Namanya Pulau Bangka
April 24, 2008
Pulau Bangka yang jadi tempat mudik saya selama empat tahun terakhir ini merupakan bagian dari propinsi kepulauan Bangka-Belitung. Yep, propinsi ini memang terdiri dari dua pulau besar, Bangka dan Belitung serta beberapa pulau kecil yang ada di sekitar dua pulau besar tadi. Pulau Bangka berukuran lebih besar dari pulau Belitung. Pulau Belitung sendiri belakangan jadi lebih tenar dari Pulau Bangka berkat Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya.
Cuma butuh satu kata untuk mendeskripsikan Bangka: p-a-n-t-a-i. Sejak pertama kali datang ke Bangka waktu tahun 1992, saya cuma ingat pantainya yang indah, bersih dan menakjubkan. Mulai dari yang landai dan berpasir putih sampai yang terjal dan berbatu, semua ada di Bangka. Sayangnya, pantai-pantai ini belum terkelola dengan baik. Setahu saya, hanya Pantai Parai yang sudah ditangani oleh manajemen dan dipasarkan dengan label Parai Beach Resort. Selebihnya hanya dikelola seadanya oleh pemerintah daerah. Belakangan ada itikad baik untuk mendesain pesisir Pantai Pasir Padi dengan mengkompetisikan perancangan Pasir Padi Waterfront City. Namun setelah saya melihat desain pemenangnya, saya harus menahan diri untuk berharap banyak pada masa depan Pantai Pasir Padi dan hanya bisa menghela napas.

Selain pantainya, dunia kuliner Bangka juga patut dijelajahi. Kemplang, pantiaw, model, empek-empek, panekuk, otak-otak, es campur kacang merah, dan tekwan adalah makanan khas Bangka yang citarasanya tidak perlu diragukan lagi. Titik-titik jajan kuliner bisa ditemui di sekitar Pasar Mambo, Bank BCA, dan beberapa tempat lainnya. Sedikit tips dari saya, kalau sedang bingung untuk memilih penjual makanan yang enak antara penjual dari pribumi atau Tionghoa maka pilihlah yang penjualnya dari etnis Tionghoa. Dijamin enak dan halal, karena masyarakat Tionghoa Bangka yang dalam bahasa Bangka disebut ‘urang Cin’ memang sudah terkenal kelihaiannya dalam memasak dan menghargai pembeli Melayunya yang kebanyakan muslim.

Berada di Bangka juga berarti anda tidak akan menemukan pengemis atau pengamen di sudut-sudut kota. Hal ini tidak berarti Bangka sudah sejahtera, angka kemiskinan di sini juga cukup tinggi. Orang Bangka pantang memelas meminta kasihan dari yang lain. Pendek kata, lebih baik bekerja kasar daripada harus meminta-minta. Orang Bangka juga terkenal senang kumpul-kumpul. Saban malam ada saja saudara atau tetangga yang datang berkunjung ke rumah, jika tidak maka gantian kita yang pergi bertamu.
Bahasa Bangka cukup mudah, seperti bahasa melayu tapi akhiran katanya adalah e seperti pada teh. Misalnya: ada -> ade, kemana -> kemane, dia -> die, dst. Seringkali juga bahasanya disingkat-singkat. Misalnya, aku -> ‘ku, kamu -> ‘ka, tidak -> ‘dak, telah -> ‘lah, belum -> ‘lum, dst.
Tertarik melancong ke Bangka? Ada dua cara untuk mencapai Bangka dari Jawa, lewat laut atau lewat udara. Jika lewat laut, bisa menggunakan kapal laut dari Tanjung Priok dengan waktu tempuh sekitar 24 jam atau menyeberangi Selat Bangka dari Palembang menggunakan kapal jetfoil dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Perjalanan lewat udara juga cukup memadai, dengan menggunakan kapal terbang, Bangka bisa dicapai dari Cengkareng dalam 50 menit saja. Harga tiket? Tiket kapal laut biasa dilego dengan kisaran 100-170 ribu rupiah sementara tiket pesawat biasa dibanderoli 300-670 ribu rupiah tergantung musim liburan atau tidak.
Demikian sedikit cerita tentang pulau kelahiran ibu saya. Walau tidak pernah secara de facto bermukim di Bangka, saya cinta pulau ini!
(gambar dicomot dari wikimapia.org, idrianita.wordpress.com, dan rendymaulana.com,, makasi!!!)





April 26, 2008 at 7:59 am
BAGUS
April 26, 2008 at 11:07 am
kunjungan balik!!
orangtua saya besar 3 tahun di bangka, saat masa-masa smp. yang saya tau, bangka dulu jadi satu sama sumsel, jadi sepetinya banyak sekali kemiripan-kemiripan makanan khas, bahasa, dll.
1. Tekwan, makanan yang paling dirindukan kalo saya mudik ke palembang.
2. Model, adakah di bangka? ini juga makanan malam hari bada isya yang hampir tiap malam menemani saya menikmati suasana kota palembang..
:D:D
(oya, blognya saya link yah.. nuhuns, :D)
April 27, 2008 at 7:16 pm
@armyalghifari
iya,, Babel emang baru akan berumur sewindu di taun ini. jadinya masi cari2 jati diri juga deh…
sebenernya soal makanan mah banyak banget yang sama,, tapi ada bedanya loo.. kalo di palembang kemplang2nya pake ikan belida,, kalo di bangka, pake ikan tenggiri…
model juga ada di bangka,,
huaaaa,, jadi kangen rumah euy…
April 28, 2008 at 9:09 am
eh kok bahasanya kayak betawi,, hehehe
btw, pengen ke Bangka,,, setelah berkunjung ke pantai di lombok,, tempat berikutnya yg ingin dikunjungi tuh pantai di bangka waaaahhhh pengen,,,
semoga msh ada yg mau sponsori ;)
shally, sy diajak donk klo pulang ke bangka hahahaha
April 29, 2008 at 1:14 am
iya, bahasanya kaya betawi gitu. lucu disingkat-singkat pula.. pengen maen.. kapan mudik? ajak2 yah? plus free ongkos pergi-pulang :D
April 30, 2008 at 11:16 am
@fitrasani dan yttrium
halah,, kakak2..
akomodasi bolelah ditanggung tuan rumah,, tapi kalo sama ongkosnya juga mah repot atuh..
kelak ku mudik pas ari raya, dak nek ngikut kan??
(artinya: nanti saya mudik pas lebaran,, pada gamau ikut kan??)
:D
Mei 13, 2008 at 3:49 pm
oi shally,,
aku mau don ke bangka,,
Juni 29, 2008 at 9:21 am
wah, jadi pengen liat es serut nya, btw di kampung ku Pekanbaru, banyak pengemis tp masalahnya mereka itu di impor oknum tak bertanggungjawab dari propinsi tetangga biasanya dari Padang .. hehe
jd pengen ke kepulauan, pasti pemandangannya keren2 ..