Slumdog Millionaire

•Februari 23, 2009 • & Komentar

Ya, ya, ya… Mungkin akhirnya tulisan saya ini hanya akan menambah panjang daftar resensi yang memuja film ini setinggi langit. Bahkan Leila S. Chudori yang terkenal dengan kritiknya yang nylekit di rubrik FILM Majalah Tempo pun memberi kredit positif untuk film ini.

Ini film tentang kemiskinan yang telanjang. Tidak ada yang diungkapkan dengan samar, takut atau malu-malu. Semua serba jelas: potret nyata dari sebuah wilayah terkumuh di India. Anak-anak yang bermain di runway karena tidak ada tempat bermain yang lain, kakus semi terbuka yang jauh dari kata sanitasi yang baik, perkampungan padat penduduk yang sungguh kumuh, perdagangan manusia, hingga kekerasan pada anak-anak.

Adalah Danny Boyle, sutradara yang meramu semua realita tadi dengan baik dalam fragmen-fragmen hidup Jamal Malik: office boy yang berusaha mengubah hidupnya dengan menjadi kontestan kuis Who Wants to Be A Millionaire. Bukan demi hadiah uang yang menggiurkan, namun agar Latika sang pujaan hati menonton dan datang mencarinya. Penonton dibuat penasaran bagaimana caranya seorang office boy mampu melakukan hal tersebut walau ternyata alasan mengapa Jamal bisa menjawab semua pertanyaan itu sederhana saja: semua sudah ditakdirkan.

Formula Boyle mengantarkan kita pada pertanyaan-pertanyaan tadi sebenarnya agak membosankan. Sebelum atau sesudah pertanyaan dilontarkan Prem Kumar si pembawa acara ibarat ada tombol rewind yang membawa kita ke fragmen kehidupan Jamal yang kebetulan berhubungan langsung dengan jawaban pertanyaan kuis. Namun, cara Boyle membawakannya membuat kita bahkan masih bisa tersenyum getir saat terenyuh menyaksikan kemalangan demi kemalangan Jamal.

Misalnya saat si kecil Jamal yang tengah pup di kakus mendengar bahwa Amitabh Bhacan sang artis pujaan baru saja mendarat di airport dekat perkampungan kumuh tempatnya tinggal. Sayang, pintu kakus telah dikunci Salim, kakak Jamal yang kesal padanya. Satu-satunya jalan keluar dari kakus hanyalah dengan terjun ke lubang kakus, dengan kata lain terjun ke kubangan kotoran manusia. Dengan tangan teracung agar foto Amitabh yang selalu dibawanya ke mana-mana tidak ikut menjadi kotor, Jamal terjun dengan gagah berani ke kubangan kotoran itu. Akhir cerita, justru hanya Jamal yang berhasil menerobos kerumunan penggemar dan mendapat tanda tangan Amitabh karena orang-orang tidak tahan mencium Jamal yang sungguh “wangi”.

Slumdog Millionaire tak hanya mumpuni saat memotret soal jurang menganga antara si kaya dan si miskin. Film ini juga menyajikan konflik antar agama yang demikian runcing di India, khususnya di Mumbai, yang membuat Jamal kecil dan Salim kecil kehilangan ibu mereka. Sudah menjadi sebuah kelaziman di Mumbai saat seorang penduduk dewasa memiliki KTP sebagai Muslim sekaligus KTP sebagai Hindu untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diduga dari kelompok-kelompok ekstremis.

Ini memang film India ala Barat. Melodramatik namun efektif. Selama dua jam durasinya, saya sulit menemukan saat-saat untuk mulai mengantuk –hal ini sering mendera saya saat menonton film dengan durasi lebih dari satu setengah jam– karena alur yang padat konflik dan klimaks-klimaks mini di masing-masing fragmen. Adegan menari khas film India hanya akan ditemukan di akhir cerita dan menutup film ini dengan baik: saat Jamal akhirnya bertemu Latika, cinta sejatinya. Adegan menari secara kolosal ini membuat saya semakin yakin kalau semua orang India jago menari. Hehe…

Mari memberi aplaus untuk film ini dan deretan piala penghargaan yang diraihnya. Lima Golden Globe dan delapan Oscar adalah jawaban dunia atas kualitas Slumdog Millionaire. Salut!

