Bandung Indah Plaza: Ikon Bandung yang Terjebak Perubahan Jaman
Oktober 14, 2007
Pohon-pohon palem, teras kaskade, serta pagar dengan railing horizontal adalah pemandangan baru yang Anda jumpai di Bandung Indah Plaza (BIP) dalam setahun terakhir ini. Bagian entrance-nya juga ikut direnovasi dengan menambahkan pintu kaca otomatis. Perubahan lainnya yang dapat dijumpai adalah dihilangkannya lift kapsul yang dahulu terletak di tengah bangunan. Sebagai gantinya eskalator diperbanyak walau harus mengurangi kualitas ruang atrium karena ada eskalator yang malang melintang di atasnya.
Sederet perubahan di atas –seperti dihidupkannya segmen muka sepanjang Jalan Merdeka dan atrium yang berubah suasana ruangnya– bukan tanpa perhitungan pihak pengelola dan pengembang. BIP memang tengah mempercantik diri. Dengan mengusung jargon baru “The Revolution of Shop, Dine, and Play” pihak pengelola memang melakukan revolusi pada berbagai elemen BIP. BIP nampaknya berusaha meninggalkan citra pusat perbelanjaan konvensional dan ingin menunjukkan citranya yang baru sebagai lifestyle center.
Pusat Perbelanjaan Konvensional vs Lifestyle Center
Sebelum tahun 2000, masyarakat Bandung hanya mengenal dua pusat perbelanjaan di kota ini yaitu Kings Shopping Center dan BIP. Tidak ada literatur resmi yang merujuk waktu tahun pendirian kedua pusat perbelanjaan tersebut. Barulah di awal abad ke-21 muncul beberapa pusat perbelanjaan seperti Bandung Supermal, Mollis, dan Istana Plaza. Kesemua pusat perbelanjaan tersebut memiliki kesamaan ciri fisik yaitu memiliki massa bangunan yang besar alias raksasa (bulky mass).
Selain bangunan raksasa, beberapa pusat perbelanjaan di atas juga memiliki kesamaan berupa adanya atrium atau serambi besar di tengah bangunan. Keberadaan atrium ini memungkinkan pengunjung di lantai-lantai atas melihat kegiatan yang sedang berlangsung di lantai terbawah. Desain pusat-pusat perbelanjaan tadi juga dibuat sangat efisien dengan mengoptimalkan sebanyak mungkin ruang untuk disewakan. Untuk menarik pengunjung, masing-masing pusat perbelanjaan tadi melengkapi gerainya dengan kehadiran department store sebagai mega anchor tenant.
Pada tahun 2003, masyarakat Bandung dikejutkan dengan kemunculan pusat perbelanjaan baru yaitu Cihampelas Walk (Ciwalk). Dengan mengusung konsep open-air mall, Ciwalk hadir dalam tampilan serba berbeda dari mereka yang sudah terlebih dahulu ada. Pengunjung Ciwalk tidak selalu terkurung dalam bangunan raksasa namun diajak berjalan di udara terbuka dari satu gerai ke gerai yang lain. Aktivitas makan-minum pun tidak sekedar pesan, makan, lalu pulang. Fauzan Noe’man, arsitek Ciwalk, berusaha mengoptimalkan udara Bandung yang nyaman dengan menempatkan gerai makanan-minuman di teras bangunan. Alhasil para pengunjung Ciwalk betah untuk duduk berlama-lama sekadar menyeruput secangkir kopi sambil cuci mata.
Tahun 2006 Paris Van Java (PVJ) hadir dengan konsep setali tiga uang. Bagi Wawa Sulaeman, arsitek PVJ, pusat perbelanjaan yang tertutup cukup berada di lantai-lantai bawah. Andalan dari pusat perbelanjaan ini adalah jajaran kafe semi terbuka dan deretan toko pakaian di sepanjang pedestrian. Di tempat ini -dan di Ciwalk-tidak ada mega anchor tenant yang mendominasi bangunan. PVJ memikat pengunjung lewat mini anchor tenant semacam Blitz atau JCo.
Malachy Kavanagh, juru bicara International Council of Shopping Center (ICSC) menamai pusat perbelanjaan butik semacam Ciwalk dan PVJ sebagai lifestyle center[1]. Lifestyle center berdesain terbuka atau semi terbuka (open-air mall). Segi arsitekturalnya pun diperhatikan dengan memperbanyak ruang-ruang bersama yang dapat digunakan untuk aktivitas sosial pengunjungnya. Konsep pusat perbelanjaan terdahulu dimana bangunannya berukuran raksasa, memiliki atrium, dan tertutup menjadi demikian konvensional di hadapan konsep pusat perbelanjaan butik alias lifestyle center.
Dari sisi ekonomi, lifestyle center memang lebih menguntungkan karena membidik segmen pasar menengah ke atas dan memiliki target yang spesifik yakni kelompok masyarakat berpendapatan tinggi (high disposable income groups), keluarga muda, dan kaum eksekutif.
