Re-Launch
Januari 31, 2008
Hemm, para penggemar setia blog saya pasti memperhatikan perubahan templet yang saya lakukan pada si blog ini. Jika dulu menggunakan templet ‘Banana Smoothie’ yang berambiance kuning segar, sekarang menggunakan templet ‘Jentri’ yang berambiance marun. Sahabat saya bersikukuh kalau warna marun memiliki kesan seksi, namun bagi saya marun memberi kesan mature alias dewasa. Selain untuk ganti suasana, perubahan templet juga dimaksudkan untuk mendukung bentuk baru dari blog ini.
Selain perubahan templet, saya juga memberi nama baru bagi si blog. Perubahan nama ini juga dimaksudkan untuk mendukung bentuk baru dari blog ini. Setelah tirakat dan bersemedi selama setengah jam, akhirnya saya memutuskan untuk menamai blog ini ‘Rumah Cahaya’. Mulanya blog ini akan saya namai ‘The Sanctuary’ namun setelah mempertimbangkan keluasan makna dan sedikit dibumbui rasa nasionalisme, saya memutuskan untuk menggunakan nama ‘Rumah Cahaya’. Jika sebelumnya blog ini bercerita tentang hal-hal yang terjadi di keseharian saya (sesuai namanya dulu, MyQuiteSimpleDay), sekarang melalui blog ini saya akan lebih banyak berbagi tentang pemikiran dan kehidupan. Untuk lebih jelasnya, silakan mampir ke halaman Tentang Rumah Cahaya.
Sedikit peringatan dari saya, tidak semua yang saya katakan di atas adalah serius. Kebanyakan adalah eksagerasi alias lebai tea. Hahahahaha…
Love to Share
Januari 30, 2008
Teringat saya pada judul bahasa Inggris dari film Berbagi Suami yaitu Love to Share. Yang jadi pertanyaan saya, benarkah suami sama dengan cinta? Atau malah, benarkah poligami bermakna sejalan dengan berbagi cinta?
Sebenarnya, saya anti bicara soal masalah-masalah di ranah pernikahan dan kawan-kawannya. Apalagi, saya sama sekali tidak pernah mendalami hal macam ini.Tetapi, poligami jadi menarik perhatian saya sejak Restoran Wong Solo cabang Bandung yang berada di Jalan Dago ditutup pada akhir 2007 lalu. Entah saya dengar dari mana, konon satu restoran Wong Solo diperuntukkan sebagai sumber ‘uang belanja’ bagi seorang istri Puspo Wardhoyo yang berada di kota tersebut. Logika saya bergerak pada kesimpulan yang aneh, jangan-jangan Puspo sudah menceraikan istrinya yang ada di Bandung? Entahlah, saya tidak tahu. Yang pasti, sekarang restoran yang tidak terlalu laku itu (tempat parkirnya selalu sepi) sudah digantikan dengan restoran Brownies Kukus Amanda sejak awal Januari tahun ini.
Poligami memang perkara yang dilematis. Lukman Sardi, salah seorang aktor Berbagi Suami beropini dalam buku Berbagi Suami bahwa dia merasa bukan orang yang sanggup mengemban tanggung jawab berpoligami. Hanya orang-orang terpilih yang mampu menangkap hakikat berpoligami dan mampu berlaku adil pada kesemua istrinya. Rasulullah yang beristri banyak tentulah orang yang dirujuknya dalam kasus seperti ini. Jadi, benarkah poligami adalah hal yang kasuistis? Sebagai orang yang moderat, saya sepakat jika seorang laki-laki berpoligami ketika istrinya tidak mampu menjalankan kewajibannya. Nah, kasuistis kan? Kesimpulan saya, poligami adalah sesuatu yang kasuistis.
Kembali pada judul tulisan ini, menurut saya seharusnya perkara berbagi cinta tidak semata-mata dibicarakan dalam konteks poligami. Seolah-olah, perasaan cinta hanya bisa terjadi antara individu berlawanan jenis yang punya motif (maaf) seksual. Di luar itu, perasaan yang sama akan berganti istilah menjadi kasih atau sayang. Cinta, kasih ataupun sayang memang perlu dibagikan pada orang lain. Tidak akan terjadi kondisi dimana seseorang kehabisan cinta karena terus-menerus dibagikan. Cinta suami pada istri(-istrinya) adalah suatu yang utuh, tidak akan berkurang jika dibagikan karena cinta bukan kue yang dapat habis. Tabik.
