Dies ke-56 IMA-G ITB
Nopember 15, 2007
Hari ini, himpunan saya Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB genap berusia 56 tahun. IMA-G ITB didirikan tanggal 15 November 1951 dan konon menjadi himpunan mahasiswa jurusan tertua di Indonesia.
Prosesi peringatan ulang tahun atau dies natalis tahun ini berlangsung sederhana. Tidak ada wishes tree, tumpeng, atau tamu dari himpunan lain seperti tahun lalu. Hanya ada kue dan lilin yang ditiupi oleh perwakilan angkatan. Setelah refleksi singkat, saya dan teman-teman menyanyikan himne kami dengan syahdu. Beberapa pipi dialiri air mata…
Saya bukan orang yang merayakan ulang tahun secara khusus. Keluarga saya memang punya tradisi untuk merayakan hari jadi dengan cara kami sendiri, tapi saya bukan orang yang akan mempersiapkan ulang tahun seseorang dengan spesial. Hal yang paling banter saya lakukan untuk memperingati ulang tahun seseorang adalah mengirim ucapan selamat lewat sms, tapi tidak di jam-jam tertentu seperti 00.00 atau 23.59 apalagi di jam lahir yang bersangkutan. Intinya, saya tidak terlalu peduli pada ulang tahun.
Pada dies kali ini saya merasakan hal yang berbeda. Saat masing-masing perwakilan angkatan memberikan kata-kata refleksinya, hati saya yang hampir mati rasa ini tersentuh. Serasa terjadi flash back ke masa-masa bekerja di IMA-G bersama teman-teman. Sampai sekarang, kata-kata penutup refleksi dari seorang mantan ketua himpunan tadi masih terngiang di telinga saya.
“Segala puji bagi Tuhan Maha Esa yang telah mempertemukan saya dengan IMA-G, sebuah keluarga yang tidak akan pernah saya lupakan.”
Vivat-vivat G, IMA-G tetap jaya!!!
***
Sebutir intan nan gemerlap
Mengusik embun yang tidur lelap
Sebutir intan terkait nama nan megah jaya
Gunadharma
Gunadharma cahaya kita
Gunadharma penyangga kita
Untuk namanya Gunadharma
Kami ucapkan salam
(Hymne IMA-G ITB, lirik dan aransemen oleh alm. Harry Roesli)
Negeri di Awan
Nopember 13, 2007
Saban pagi, tetangga kamar kos saya gemar menyetel radio. Yang didengarkannya juga bukan sembarang stasiun radio tetapi programa RRI Pro 2, Jaringan Berita Nasionaaal. Karena oknum teman kosan saya itu doyan beres2 kalo pagi-pagi, sengajalah dia menyetel volume si radio dengan keras sampai-sampai bisa terdengar jelas dari kamar saya sekalipun. Akhirnya, secara tak sengaja saya sering ikut menyimak program siaran pagi RRI.
Topik yang diangkat dalam program siaran pagi yang saya tidak bisa ingat namanya itu bermacam-macam. Harga sembako menjelang Idul Fitri, kemacetan akibat pembangunan jalur bis Transjakarta, hingga yang belakangan ini sering diangkat, kasus dugaan korupsi oleh Laksamana Sukardi. Beragam respon masyarakat muncul atas masalah yang diangkat. Sebagian berusaha jadi (sok) intelek dengan menggunakan istilah-istilah sophisticated untuk mengomentari topik yang diangkat, sebagian kecil klainnya menyatakan ketidak peduliannya atas masalah tersebut dan sebagian besar marah-marah dan meluapkan isi hatinya di ajang ini.
Di sela-sela pergantian sesi program siaran pagi (yang masih belum bisa saya ingat namanya), penyiar program sering memutarkan lagu sebagai selingan. Akan tetapi, kalau saya hitung-hitung, kurang dari duapuluh jenis lagu yang pernah diputarkan si penyiar. Lagu yang paling sering diputar alias jadi top hits adalah single (atau sudah jadi album??) Letto yang teranyar, Sebelum Cahaya.
