Ya, ya, ya… Mungkin akhirnya tulisan saya ini hanya akan menambah panjang daftar resensi yang memuja film ini setinggi langit. Bahkan Leila S. Chudori yang terkenal dengan kritiknya yang nylekit di rubrik FILM Majalah Tempo pun memberi kredit positif untuk film ini.
Ini film tentang kemiskinan yang telanjang. Tidak ada yang diungkapkan dengan samar, takut atau malu-malu. Semua serba jelas: potret nyata dari sebuah wilayah terkumuh di India. Anak-anak yang bermain di runway karena tidak ada tempat bermain yang lain, kakus semi terbuka yang jauh dari kata sanitasi yang baik, perkampungan padat penduduk yang sungguh kumuh, perdagangan manusia, hingga kekerasan pada anak-anak.
Adalah Danny Boyle, sutradara yang meramu semua realita tadi dengan baik dalam fragmen-fragmen hidup Jamal Malik: office boy yang berusaha mengubah hidupnya dengan menjadi kontestan kuis Who Wants to Be A Millionaire. Bukan demi hadiah uang yang menggiurkan, namun agar Latika sang pujaan hati menonton dan datang mencarinya. Penonton dibuat penasaran bagaimana caranya seorang office boy mampu melakukan hal tersebut walau ternyata alasan mengapa Jamal bisa menjawab semua pertanyaan itu sederhana saja: semua sudah ditakdirkan.
Formula Boyle mengantarkan kita pada pertanyaan-pertanyaan tadi sebenarnya agak membosankan. Sebelum atau sesudah pertanyaan dilontarkan Prem Kumar si pembawa acara ibarat ada tombol rewind yang membawa kita ke fragmen kehidupan Jamal yang kebetulan berhubungan langsung dengan jawaban pertanyaan kuis. Namun, cara Boyle membawakannya membuat kita bahkan masih bisa tersenyum getir saat terenyuh menyaksikan kemalangan demi kemalangan Jamal.
Misalnya saat si kecil Jamal yang tengah pup di kakus mendengar bahwa Amitabh Bhacan sang artis pujaan baru saja mendarat di airport dekat perkampungan kumuh tempatnya tinggal. Sayang, pintu kakus telah dikunci Salim, kakak Jamal yang kesal padanya. Satu-satunya jalan keluar dari kakus hanyalah dengan terjun ke lubang kakus, dengan kata lain terjun ke kubangan kotoran manusia. Dengan tangan teracung agar foto Amitabh yang selalu dibawanya ke mana-mana tidak ikut menjadi kotor, Jamal terjun dengan gagah berani ke kubangan kotoran itu. Akhir cerita, justru hanya Jamal yang berhasil menerobos kerumunan penggemar dan mendapat tanda tangan Amitabh karena orang-orang tidak tahan mencium Jamal yang sungguh “wangi”.
Slumdog Millionaire tak hanya mumpuni saat memotret soal jurang menganga antara si kaya dan si miskin. Film ini juga menyajikan konflik antar agama yang demikian runcing di India, khususnya di Mumbai, yang membuat Jamal kecil dan Salim kecil kehilangan ibu mereka. Sudah menjadi sebuah kelaziman di Mumbai saat seorang penduduk dewasa memiliki KTP sebagai Muslim sekaligus KTP sebagai Hindu untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diduga dari kelompok-kelompok ekstremis.
Ini memang film India ala Barat. Melodramatik namun efektif. Selama dua jam durasinya, saya sulit menemukan saat-saat untuk mulai mengantuk –hal ini sering mendera saya saat menonton film dengan durasi lebih dari satu setengah jam– karena alur yang padat konflik dan klimaks-klimaks mini di masing-masing fragmen. Adegan menari khas film India hanya akan ditemukan di akhir cerita dan menutup film ini dengan baik: saat Jamal akhirnya bertemu Latika, cinta sejatinya. Adegan menari secara kolosal ini membuat saya semakin yakin kalau semua orang India jago menari. Hehe…
Mari memberi aplaus untuk film ini dan deretan piala penghargaan yang diraihnya. Lima Golden Globe dan delapan Oscar adalah jawaban dunia atas kualitas Slumdog Millionaire. Salut!


















Komentar Terbaru