Love to Share

Januari 30, 2008

Teringat saya pada judul bahasa Inggris dari film Berbagi Suami yaitu Love to Share. Yang jadi pertanyaan saya, benarkah suami sama dengan cinta? Atau malah, benarkah poligami bermakna sejalan dengan berbagi cinta?

Sebenarnya, saya anti bicara soal masalah-masalah di ranah pernikahan dan kawan-kawannya. Apalagi, saya sama sekali tidak pernah mendalami hal macam ini.Tetapi, poligami jadi menarik perhatian saya sejak Restoran Wong Solo cabang Bandung yang berada di Jalan Dago ditutup pada akhir 2007 lalu. Entah saya dengar dari mana, konon satu restoran Wong Solo diperuntukkan sebagai sumber ‘uang belanja’ bagi seorang istri Puspo Wardhoyo yang berada di kota tersebut. Logika saya bergerak pada kesimpulan yang aneh, jangan-jangan Puspo sudah menceraikan istrinya yang ada di Bandung? Entahlah, saya tidak tahu. Yang pasti, sekarang restoran yang tidak terlalu laku itu (tempat parkirnya selalu sepi) sudah digantikan dengan restoran Brownies Kukus Amanda sejak awal Januari tahun ini.

Poligami memang perkara yang dilematis. Lukman Sardi, salah seorang aktor Berbagi Suami beropini dalam buku Berbagi Suami bahwa dia merasa bukan orang yang sanggup mengemban tanggung jawab berpoligami. Hanya orang-orang terpilih yang mampu menangkap hakikat berpoligami dan mampu berlaku adil pada kesemua istrinya. Rasulullah yang beristri banyak tentulah orang yang dirujuknya dalam kasus seperti ini. Jadi, benarkah poligami adalah hal yang kasuistis? Sebagai orang yang moderat, saya sepakat jika seorang laki-laki berpoligami ketika istrinya tidak mampu menjalankan kewajibannya. Nah, kasuistis kan? Kesimpulan saya, poligami adalah sesuatu yang kasuistis.

Kembali pada judul tulisan ini, menurut saya seharusnya perkara berbagi cinta tidak semata-mata dibicarakan dalam konteks poligami. Seolah-olah, perasaan cinta hanya bisa terjadi antara individu berlawanan jenis yang punya motif (maaf) seksual. Di luar itu, perasaan yang sama akan berganti istilah menjadi kasih atau sayang. Cinta, kasih ataupun sayang memang perlu dibagikan pada orang lain. Tidak akan terjadi kondisi dimana seseorang kehabisan cinta karena terus-menerus dibagikan. Cinta suami pada istri(-istrinya) adalah suatu yang utuh, tidak akan berkurang jika dibagikan karena cinta bukan kue yang dapat habis. Tabik.

***

Jadikan Aku Yang Kedua
(Astrid)

jika dia cintaimu
melebihi cintaku padamu
aku pasti rela untuk melepasmu
walau ku tau ku kan terluka

jikalau semua berbeda
kau bukanlah orang yang kupuja
tetapi hatiku telah memilihmu
walau kau tak mungkin tinggalkannya

reff:
jadikan aku yang kedua
buatlah diriku bahagia
walau pun kau takkan pernah
kumiliki selamanya

kembali ke awal, reff