Mimpi Tak Tahu Diri

•Februari 7, 2009 • & Komentar

Bukannya skeptis, tapi tindakan PSSI mengajukan proposal ke FIFA agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 (Koran Tempo, 5 Februari 2009) lebih cocok disebut tidak tahu diri. Tidak usahlah berbicara soal kesiapan infrastruktur alias venue penyelenggaraan kegiatan, tengok dulu kiprah tim nasional kita di Piala Dunia. Jangankan lolos kualifikasi ke putaran final Piala Dunia nan gemerlap, gegap dan gempita itu; di tingkat ASEAN saja sudah bertahun-tahun Indonesia kesulitan untuk menghadapi Thailand yang selalu jadi pemuncak. Padahal, timnas Thailand belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.

Menjadi tuan rumah berarti otomatis mendapat satu tiket ke putaran final. Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Satu kesempatan, dua sejarah tercipta: pertama kali tampil di putaran final sekaligus pertama kalinya menjadi tuan rumah Piala Dunia. Timnas Indonesia tidak usah bersusah payah berpeluh darah “membunuhi musuh” yang selama ini selalu mengganjal di kualifikasi. Tinggal menunggu Spanyol, Brazil, Kamerun, Meksiko, atau Irak datang di Gelora Bung Karno.Terlalu cari gampang.

Rangking FIFA timnas Indonesia selalu lebih besar dari angka 50, malah selama lima tahun terakhir anteng berada di kisaran peringkat 90-an sampai di luar 100 besar. Selama lima tahun terakhir pula tidak ada prestasi membanggan dari timnas senior kita. Belum ada juga pemain Indonesia yang mampu bermain di liga kelas dunia. Kurniawan cuma sampai primaveranya Sampdoria, di FC Luzern Kurniawan juga tak banyak bicara. Karir Eropa Bambang Pamungkas hanya mentok di klub amatir di Negeri Belanda, EHC Norad. Beberapa pemain terbaik dari negeri ini malah akhirnya bermain di liga jiran yang lebih rendah level kompetisinya, demi mengejar setoran sebelum pensiun tiba. Prestasi juara liga nasional di kompetisi antarklub regional macam Piala Champions Asia atau Piala Winner Asia juga tak pernah sampai di tahta puncak.

Dari segi venue, hanya Gelora Bung Karno yang cukup layak disejajarkan dengan stadion kelas dunia lainnya dari segi fasilitas teknis walau sebenarnya desain GBK sudah sangat ketinggalan jaman karena didesain untuk Asian Games 1962. Era 60-an sih GBK sejajar sama Maracana. Sekarang? Totally out of date. Tanggung jawab pembinaan sepakbola (dan semua cabang olahraga sebenarnya) pun carut marut, dilempar-lempar antara pemerintah daerah-PSSI-pemerintah pusat dalam hal ini Kemenpora. Ribet! Hal ini menandakan kalau pemerintah belum serius mengelola hal yang satu ini.

Ya, PSSI bisa bilang kalau masih banyak waktu untuk bersiap sampai waktunya tiba. Tapi, semuanya baru mungkin kalau pembinaan sepakbola Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Juga kalau PSSI sudah memiliki pembinaan kelompok umur yang terprogram, kompetisi yang sehat, dan manajemen organisasi yang baik. Juga kalau pemerintah Indonesia sudah melihat olahraga sebagai bagian tak terpisahkan dari pembentukan karakter bangsa. Juga kalau saja masyarakat Indonesia sudah cukup beradab dan siap menjadi tuan rumah perhelatan tingkat dunia. Saya membuka mata, lantas melihat realita. Entah harus skeptis atau justru malu.

Tagged! (juga)

•Februari 7, 2009 • & Komentar

Tagged! Jarang2 sebenernya dapet yang beginian.. mari bermain.. hohoho..

Okay, here’s the rule : Use Google Image to search the answers to the questions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people.
::the age of next birthday::

iya,, udah dua-tiga aja taun ini.. inget umur,, sal..

::place i’d like to travel::

Bukan Roma, bukan Firenze, bukan Venesia. Adalah Fez, Maroko tempat yang sangat ingin saya kunjungi. Ini gara2 pas baca Sang Alkemis terus kerasanya seru banget keadaan di sana. Tanahnya yang berkontur, menanjak berbukit-bukit.. Bangunan sisa peninggalan dinasti Abbasiyah (ato Seljuk ya? lupa..) yang sudah beratus tahun menguarkan ambians nan eksotis. Pengeeen..