Selain Sebelum Cahaya, ada satu lagu lagi yang sering diputarkan di program tadi yaitu Negeri di Awan yang dipopulerkan oleh Katon Bagaskara.
…
Kau mainkan untukku
Sebuah lagu
Tentang negeri di awan
Di mana kedamaian
Menjadi istananya
…
Utopia eskapisme. Negeri di awan yang cuma sekedar jadi pelarian yang tidak pernah dipunyai oleh siapapun. Apalagi kalau media yang ada cuma mampu menghadirkan wacana tanpa mampu mencerdaskan pemirsanya untuk menghasilkan solusi.
Belajar Menjadi Arif di Kutoarjo
Nopember 7, 2007
Bukan, bukan menjadi arif tapi Arif. Mari berkenalan dengannya, sebut saja namanya Arif. Ceritanya, libur lebaran lalu saya harus melakukan survei ke LAPAS Anak Kutoarjo dalam rangka pengumpulan data untuk TA saya yang mengangkat kasus LAPAS anak. Saat survei ke LAPAS (penjara) anak inilah saya bertemu dengan Arif.
Dari stasiun Bandung, saya berangkat naik kereta Lodaya. Sejak berangkat, perasaan saya sudah tidak karuan. Excited, deg-degan, penasaran, takut, semua jadi satu. Apalagi saya merencanakan akan melakukan wawancara dengan anak didik (sebutan untuk narapidana anak) di LAPAS nanti. Ketika sampai di LAPAS, bulu kuduk saya sempat merinding. Tatapan-tatapan dari anak didik yang berada di balik terali sungguh menyeramkan bagi saya. Tajam, waspada, dan curiga. Barangkali kehadiran saya sudah mengusik personal bubble space mereka.
Untungnya, keinginan saya untuk melakukan wawancara dengan anak didik ternyata diijinkan oleh petugas LAPAS. Malah, petugas LAPAS menanyakan anak didik dengan pidana apa yang ingin saya wawancarai.
“Mau yang pembunuhan? Yang umurnya berapa?”
Huwaa. Saya langsung ngeper. “Yang kecil aja, pak. Yang paling kecil.”
Tak lama kemudian, petugas lapas mempertemukan saya dengan Arif yang sudah saya perkenalkan di atas. Asalnya dari Purworejo, kota yang sedikit lebih besar dari Kutoarjo yang terletak 20 km di timur. Wajahnya biasa saja, seperti anak kebanyakan. Tatapan matanya teduh, berbeda dari tatapan mata lain yang menyambut saya di awal. Tidak terbayang oleh saya anak semacam dia harus menjalani sebagian hidupnya dalam tahanan. Bicaranya lancar, suaranya tenang. Hanya saja, saat saya tanyakan kasus apa yang menyebabkan dia harus dipenjara, suaranya melirih.
“Di sini betah?” (dalam hati, saya memaki diri sendiri saat mengeluarkan pertanyaan macam itu pada Arif. mana ada orang yang betah di penjara???)
“Ya, sedikit-sedikit dibuat betah…” jawabnya.
“Pernah kepikiran untuk kabur?”
Kepalanya tergeleng.
“Kenapa?”
“Nanti gak bisa dapat remisi, ” jawabnya.
Ya, demikian simpelnya. Tak terpikir olehnya untuk kabur padahal kemungkinan untuk itu ada. LAPAS Anak Kutoarjo memang terbilang tidak ketat dalam hal pengamanan. Saat diwawancara lebih lanjut, Arif mengaku sudah menyadari kesalahannya dan hanya ingin menjalani sisa hukumannya dengan baik agar kemudian dapat kembali berbaur dengan masyarakat. Demikian sederhananya. Tidak ada usaha untuk mengelak, tanpa berkelit dari tuduhan.