Konsep lifestyle center terbukti sukses menggaet pengunjung. Victor Gruen di tahun 1960 memprediksikan pusat perbelanjaan yang akan merebut pasar di masa depan adalah yang mampu menyediakan lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan berbelanja dan menawarkan kelebihan pada sisi sosial, rekreasional, dan hiburan[2].
BIP Gaya Baru dan Setumpuk Konsekuensinya
BIP pun segera berbenah dengan melakukan setumpuk renovasi. Secara keseluruhan, proses renovasi berlangsung sejak tahun 2005 dan berakhir tahun 2006. Sayangnya, sulit didapatkan informasi nama arsitek BIP semasa awal pembangunan maupun saat renovasi. Selain merenovasi atrium, renovasi yang mendasar terjadi di entrance Jalan Merdeka dengan membuat kavling-kavling yang berorientasi ke jalan dan menata perkerasan.
Ini BIP gaya baru. BIP gaya baru bukannya tidak menuai pengorbanan yang mahal. Pertunjukan busana di atrium BIP tak seramai dulu lagi karena pengunjung di lantai-lantai atas tidak bisa ikut menikmati acara. Pandangan mereka dari atas kini terhalang eskalator yang malang melintang.
Sudah tidak ada lagi kios-kios bazaar yang menjual kaus kaki dan asesoris murah. Para penjual binatang hias harus tergusur ke seberang jalan. Kesan gentrifikasi semakin terlihat ketika mini anchor tenants pengisi kavling-kavling kafe adalah merk-merk yang menjadi simbol gaya hidup kosmopolitan.
Bagi sebagian besar masyarakat Kota Bandung yang berpenghasilan rata-rata tentu akan merasa asing dengan teras BIP yang sekarang. Terlalu mahal bila harus menjamu tamu dari jauh untuk minum kopi di Starbucks. Akhirnya, sebagian besar pengunjung BIP -yang notabene masyarakat Bandung-hanya akan berjalan sambil lalu tanpa menoleh ke kafe-kafe tadi.
Sebuah kondisi yang ironis. Demi menggaet pasar kelas atas, pihak pengembang dan pengelola menggusur kios-kios bazaar dan penjual binatang hias. Padahal mereka adalah faktor yang mengundang pengunjung untuk mampir dan membentuk suasana ruang publik di sepanjang entrance Jalan Merdeka. Suasana ruang publik yang sebelum renovasi terasa sangat kental kini makin tidak kentara.
Bandung, Mei 2007
[1] Bhatnagar, Parija. 2005. Call it a Lifestyle Center. www.cnnmoney.com. Diakses pada tanggal 19 April 2007
[2] Gruen, Victor. 1960. Shopping Towns USA: The Planning of Shopping Center. New York: Reinhold Publishing Company
Warna Putih dan Bandung Deco (2)
Oktober 14, 2007
Seperti sudah disinggung pada bagian pertama dari tulisan ini, Bandung memiliki kekayaan arsitektur Art Deco yang sangat baik. Menariknya, langgam Art Deco yang berkembang di Bandung terbilang berbeda dengan langgam Art Deco di kota lain. Bandung Deco tidak diwakili dengan bangunan menjulang tinggi dengan aksentuasi di bagian puncak seperti Chrysler atau Empire State Building.
Di Bandung, ketika sebuah bangunan berada di sudut jalan maka bentuk bangunan tersebut tidak sekadar menambahkan ornamen dekorasi di bagian sudut bangunan. Bangunan itu akan ‘menjawab’ dengan (misalnya) melengkung sempurna sehingga tetap terlihat menarik dari berbagai arah. Contohnya adalah kantor LKBN Antara di Braga.
Karakteristik berbeda akan kita temui apabila sebuah bangunan hanya memiliki satu muka alias berada dalam lot kapling yang saling berdempetan dengan kapling lainnya seperti pada Hotel Homann. Perancangnya merespon pergerakan manusia dan kendaraan yang datang dari Batavia atau Buitenzorg di barat yang menuju Priangan Timur sehingga bangunannya melengkung di bagian timur. Bandung Deco adalah respon total terhadap tapak.
Bandung Deco juga memiliki ciri warna putih yang kuat. Semua bangunan memang memiliki fasade dengan warna monokrom, namun putih adalah elemen estetis dominan yang akan anda temukan pada Bandung Deco. Variannya mulai dari bangunan dengan keseluruhan fasadenya bercat putih macam toko Populaire di Braga, putih gading seperti Gedung Merdeka (Eks Societeit Concordia), hingga elemen horizontal menerus pada bangunan Hotel Homann. Walaupun pada umumnya warna putih memiliki kesan formal yang mencolok, Bandung Deco mampu menyajikan warna putih pada bangunan komersil sebagai simbol kebaruan (newness) di calon ibukota Hindia Belanda.