::a favourite place(s)::

Yak,, betul sekali.. Museum Geologi adalah tempat saya bisa ngadem dan merenung agar bisa berpikir jernih. Mestinya saya dapet plakat ato suvenir saking seringnya saya dateng ke sana.

buat yang satu ini saya mirip sama adis.. waktu masih kecil saya cuma tau satu tempat kalo diajak orang tua saya jalan-jalan: toko buku.

::a favourite food(s):: 

Yang ini juga sama ama adis. Apapun, asal coklat. Susu yang saya alergiin juga jadi gak bikin alergi kalo itu susu coklat.

Sebenernya lebih tepat kalo segala perkambingan saya suka, tapi yang paling mangtabs ya gule kambing

Makanan Jepang , tapi yang udah mateng. Sushi sih enggak doyan saya.

::a favourite thing:: 

Entah anak2 tergolong ‘thing’ atau bukan. Yang pasti, saya suka anak2, berapapun umurnya. Yang lebih penting, saya suka anak2 orang lain alias saya gak berpikir untuk segera punya anak sendiri. Repot banget. Belum cukup ilmu juga…

::nickname i had::

Hehe,, ada juga nama ini di web. Sebenarnya ini bukan nickname,lebih tepat kalo dibilang pelafalan yang tepat dari nama saya.

::a favourite color(s):: 


Dulu sih suka warna biru, tapi seiring dengan bertambahnya usia.. halah.. sekarang jadi lebih sophisticated.. Marun, abu2 dan khaki.


::college major::

Arsitektur. Sedikit banyak salah jurusan sebenarnya. Tapi, witing tresno jalaran soko kulino.. haha..

::a hobby:: 

Ayah saya menjadikan saya kelinci percobaan teori Glan Doman (bener gak sih nulisnya?) dan menjadikan saya penggila buku sejak usia 3 tahun. Walaupun sekarang gak segila dulu, tapi membaca buku masih menjadi hobi saya yang utama.

::a bad habit:: 


Silakan menghubungi saya sebelum jam 10 pagi, dijamin anda akan mendapati saya bersuara bantal dan belum nyambung. Sejak kuliah irama hidup saja jadi terbalik.. pendek kata: manusia nokturnal.

::my wish list:: 


Jadi orang yang lebih baik lagi dan bikin sebanyak mungkin orang di dunia jadi tersenyum..

Semoga akhirnya bisa mengerjakan hal yang saya inginkan: jadi jurnalis.

Ya kiraa2 begitulah.. nah, korban selanjutnya adalah:

1. Uva

2. Qisthi

3. Ardi

4. Santo

5. Deri

6. Sandi

7. Dhian

Jangan lupa lapor kalo peernya udah..hehe..

Pemain Bola Favorit Saya

•Januari 14, 2009 • & Komentar

Di tengah jibaku saya melawan makhluk bernama TA (nanti bakal ada postingan khusus tentang makhluk dua huruf ini), musik jadi penolong yang sangat membantu saya mempertahankan mood kerja. Berhubung saya malas membuat playlist, maka jurus yang saya lakukan adalah memasukkan semua lagu yang ada di hard drive laptop saya, menekan shuffle, baru memainkan playlist yang ada. Alhasil, playlist yang terbentuk jadi sangat gado-gado. Setelah lagu Foo Fighter lalu berikutnya langsung lagu Incognito. Hahaha… Parah memang. Apa boleh buat, saya memang malas untuk hal yang satu ini.

Satu kali, urutan playlist membawa saya pada lagu Keep On Moving dari Five. Biasa saja memang, bukan sekali itu saya mendengarkan lagu Five yang ini. Hanya saja, baru kali itu saya memperhatikan kata-kata yang menjadi background di lagu tersebut. Ternyata eh ternyata, suara yang menjadi background lagu itu adalah cuplikan narasi komentator dari partai-partai Road to World Cup 2002-nya Inggris. Kalimat yang membuat saya sadar bahwa itu adalah narasi komentator adalah pada cuplikan partai Inggris-Yunani dimana Teddy Sheringham mencetak gol dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada partai tersebut.

Edward Paul Sheringham atau Teddy Sheringham. Lahir di Highams Park, 2 April 1966. Tinggi badan 191 cm. Karir dimulai di Nottingham Forest hingga akhirnya mencapai puncak karirnya di Manchester United saat meraih treble winner di tahun 1999. Sebelum direkrut MU, Sheringham pernah menjadi andalan Tottenham Hotspur dan mencetak prestasi sebagai top scorer Premier League pada musim kompetisi 1995/1996. Sheringham juga menjadi pemain terbaik Premier League versi wartawan pada tahun 2000.