Harusnya, orang-orang bersalah di negeri ini belajar pada Arif agar mampu legowo dan mengakui kesalahan. Tak usah memanipulasi data ataupun kata, segera mengakui kekhilafan dan memperbaiki kesalahan. Biar KPK gak repot, Kejagung gak susah, MA gak ribut. Tabik!
Kutoarjo, Lebaran hari keempat (walo baru sempet dipublish di akhir Syawal)
A Tribute to Ibu Ipah
Nopember 5, 2007
Rasanya semua mahasiswa Arsitektur ITB kenal beliau, apalagi mereka yang rajin bercokol di perpustakaan. Nama panggilan beliau Bu Ipah, nama lengkapnya jarang ada yang tahu. Letak mejanya di Ruang Koleksi Referensi Perpustakaan Arsitektur. Ibu Ipah adalah pustakawan Perpustakaan Arsitektur ITB yang sangat cekatan membantu mahasiswa menyelesaikan perkara-perkara kepustakaan.
Yang sering membuat saya kagum adalah kecekatan beliau membantu mahasiswa menemukan buku yang dibutuhkan. Katalog manapun, baik elektronik apalagi yang manual, jelas kalah cepat dan kalah canggih dari beliau.
“Bu, (buku) Tropenbau dimana??” Beliau akan langsung menjawab tanpa harus melihat catatan apapun. “Nomornya 690, rak yang itu.” kata beliau sambil menunjuk salah satu rak. Buku-buku yang lainpun akan dengan mudah ditunjukkannya dalam sekejap.
Lebih hebatnya lagi, tidak cuma pencarian dengan judul buku yang dapat dilayani oleh Ibu Ipah. Pencarian dengan subjek atau tema pun dapat dengan mudah dia lakukan. Sebut saja subjeknya; buku tentang stadion, buku tentang perilaku anak, buku tentang pondasi tiang pancang, buku yang dikarang Wayne Attoe tentang preservasi, Bu Ipah tahu semua!!
Orang bisa saja bilang kecekatan beliau karena hal itu sudah menjadi pekerjaannya selama bertahun-tahun, namun hanya Ibu Ipah yang bisa secekat itu, pustakawan yang lain tidak demikian. Itulah Ibu Ipah dalam sosoknya bersahaja. Keberadaan beliau sangat banyak membantu kami, mahasiswa Arsitektur ITB.
Bandung, kota tercinta
suhu gak terlalu panas, gak dingin juga; kelembapan sedang-sedang saja; di suatu siang yang cerah di luaran sana…
Transliterasi Salah Kaprah
Nopember 2, 2007
Plop. Sebuah pop up instant message window dari Yahoo Messenger muncul di monitor komputer yang sedang saya pakai.
“Assalamualaykum..” begitu sapaan yang mampir dari komputer di seberang. Alis saya mengerenyit sebelah. “Wa’alaikumussalam warahmatullah..” jawab saya. Setelah itu, percakapan pun mengalir seperti biasa.
Kerenyitan alis saya tadi bukan tanpa alasan. Perhatikan bagian huruf yang saya beri warna merah. Lazimnya orang akan menuliskan kalimat salam dengan hutuf ‘i’ dan bukan ‘y’ seperti teman saya tadi.
Di kali yang lain, mampir sebuah pesan singkat di telepon genggam saya dari orang yang berbeda dengan yang tadi. “… InshaAllah, Shally…” Kembali alis saya mengerenyit.
Lagi-lagi sebuah ketidak laziman dari kebiasaan orang jamak untuk menggunakan huruf ’sy’ pada kalimat tersebut. Saya mulai merasa terganggu. Transliterasi aneh macam apa ini? Pedoman transliterasi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia sudah dibuat oleh Departemen Agama dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P&K Nomor 158/1987, Nomor 0543b/U/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab Latin.
Mudah-mudahan ini bukan sekedar keren-kerenan atau gejala ekslusifitas tertentu.



