Tentang Hujan

Desember 30, 2007

Apa itu hujan?

Sejak SD tentu kita sudah diajarkan soal serangkaian proses mulai dari proses evaporasi yang terjadi di permukaan bumi hingga kondensasi di atmosfer sebagai urut-urutan proses terjadinya hujan. Sayangnya, proses pengajaran tradisional yang diterapkan di kebanyakan sekolah di Indonesia telah mereduksi makna sebuah peristiwa menjadi fenomena alam belaka. Padahal ada berbilang makna yang terkandung dalam peristiwa sesederhana hujan.

Hujan adalah berkah. Ingat kisah Nabi Yusuf saat diminta menafsirkan mimpi rajanya. Tujuh tahun negerinya tidak akan mendapat hujan dan akan dilanda kekeringan setelah tujuh tahun penuh kemakmuran.

Hujan adalah pertanda. Musim hujan berkepanjangan dan tidak sesuai musimnya alias La Nina yang terjadi beberapa tahun belakangan ini adalah indikator terjadinya perubahan iklim dan perubahan kondisi bumi secara keseluruhan.

Hujan adalah kasih sayang. Sebuah peribahasa Palestina bersajak begini, “Jika turun hujan, tersenyumlah. Hujan adalah saat Allah menurunkan rahmatnya

Ada yang mau menambahkan??

***

Satu Rindu (Opick feat Amanda)

 

Hujan, kau ingatkan aku tentang satu rindu

Di masa yang lalu saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah penuh cinta, penuh kasih

Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan

Kau Ibu…

 

Allah, ijinkanlah aku bahagiakan dia

Meski dia tlah jauh biarkanlah aku berarti untuk dirinya

Oh Ibu…

Kau Ibu…

 

Bandung, lagi ujan deres oi!!

Dunia gemar-menggemari memang sungguh absurd. Demi yang digemarinya, seorang penggemar rela melakukan apapun bahkan hingga hal yang tidak masuk di akal macam ikut bunuh diri saat sang idola meninggalkan dunia. Remaja adalah segmen umur yang rentan terhadap sindrom gemar-menggemari ini. Usia remaja adalah usia saat seseorang mulai mencari identitas dan mengalami ambiguitas status sosial (Altman and Low: 1987). Mereka cenderung mengambil citra tertentu yang dianggap ideal untuk dicontoh, dikagumi dan dipuja. Remaja akan menduplikasi citra ideal alias idola tadi sebagai bagian dari pencarian identitas dan mengaplikasikannya pada diri mereka sendiri. Karenanya, jangan heran saat melihat remaja berdandan ala artis tertentu atau rela menghabiskan uang jajannya untuk membeli atribut tim yang dikaguminya.

Waktu SD sampai SMA saya juga sempat punya idola. Bukan tokoh agama, bukan artis, bukan tokoh nasional tetapi klub sepakbola. Saat teman-teman saya yang wanita sedang gemar-gemarnya mengidolakan boyband saya malah datang ke sekolah sambil membawa tabloid BOLA terbaru. Saya memang suka melakukan sesuatu yang mahiwal alias ingin beda sendiri. Buat anak SMP yang uang jajannya masih recehan, membeli BOLA berarti tidak jajan selama 2 hari. Karena BOLA terbit dua kali dalam seminggu, walhasil saya hanya bisa jajan di hari Rabu dan Sabtu. Haha…

Sebenernya, di tiap liga Eropa yang ngetop saya punya tim jagoan sendiri. Di Premiership, Manchester United. Di Erdevisie, PSV Eindhoven. Di Bundesliga, Bayer Leverkusen. Di Liga Spanyol, Alaves. Di Liga Prancis, PSG. Di Lega Calcio, AS Roma tentunya. Pilihan tim-tim idola tadi bukan tanpa alasan, saya yang suka mahiwal tadi memang tidak suka pada tim yang melulu menang. Akhirnya pilihan-pilihan saya jatuh pada tim yang underdog tapi berpotensi jadi kuda hitam mengalahkan tim yang lebih mapan.

Lega Calcio adalah liga favorit saya, persaingannya paling menarik dibanding liga Eropa lainnya. Karenanya, AS Roma menjadi tim kesayangan saya. Saya mulai mengidolakan AS Roma sejak musim terakhir AS Roma dilatih Zdenek Zeman. Saat itu, Roma adalah pelanggan urutan 5-6 di akhir kompetisi Lega Calcio dan hanya menjadi peserta rutin Piala UEFA perwakilan Italia. Saat musim berikutnya, Fabio Capello masuk dan mengubah pola permainan 4-3-3 warisan Zeman yang defensif menjadi 3-4-3 yang membawa Roma menjadi Il Campionati Lega Calcio taun 2000(?..lupa).

