peningkatan kesejahteraan nelayan namun realisasinya mengambang. Doanya, semoga sang angin tahun ini akan menggiring banyak ikan ke bagannya. ”Nanti kalau Timuran sudah datang, bakalan banyak yang bikin bagan baru di sana,” ujarnya sambil berseri seraya mengedikkan dagu, memberi isyarat ke arah lepas pantai Cilincing.

akhirnya, ilham bisa keluar dari sana

===repost dari catatan FB saya, dipublish 31 Desember 2009===

ijinkan saya menceritakan sel penjara di lapas anak kutoarjo. ruangnya berukuran empat kali enam meter dengan ketinggian plafon tiga setengah meter. berjendela satu dengan jeruji seukuran jari telunjuk orang dewasa. di malam hari dijejali duapuluhan manusia.

interiornya sangat sederhana, hanya serupa plat beton dingin dengan ketinggian hampir semeter dari tanah. di pojok ruangan ada fasilitas mck, semacam wc terbuka tanpa pintu dengan penyekat dinding sebatas pinggang saja. tak ada lemari, meja, pun kursi.

kalau keluarga si narapidana anak cukup peduli, bolehlah mereka tidur beralas kasur. juga punya sabun harum untuk mandi. atau beli autan untuk menolak nyamuk. lagi ada lauk untuk tambah-tambah gizi. serta salep untuk obati gatal-gatal. bagi yang tak cukup dapat peduli, semua cuma andai saja.

di lapas anak pria tangerang, kondisinya sedikit lebih baik. ada ranjang tempat bisa tidur nyenyak. ada ruang komputer tempat bisa bikin akun facebook. ada sekolah tempat bisa dapat ijazah. ada bengkel tempat bisa belajar bongkar motor. ada klinik tempat bisa minta obat. ada wartel tempat bisa telpon ibu.

tapi cadongnya, bongsengnya, isolasinya, sama saja.

di lapas tangerang inilah saya bertemu anak yang terpaut hati ini padanya sejak awal. namanya ilham, lengkapnya ilham muhamad yadin. saat pertama berjumpa dua tahun lalu, umurnya baru sembilan tahun. masih sekecil itu dan sudah harus hidup di penjara sampai 2013.

ilham asalnya pengamen di serpong, merantau dia ke jawa dari lampung. dia sampai di lapas karena tertangkap mencuri motor, diperalat preman senior. aturannya, hanya anak di atas 12 tahun yang bisa kena pidana. ilham cerita, dia disuruh polisi mengaku berumur lebih tua agar bisa dijerat hukum.

sejak saat itulah kehidupan ilham di penjara bermula. bangun saat keong dibuka jam enam. makan, apel, sekolah, makan, apel, kursus, makan, apel. keong ditutup lagi jam lima sore. karenanya, sudah tiga tahun terakhir ilham tidak pernah berjumpa bintang maupun purnama.

jadi yang terkecil di lapas, ilham jelas sasaran empuk senior-seniornya. apalagi narapidana buntut lima yang terkenal sangar atau yang terjerat kasus pembunuhan. di penjara, ilham masuk kasta pencuri yang derajatnya kedua dari bawah, hanya lebih tinggi dari pencabul.

bisa dibilang, kasus ini salah satu pendorong saya hijrah jadi wartawan. saya ingin memberitakan temuan ini. harapan saya, keadilan datang untuknya dan ilham bisa tinggal di tempat yang lebih layak. pernah saya mengusulkan cerita ini untuk diliput. ficer sudah jadi dan dibungkus di newsroom. entah apa alasannya, tak pernah naik cetak.

akhirnya, terbit harapan baru bagi ilham. departemen sosial membuat kesepakatan dengan departemen hukum dan ham agar anak di bawah umur yang melakukan pidana dikembalikan ke keluarga atau dibina di panti, bukan lapas. si pak dirjen bilang, sekitar pertengahan januari ilham akan ‘bebas’ dari lapas.

saya ingin menulis catatan kali ini dengan lebih santai. tanpa harus terganggu aturan kapitalisasi, cetak miring atau eyd. tanpa rungsing menyoal diksi dan glosarium. kali ini, abaikan hal itu semua karena saya sedang bahagia. akhirnya ilham bisa keluar dari sana. :D

keterangan:

  1. cadong: nasi penjara, biasanya keras seperti kurang air
  2. bongseng: bahasa slang atau sandi penjara, supaya tidak diketahui petugas
  3. isolasi: sel hukuman, berukuran sempit, tanpa jendela dan penerangan
  4. keong: istilah untuk sel atau kamar

Statistik Blog

  • 32,822 hit
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.