Cendekiawan Muslim Favoritku

Februari 18, 2008

Waktu sekolah dasar dulu, sesi pelajaran agama yang saya sukai adalah Sejarah Kebudayaan Islam. Soalnya, di mata pelajaran ini saya bisa tahu betapa kerennya sepak terjang cendekiawan muslim justru saat dunia barat sedang bergulat dengan pemikiran kolot mereka di masa kegelapan abad pertengahan.  Dari deretan nama cendekiawan muslim itu, ada beberapa nama yang jadi favorit saya. Inilah mereka…

Ibnu Sina, orang ini jadi cendekiawan favorit saya karena namanya sama dengan nama SD saya. Hahaha. Ibnu Sina ini dikenal sebagai tokohnya dunia kedokteran di awal milenium kedua. Bukunya yang berjudul Qanun fi at-Tibb atau Aturan Kedokteran yang kemudian diterjemahkan menjadi The Canon of Medicine dipergunakan secara luas sebagai referensi di dunia kedokteran barat hingga masa Rennaisans. Selain ahli kedokteran, Ibnu Sina juga seorang filsuf tersohor. Postulatnya yang terkenal adalah mengenai asal-usul penciptaan alam semesta yang berasal dari pemancaran (emanasi). Soal postulatnya ini, Ibnu Sina alias Avicenna mendapat tentangan keras dari ulama besar sejaman yaitu Al-Ghazali yang membantah postulat tersebut dalam sebuah tulisan berjudul Tahafuf al-Falasifah atau Kekacauan Para Filsuf.

Al-Farabi. Lahir dan besar di Irak, Al-Farabi adalah seorang cendekiawan yang unik karena memiliki keahlian utama di bidang musik. Karyanya yang terkenal di bidang musik adalah Kitab al-Musiqi al-Kabir yang memuat risalat di bidang musik. Selain menulis buku, Al-Farabi juga memainkan dan menemukan berbagai alat musik Arab klasik. Selain menekuni dunia musik, Al-Farabi juga menekuni banyak bidang lain diantaranya logika dan filsafat.

Al-Kindi. Bisa dibilang, Al-Kindi adalah pionir di banyak bidang. Cendekiawan yang satu ini meletakkan pondasi mendasar pada dunia matematika dengan memperkenalkan sistem angka nol pada sistem angka Arab yang akhirnya meluas ke seluruh dunia. Bayangkan jika Al-Kindi tidak melakukan hal ini, betapa repotnya kita ketika harus menuliskan angka 1986 ke dalam simbol angka romawi. Al-Kindi juga yang mementahkan mitos umum di dunia para alkemis pada waktu itu yaitu mengubah logam biasa menjadi logam mulia seperti emas dan perak. Semasa hidupnya, Al-Kindi menulis sedikitnya 260 buku.

Ketiga tokoh di atas adalah segelintir dari banyak cendekiawan besar muslim pada masa itu. Kesamaan dari mereka bertiga adalah penguasaan tingkat tinggi pada berbagai bidang keahlian. Sesuatu yang sulit ditemukan pada cendekiawan saat ini. Sekarang saatnya bertanya pada diri sendiri, apa karya besarku?

Sumber tulisan dikutip dari materi pelajaran SKI untuk sekolah dasar, Ensiklopedia Islam dan (tentunya) wikipedia.org.

Hei-hei Siapa Dia?

Februari 6, 2008

Entah mengapa, hasrat menulis saya mengalir demikian deras belakangan ini. Walhasil, tulisan demi tulisan baru bermunculan di layar Rumah Cahaya dalam interval waktu yang saling berdekatan. Bisa jadi gara-gara belakangan saya teringat pada lebih banyak hal, berinteraksi dengan lebih banyak orang dan mengalami lebih banyak peristiwa dari biasanya.

Ngomong-ngomong soal mengalami lebih banyak peristiwa, di sepuluh hari terakhir ini saya (akhirnya) mengalami yang disebut Sidang Istimewa Kongres (SIK) KM-ITB. Sidang ini bukan sembarang sidang. Sidang Istimewa Kongres layaknya sidang istimewa di majelis rakyat di Jakarta sana, diadakan untuk mengamandemen aturan dasar organisasi. SIK 2008 mengusung beberapa agenda, yang teranyar adalah soal anggota MWA perwakilan mahasiswa ITB.