Banyak harapan yang disandarkan padanya agar ia bisa menggantikan Eric Cantona yang gantung sepatu sebelum Sheringham bergabung dengan MU di musim 1997/1998. Musim pertamanya di MU, Sheringham nihil gelar. Banyak yang menilai pembelian Sheringham adalah pembelian Alex Ferguson (waktu itu belum mendapat gelar Sir) yang gagal, Sheringham adalah penyerang yang terlalu tua untuk mengimbangi agilitas lini tengah MU yang luar biasa: David Beckham-Paul Scholes-Roy Keane-Ryan Giggs. Musim berikutnya, dua penyerang baru masuk: Dwight Yorke dan Andy Cole. Prestasi MU membaik dan mampu memposisikan diri di jalur prestasi musim 1998/1999.

Alex Ferguson memang pelatih yang cerdas. Bersama Ole Gunnar Solksjaer, Sheringham memang jarang masuk starting eleven namun Ferguson selalu menyimpan kedua super-subtitute ini di bench pemain cadangan. Saat serangan buntu dan tidak berhasil menembus pertahanan lawan, Yorke atau Cole dibuat masuk kotak dan Sang Super-Sub menjalankan tugasnya.

Contoh paling fenomenal tentu saja pada partai final Liga Champion, 26 Mei 1999 saat di menit-menit injury time justru Sheringham dan Solksjaer yang mencetak gol pembalik kedudukan atas Bayern Muenchen di Camp Nou, Barcelona. Oliver Kahn hanya bisa termangu menyaksikan kemenangan yang hanya berjarak empat menit dari matanya tiba-tiba pupus oleh gol Sheringham yang masuk di tiang jauh gawang. Tragis. Walau demikian, tidak selamanya Sheringham jadi pemain pengganti. Pada partai final Piala FA 1999, Sheringham lah yang mencetak gol pertama di menit ke-11 dan memberikan assist untuk gol kedua MU di partai tersebut.

Lepas dari MU di tahun 2001, Sheringham kembali ke Hotspur. Walau sudah berusia lebih dari 35 tahun, Sheringham masih menjadi penyerang utama Hotspur dan sempat mengantarkan Hotspur ke final Piala FA 2002. Sempat berperforma lumayan selama partai-partai kualifikasi, Sven Goran Erikson membawa Sheringham ke Korea-Jepang dan menjadi penyerang tertua kedua di World Cup 2002. Setelah Hotspur, Portsmouth dan West Ham sempat menjadi persinggahan Sheringham. Sepanjang karirnya, lebih dari 300 gol pernah diciptakan Sheringham.

Sheringham memang bukan pemain bola serba lengkap dengan skill edan yang digilai banyak orang macam Christiano Ronaldo atau Diego Maradona. Sheringham juga bukan pemain dengan wajah tampan yang digilai banyak wanita macam Beckham atau Kaka. Sheringham juga bukan pemain fenomenal yang langganan menciptakan rekor macam Ronaldo atau Ronaldinho. Namun Sheringham adalah pemain yang tahu apa yang harus dikerjakannya dalam posisi dan porsi yang diberikan oleh pelatih, sekecil apapun itu. Sesuatu yang makin jarang ditemukan dalam sikap pemain bola saat ini. Itulah mengapa saya demikian mengidolakannya.

Ibu saya sering geleng-geleng kepala melihat putri kecilnya yang masih SD mengumpulkan potongan-potongan berita tentang Teddy Sheringham dari koran dan mengklipingnya dengan rapi. Ibu saya juga sering tidak habis pikir mengapa saya yang anak perempuan justru menjadi satu-satunya mata yang melek di depan tv pada dini hari sementara adik saya yang laki-laki justru nyenyak tertidur. Hahaha..

KM ITB: Sebuah Catatan Akhir Tahun 2008

•Desember 22, 2008 • & Komentar

Seorang senator sepuh di himpunan saya tiga tahun lalu pernah berkata begini,

KM ITB dan student goverment yang lain didirikan dengan cita-cita tinggi. Mengajari pemerintah saat itu tentang bagaimana seharusnya sebuah pemerintahan idealnya dijalankan. Pilih presiden itu harusnya one man one vote. Kita yang ajari mereka!