Selain Francesco Totti sang pangeran, sisa skuad Il Lupo alias Si Serigala nyaris tidak ada yang super talented. Kalaupun terpilih masuk skuad Azzuri pun cuma jadi penghangat bangku cadangan. Roma bukan klub kebanyakan duit macam Real Madrid yang punya hobi memecahkan rekor transfer pemain. Roma juga bukan klub dengan pembibitan sebaik MU yang menghasilkan David Beckham dan Neville bersaudara, bisa dibilang hanya Totti yang merupakan produk yang sukses dari akademi AS Roma. Hanya saja, Roma punya pemandu bakat-pemandu bakat yang jeli melihat pemain-pemain berpotensi yang bertebaran di klub-klub yang kurang terkenal.

Capello berhasil menempatkan right man in the right place. Tiga punggawa di barisan depan diisi oleh trio Marco Delvecchio-Totti-Vincenzo Montella. Di tengah ada barisan gelandang yang tidak kalah solidnya (cuma inget Candela, yg lain nama-namanya pada lupa, euy). Di bagian belakang ada Cafu sebagai bek kiri yang giat membantu serangan (nama-nama bek lainnya saya juga lupa). Roma menamatkan kompetisi sebagai juara dan melaju ke Liga Champion. AS Roma adalah bukti bahwa untuk jadi pemenang dibutuhkan super team, bukan superman.

Di musim-musim selanjutnya, Roma tidak pernah mengulangi kegemilangannya itu walau Capello lagi-lagi berhasil menemukan bibit-bibit unggul dan melejitkan mereka. Sebut saja Danielle de Rossi, Emerson dan Antonio Cassano. Beberapa tahun setelah stagnansi dan mal prestasi, Fabio Capello cabut ke Juventus dan sekarang melatih tim nasional Inggris.

Terhitung sejak tahun 2003 saya vakum dari pengamatan dunia persepakbolaan internasional. Jika ada siaran langsung pun sekedar menengok sambil sedikit kangen. Di koran yang saya baca beberapa minggu lalu, AS Roma lolos ke babak perempat final Liga Champions. Sekarang Roma dilatih Luciano Spaletti yang pernah melatih Lecce dan Udinese. Totti masih ada, demikian pula dengan de Rossi. Penyedia apparel pun sudah beralih ke Diadora dari Kappa. AS Roma sudah berubah. Demikian pula dengan saya.

Katanya Mahasiswa?

Desember 22, 2007

Senin, 17 Desember 2007 lalu saya memperbaharui buku taplus mahasiswa saya di BNI cabang ITB Ganesha. Tahapan-tahapan prosedural dalam hal penggantian buku tabungan saya jalani seperti biasa; berjalan ke kantor bank, membuka pintu, mengambil nomor antrian, mengisi formulir permohonan penggantian buku tabungan dan bla-bli-blu lainnya. Tiba saatnya saya dipanggil oleh salah seorang customer service officer. Setumpuk keramah tamahan disodorkan ke muka saya oleh CS officer berwajah manis itu.

“Silakan tanda tangan di baris nomer 1. Tanda tangannya harap agak ditekan,” katanya sambil menyodorkan buku tabungan baru dan blangko tanda tangan. Saya pun membubuhkan tanda tangan seperti yang ia perintahkan. “Wah, tanda tangannya panjang. Susah dong kalau nitip absen?” komentar CS officer itu setelah melihat tanda tangan saya yang panjangnya sekitar 5 cm dan keriwil- keriwil pula. Saya terperangah. Sungguh, saya butuh beberapa detik untuk mencerna kata-kata komentarnya barusan.

Melihat konsumennya bengong akibat komentar salah sasaran, si CS officer buru-buru meralat “Oh, kuliahnya rajin ya? Jadinya gak usah titip tanda tangan.” Saya pun mengangguk-angguk sambil masih syok, padahal saya juga masih sering mabal.

Sekeluarnya saya dari kantor bank saya berjalan sambil mencerna makna yang ada dibalik peristiwa yang baru saja saya alami. Saya bukan mencoba untuk jadi sok suci, sebagai manusia telah bertumpuk kesalahan yang pernah saya lakukan. Yang membuat saya heran adalah persepsi kolektif yang terjadi di masyarakat seputar citra mahasiswa.

Silakan anda teriak-teriak soal mahasiswa pembawa perubahan dan penggerak perjuangan di bangsa ini. Nyatanya, di sekitar kita terserak fakta bahwa mahasiswa bukan lagi pengusung nilai-nilai ideal yang harusnya berlaku di masyarakat. Mahasiswa identik dengan titip absen, calon pengangguran dan berbagai imej lainnya. Padahal, saat kaderisasi saya selalu dicekoki soal tiga peran mahasiswa yaitu agent of change, guardian of value dan iron stock. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak awal cuma masuk telinga kanan dan langsung keluar dari telinga kiri. Tidak ada upaya untuk mencerap apalagi mengejawantahkan dalam diri.

Kata mahasiswa semakin hilang makna, tergerus oleh masa dan erosi budaya. Saat sebagian dari mereka mencoba untuk tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa; sebagian lainnya larut dalam euforia menjadi elitis, sebuah kelas dalam masyarakat so-called ‘mahasiswa’.