Sejak tahun 2000, ITB berubah bentuk dari perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara. Alasan pemerintah dibalik keputusan ini ada banyak, mulai dari memberikan kesempatan bagi PTN untuk berkembang, otorisasi lingkungan perguruan tinggi dan masih banyak alasan lainnya. Lewat  PP no 155 tahun 2000, resmilah ITB didapuk menjadi BHMN bersama tiga PTN lainnya yaitu UI, IPB dan UGM.

BHMN didirikan di atas empat pilar; Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), Pimpinan Institut (Rektorat) dan Dewan Audit (DA). Konsep university governance ini sekilas memang mirip dengan konsep pemerintahan di negara kita. Silakan analogikan peran MWA dengan MPR, SA dengan DPR, Rektorat dengan Presiden dan menteri2nya, sementara DA dengan MA. MWA sebagai organ tertinggi institut diisi oleh para stake holder yang memliki kontribusi pada ITB, diantaranya adalah para anggota SA, tokoh masyarakat, rektor, menteri pendidikan dan mahasiswa.

Kursi anggota MWA tentu sesuatu yang prestisius. Pihak ITB sendiri menyerahkan kursi anggota MWA perwakilan mahasiswa kepada KM ITB sebagai organisasi kemahasiswaan terpusat bagi mahasiswa S1 ITB dan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan anggota MWA perwakilan mahasiswa pada KM ITB. Pada kurun waktu 2001-2004, KM ITB mengirimkan anggota Kongres KM ITB yang terpilih melalui pemilu internal sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa. Karena kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa dengan mekanisme yang demikian dinilai tidak optimal, terhitung sejak tahun 2004 KM ITB memutuskan untuk mengirim ketua kabinet alias Presiden KM ITB sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa.

Empat periode pengiriman sudah bergulir. Kongres KM ITB 2007/2008 memutuskan untuk mengevaluasi kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa selama empat periode terakhir dan menetapkan siapa yang paling layak menjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa. Roadshow dijalankan, forum massa diadakan, parameter pun disamakan. Tak disangka-sangka, ekspektasi massa sangat besar pada fungsi dan peran anggota MWA perwakilan mahasiswa. Anggota MWA perwakilan mahasiswa dianggap sebagai satu-satunya orang yang memiliki akses pada petinggi institut ini. Para petinggi institut memang berlaku melangit, terlihat namun tak terjangkau. Karenanya, anggota MWA perwakilan mahasiswa digadang-gadang sebagai jembatan komunikasi menuju perubahan.

Lembaga yang satu ingin presiden tetap diutus menjadi anggota MWA perwakilan mahasiswa. Beberapa lembaga yang lain justru ingin ada pemisahan antara lembaga kepresidenan dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Lumrah, toh semuanya bagian dari  proses demokrasi. Parameter menjadi kunci dalam mengurai benang masalah. Fokus, kelengkapan informasi dan daya tawar di kalangan mahasiswa adalah tiga hal penting yang akan mengeliminasi kemungkinan pilihan yang paling nihil peluangnya.

Benang masalah penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa akhirnya terurai. Mahasiswa independen dirasa sebagai solusi yang paling baik untuk kondisi yang saat ini. Benang kusut masalah selanjutnya sudah menghadang. Posisi dan mekanisme pemilihan menjadi aral selanjutnya yang harus diselesaikan. Kali ini, masalahnya lebih rumit dan dilematis. Well, akhirnya benang yang terakhir pun terurai juga. Posisi mahasiswa independen penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa adalah sejajar dengan presiden-kabinet dan berada dalam kontrol Kongres KM ITB.

Setelah Kongres KM ITB 2007/2008 bertempur mati-matian di SIK 2008, kini giliran Panitia Pemilu KM ITB 2008 pasang aksi. Konsepsi, AD dan ART terbaru sudah disahkan. Aturan Pemilu KM ITB 2008 juga sudah diluncurkan. Pewacanaan soal si produk baru (anggota MWA perwakilan mahasiswa) ke massa kampus ini bakal jadi tugas besar Kongres dan Panpel.

Dalam hitungan 7 minggu, mahasiswa ITB akan segera memiliki pengganti Zulkaida Akbar sebagai Ketua Kabinet KM ITB dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Saatnya mahasiswa ITB bersiap memilih pemimpin pilihannya. Kira-kira siapa ya?

Bandung, 4 jam sebelum forum massa…