Sebelas tahun KM ITB berdiri, apakah cita-cita luhur itu saat ini kita miliki bersama? Nyatanya, boro-boro mengajari pemerintah beneran. Mengurusi diri sendiri pun dilakukan KM ITB dengan tertatih-tatih.

KM ITB selalu dijangkiti isu lama soal golongan dan hegemoni kelompok tertentu. Saling sikut, saling hujat, saling fitnah, bahkan dengan menggunakan cara-cara kotor. Nyata sekali isu ini mencuat saat suksesi KM ITB berlangsung alias saat Pemilu KM ITB. Gawatnya, Suksesi KM ITB 2009 akan berlangsung di pekan yang sama dengan Pemilu 2009. Entah akan selabil apa kondisi KM ITB saat itu.

Selain soal golongan dan kelompok, ada juga isu yang tak kalah klise soal kebutuhan konstituen akan kemahasiswaan terpusat. Bukti nyata soal yang satu ini terlihat saat tidak semua lembaga yang notabene adalah basis KM ITB berkontribusi mengirimkan senator ke Kongres. Alasannya macam2 mulai dari tidak ada sumber daya, perbedaan pandangan soal kemahasiswaan terpusat, hingga kondisi lembaganya yang belum menyepakati sistem kemahasiswaan yang ada sekarang. Sudah sebelas tahun gituh… masih belum bisa sepakat juga?

Sebelas tahun berdiri, mestinya KM ITB tidak sekadar bergerak menuju kemapanan tetapi sudah menapaki jalan ke arah itu. Masih segar di ingatan saat bulan lalu Kongres lantang teriak-teriak kalau mereka tak mampu melakukan tugasnya karena kuorum senator selalu tak memenuhi aturan yang mereka buat sendiri. Beberapa senator malah hattrick tidak masuk sidang penilaian laporan tengah tahun Kabinet. Teguran melayang. Akademis, prioritas, fokus di tempat lain jadi pembenaran mengenai alasan tidak datang sidang paripurna dan mangkir dari amanat yang sudah diemban.

Dua minggu lalu, muncul Memorandum I dari Kongres untuk Kabinet. Salah satu penyebabnya karena Kabinet dalam setengah tahun kinerjanya tidak mampu mencapai parameter performa minimal yaitu indeks prestasi sebesar 2,00. Ada sedikit cerita soal ini. Teman saya, seorang kepala sekolah, berkata seperti ini pada suatu hari,

Beuh, menteri (Kabinet KM ITB) jaman sekarang mah gaya… pas tadi si Ibu Negara lagi bareng saya, terus si ibu nelpon nanyain dia lagi ada di mana, katanya lagi di Shooter. Akhirnya mereka ketemuannya di Shooter itu. Tempet maen bilyar kan Shooter tuh?

Saya langsung membayangkan SBY sedang menghubungi Sri Mulyani untuk urusan negara dan ternyata Sri Mulyani lagi arisan. Akhirnya SBY rapat di tempat Sri Mulyani arisan. Ya, tidak salah juga kalo seorang menteri mau main bilyar atau arisan. Toh, tidak melanggar hukum juga. Hanya saja, konon si menteri yang waktu itu lagi main bilyar pas ditelpon Ibu Negara ternyata menjadi menteri berperforma paling buruk di Kabinet KM ITB 2008/2009 dengan indeks prestasi dibawah 1,00. Jika dirunut, tiga Kabinet terakhir selalu mendapat memorandum dari Kongres. Jelas bukan sebuah pertanda baik.

Isu golongan dan kelompok, disintegrasi, kapasitas dan kapabilitas, kok terdengar mirip dengan Indonesia sekarang ya? Well, silakan mengucapkan selamat pada diri kita sendiri. Cita-cita kita sudah tercapai. Student government yang kita dirikan sudah serupa dengan pemerintahan Indonesia yang berlangsung sekarang. Dalam sebuah obrol2 singkat dengan seorang teman di angkot sekitar sebulan sebelum Pemilu Raya KM ITB 2008 ada sebuah wacana menarik yang ia lontarkan: Lokakarya Kemahasiswaan II, sepahami dulu sistem yang akan dijalankan barulah sungguh-sungguh dilaksanakan bersama. Pertanyaannya sekarang, mau?

Barangkali sebuah bangsa memang harus selalu menyediakan sebuah ruang kosong untuk sebuah cita-cita. Seperti kita memandang ke kaki langit yang sebenarnya tak berwujud tapi ingin kita jelang.

(Goenawan Mohamad)