Demikian identiknya Bandung Deco dengan warna putih menyebabkan saya seperti keselek melihat perubahan warna fasade Bank Mandiri Asia-Afrika (Eks Bank Escompto) baru-baru ini. Tidak tanggung-tanggung, kini keseluruhan dinding bangunan ini sudah dilabur warna biru muda dan biru tua. Memang warna biru adalah ikon untuk Bank Mandiri namun tidak untuk Jalan Asia-Afrika maupun untuk Bandung Deco. Apalagi menara bangunan bank ini adalah bagian dari kaca-kaca kulon Kota Bandung, gerbang barat kota yang historis. Gerbang ini dirancang untuk ‘menangkap’ visi pengunjung yang datang ke Kota Bandung dari Batavia, Buitenzorg, dan kota-kota lain di barat Priangan.
Bangunan bank ini dikategorikan oleh Paguyuban Pelestari Budaya Bandung (Bandung Heritage) sebagai bangunan berklasifikasi A yang tidak boleh diubah bentuk maupun fungsi bangunannya. Bandung Heritage kecolongan? Entahlah. Toh Bandung Heritage hanya sebuah gerakan masyarakat yang tidak punya kekuatan, baik politis maupun kapital. Bandung Heritage hanya mampu melakukan pendekatan pada pemilik (operator) dan pada pemerintah (regulator). Pada akhirnya, kondisi ideal pelestarian bangunan bersejarah terjadi saat ada triangulasi yang kuat antara pihak pemilik yang sadar, pihak masyarakat yang peduli dan pihak pemerintah yang bertanggung jawab.
gambar diambil dari situs resmi operator hotel Savoy Homann, bidakara.co.id
Bandung, Lebaran hari kedua
18 derajat celcius, N/A, gerimis
Warna Putih dan Bandung Deco (1)
Oktober 14, 2007

Bagi saya, wisata paling menghibur di Kota Bandung adalah berpelesir di kawasan Bandung’s older downtown. Kawasan ini meliputi daerah stasiun kereta api dan sekitarnya, alun-alun, asia afrika, dan Braga. Sekedar jalan kaki pun cukup, malahan banyak hal yang bisa saya nikmati jika berjalan kaki dibanding saat menggunakan kendaraan. Sambil berjalan kaki, saya bisa sambil icip-icip beberapa hidangan kuliner unik yang hanya ada di Bandung Lama. Misalnya, roti kukus dengan selai srikaya homemade di Toko Purnama, roti dan kue kering di Toko Sumber Hidangan, atau kopi spesial di Toko Aroma.
Bandung Lama memang memikat. Didominasi oleh bangunan komersial dan jasa, kawasan Bandung Lama terserak di sekitar jalan raya pos (die Grote Postweg) yang terbentang dari barat ke timur. Bandung Lama memang belum berusia setua Kota Tua Jakarta, namun berkat pendekatan perancangan yang matang pada masanya telah menjadikan Bandung sebuah kota yang antik pula. Bandung dirancang sebagai ibukota baru bagi Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang tak mampu lagi menanggung beban sebuah ibukota. Bandung pun berbenah menghadapi pemindahan ibukota yang sedianya akan dilakukan tahun 1930-an.
Masterplan Bandung dibuat oleh Thomas Karsten dengan mengadopsi konsep Garden City milik Ebenezer Howard sedangkan bangunan-bangunannya dirancang oleh arsitek-arsitek Belanda ternama macam Albers, Schoemaker, Pont dan Gerber. Sebelum dekade pembangunan besar-besaran ini (1910-1930), hanya ada sedikit bangunan permanen di Bandung. Dalam manuskrip peta Negorij Bandoeng yang memetakan Bandung abad ke-19, hanya ada tujuh bangunan yang terbuat dari batu (staanen bebouwing) termasuk diantaranya masjid agung, rumah patih, rumah bupati, gudang kopi dan rumah pengawas perkebunan kopi.
Saat pembangunan Bandung, langgam Art Deco sedang melanda dunia. Chrysler Building dan Empire State Building adalah dua bangunan monumental yang mewakili langgam ini. Dicirikan dengan dekorasi khusus pada sudut dan puncak bangunan, pasca Perang Dunia I adalah masa kejayaan langgam Art Deco. Bandung tentu tak ketinggalan. Berbagai bangunan yang sedang atau baru dibangun di Bandung ikut mengusung langgam ini.
Beberapa bangunan dibangun dengan ciri Art Deco yang kental. Sebut saja bangunan Bank Jabar (Eks Bank Denis) di Jalan Braga, Hotel Homann dan Preanger di Asia-Afrika, gedung Danareksa di Simpang Lima, dan berpuluh bangunan di sepanjang Braga dan Asia-Afrika. Tak heran kalau Bandung punya prestasi tingkat dunia soal Art Deco. Warga Bandung silahkan menepuk dada, kota kita tercinta ini masuk lima besar kota Art Deco terbaik di dunia yang memiliki keragaman varian bangunan Art Deco yang tinggi.
Apa bedanya arsitektur Art Deco di Bandung dibandingkan yang ada di tempat lain? Lanjutkan ke bagian dua dari tulisan ini!
gambar diambil dari visualtext.nl
Bandung, Lebaran hari kedua
18 derajat celcius, N/A, gerimis