***
Jadikan Aku Yang Kedua
(Astrid)
jika dia cintaimu
melebihi cintaku padamu
aku pasti rela untuk melepasmu
walau ku tau ku kan terluka
jikalau semua berbeda
kau bukanlah orang yang kupuja
tetapi hatiku telah memilihmu
walau kau tak mungkin tinggalkannya
reff:
jadikan aku yang kedua
buatlah diriku bahagia
walau pun kau takkan pernah
kumiliki selamanya
kembali ke awal, reff
Veronica Guerin: Mengenang Udin
Januari 29, 2008
Film ini berkisah tentang kisah Veronica Guerin–yang diperankan oleh Cate Blanchett- dalam mengungkap jaringan peredaran narkoba di sekitaran Dublin, Republik Irlandia sejak tahun 1994 hingga tewasnya Guerin di tahun 1996. Saya tidak akan banyak berkomentar tentang film ini melainkan lebih menyoroti sosok Guerin yang cerkas, berani dan cerdas. Di Jalan Raya Naas, Guerin ditembak mati pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh John Gilligan, seorang bandar narkoba yang kasusnya tengah diusut Guerin. Kematiannya menjadi kehilangan yang besar bagi Rep. Irlandia sampai-sampai kematian seorang Guerin mampu mendorong parlemen, polisi dan masyarakat untuk melakukan perubahan. Pasca kematian Guerin, angka penyalahgunaan narkoba di Rep. Irlandia turun hingga 15% yang merupakan efek multiplier dari kebijakan pemerintah memberantas kejahatan tersebut.
Di akhir film yang diangkat dari kisah nyata ini disebutkan bahwa sejak kematian Guerin yang merupakan jurnalis Sunday Independent, Rep. Irlandia, 196 jurnalis di seluruh dunia meninggal ketika sedang melakukan tugas jurnalistiknya. Barangkali salah satu dari bilangan jurnalis yang meninggal tadi adalah Udin, wartawan harian Bernas yang meninggal di medio 1990an. Nasib Udin memang serupa dengan Guerin, dihilangkan nyawanya oleh orang yang tidak menyukai sepak terjang kejurnalisan masing-masing mereka. Bedanya, konspirasi kasus pembunuhan Guerin terungkap dengan jelas dan pelakunya dihukum kurungan seumur hidup sementara kasus Udin menguap ditelan waktu dan mulai dilupakan orang.
Kejadian pembunuhan Udin terjadi saat saya masih duduk di bangku SD. Ingatan saya tentang hal itu hanya samar-samar saja. Kasus yang tengah diusut Udin pun tak saya ingat dengan jelas. Yang saya ingat hanyalah Udin didatangi orang misterius yang mendatangi rumahnya di malam hari. Beberapa hari setelah itu, jenazah Udin ditemukan tanpa nyawa. Penyidikan, penelusuran dan persidangan atas kasus pembunuhan Udin sempat dilakukan namun sama sekali tidak memuaskan. Publik percaya, ada konspirasi yang lebih besar di balik kasus Udin dibanding pembunuhan biasa.Hal yang sama kembali terjadi pada kasus pelanggaran HAM yang lumayan anyar, kasus Munir. Publik masih meragukan vonis yang dijatuhkan pada Pollycarpus Budihari Prayitno adalah ketukan palu pada orang yang tepat. Keterlibatan oknum BIN yang belum sempat terusut juga menyisakan tanda tanya besar pada kasus ini. Yang pasti, kematian Udin dan Munir–selain kasus Marsinah- menambah panjangnya daftar pelanggaran HAM negeri ini yang tak bisa diungkap.
Keadilan di negeri ini memang masih jauh panggang dari api.
Gambar diambil dari http://www.bangitout.com/images/veronica.jpg
Desain Aksesibel Untuk Semua
Januari 16, 2008
Judul di atas kedengarannya memang aneh, sebenarnya judul itu terjemahan bebas versi saya untuk idiom universal design yang jadi isu desain beberapa tahun belakangan. Memang selama ini desain yang ada dibuat untuk siapa?
Ya, untuk semuanya.
Semua yang fisiknya sempurna.
Semua yang punya uang.
Semua yang punya akses.
Ironi ini sungguh menggelitik saya. Entah ada apa dengan desainer-desainer di negeri ini sampai demikian sulitnya memikirkan mereka yang tidak memiliki akses pada desain. Jika ada yang beralasan mahalnya desain universal dan pemerintah belum mampu membayar, silakan anda hitung bangunan publik yang menambahkan ramp selain tangga untuk akses masuk utama. Menurut saya, ramp itu elemen yang terbilang murah namun useful bagi kaum difabel.
Belum lagi jika memikirkan saudara-saudara kita yang tidak punya akses pada desain lantaran faktor biaya. Mereka yang disebut superklien oleh Profesor Hasan Poerbo ini terjebak dalam kehidupan sehari-hari di kantong-kantong kampung kota, lingkungan yang makin terdesak oleh tingginya tensi pembangunan namun berfasilitas sangat minim. Apa yang salah?
Kebijakan publik negeri ini tidak pernah menempatkan kaum tanpa akses pada posisi yang adil. Mereka selalu diperlakukan sebagai orang sakit yang harus dijauhkan dari masyarakat umum. Alhasil mereka hanya menjadi kaum marjinal yang membingkai hiruk-pikuk kehidupan urban dengan pembawaan mereka yang khas. Padahal, yang mereka butuhkan adalah akses. Bukan belas kasihan dalam bentuk recehan yang diulurkan setengah ikhlas.
Akses agar mereka mampu mengecap pendidikan;
karena pendidikan mampu mengangkat derajat manusia
Akses agar mereka mampu mendapatkan pelayanan publik;
karena mereka warga negara ini juga
Akses agar mereka mampu mendapatkan pelayanan kesehatan;
karena hak untuk hidup adalah hal yang asasi
Akses untuk semua;
karena mereka juga manusia