I Am Legend

Desember 22, 2007

Poster I Am LegendIni cerita yang dilakoni oleh mas ganteng saya, Will Smith. (halah, sok kenal banget..) Banyak yang bilang kalo cerita I Am Legend (IAL) mirip Resident Evil (RE). Karena saya cuma pernah maen gem RE aja di PlayStation, jadinya saya tidak bisa membandingkan semirip apa IAL dengan RE.

Inti cerita IAL berkisar pada cerita seseorang yang bertahan hidup dan jadi satu-satunya orang di New York yang bertahan dari serangan virus mematikan. Will Smith berperan sebagai Robert Neville, ilmuan yang bertahan tadi. Dia meriset vaksin untuk mengatasi serangan virus yang sudah mematikan lebih dari 90% populasi dunia. Virus tersebut juga memutasi sebagian besar dari 10% orang-orang yang bertahan tadi menjadi ‘manusia-manusia kegelapan’ yang tidak tahan sinar matahari. Di akhir cerita, Neville berhasil menemukan vaksin yang dicarinya. Penemuan vaksin tersebut menjadikan namanya melegenda sebagai penyelamat peradaban manusia di muka bumi.

IAL diproduksi oleh Warner Bros dan disutradarai oleh Francis Lawrence. Yang membuat saya cukup geleng-geleng kepala adalah set syuting yang tidak tanggung-tanggung baik dari segi ukuran maupun detilnya. Barangkali usaha besar Lawrence bisa disamakan dengan saat Steven Spielberg menyulap sebuah gudang menjadi replika bandara sungguhan dalam The Terminal. Timing Lawrence cukup baik saat mengatur saat-saat flash back untuk menjawab kondisi-kondisi New York yang digambarkan di awal film.

Hal lain yang membuat saya keluar dari Studio 1 Empire 21 dengan perasaan penuh adalah sisi manusiawi yang dieksplorasi dari seorang jagoan. Neville memang sudah layaknya superhero; senjatanya mematikan, rumah layaknya markas rahasia dan tentu saja otak encer sebagai seorang ilmuan. Akan tetapi, di film ini Neville juga ditampilkan sebagai sosok yang bisa menangis ketika berpisah dengan keluarganya, bisa berdarah ketika terkena jebakan, dan stres ketika penelitiannya menemui jalan buntu. Setidaknya, Neville bisa mati ketika harus menghabisi lawan. Tidak seperti Bruce Willis yang sudah empat Die Hard yang dibintangi, masih belum mati-mati juga. Sooo Hollywood.

Satu hal lain yang membuat saya cengar-cengir sendiri setelah nonton adalah saat menyadari bahwa terjadi perang citra di sini. Nicky Krippin, si pembuat virus mutan penyebab tragedi digambarkan sebagai seorang ilmuan berlogat Inggris British yang kental sementara Neville sebagai pahlawan adalah seorang Afro-Amerika sejati. Memangnya perseteruan Inggris-Amerika masih jaman ya??

Well, overall saya terhibur setelah menonton film ini di hari terakhir ujian di tahun ini alias pas malam takbiran Idul Adha. Kadang-kadang nonton film action yang rada-rada ngarang boleh juga buat memperkaya imajinasi.

I Am Legend, 3,5 dari skala 5!

Maaf, Saya Sibuk

Desember 22, 2007

Ehm,, sebelum postingan ini dimulai saya mau cuap2 sedikit. Setelah lama vakum, akhirnya saya dapat ilham untuk nulis sesuatu lagi. Alasan kevakuman saya klasik saja, sibuk. Sibuk bikin tugas, sibuk rapat, sibuk survei, sibuk ini, sibuk itu, pokoknya sibuk.

Padahal, siklus akhir semester juga dialami bukan cuma oleh saya, tapi oleh ratusan bahkan jutaan mahasiswa di seluruh dunia. Toh blog milik orang lain tetap hidup, ada postingan baru, bisa aja dan biasa aja. Nah, sekarang… pantaskah saya berdalih sibuk untuk mangkir dari hal-hal tak terlalu mendesak yang saya alami?? Jawabannya tidak.

Seumur hidup semua manusia pasti akan selalu sibuk. Sibuk mengejar mimpi dan harapan, sibuk menggapai cita-cita, sibuk membahagiakan orang lain, dan sibuk sibuk yang lainnya. Kalaupun sebenarnya orang itu tidak punya mimpi dan harapan untuk dikejar atau tidak punya orang yang ingin dibahagiakan, pada akhirnya orang tersebut akan tetap sibuk. Minimal back to basic, sibuk bertahan hidup.

Anda boleh bilang, “So, what’s the big deal, Sal?? Toh cuma perkara ngapdet blog..”

Bagi saya, perkara sesederhana macam updating blog-lah yang membuat hidup saya punya added value. Kemampuan memanajemen waktu hingga saya memiliki sela-sela waktu untuk melakukan hobi. Hobi menjadi penting karena ia memberi makan hati.

Sip!