Hemat AC Yuk!!!

Juli 30, 2008

Saat ini, adalah pemandangan yang lazim bila sebuah (atau berbuah-buah) unit pendingin AC menempel di dinding luar bangunan di Indonesia bahkan di kota yang terkenal dingin macam Bandung. Unit pendingin itu nemplok sana nemplok sini, seringkali perletakannnya tanpa memperhatikan estetika. Alih-alih menggunakan pengondisian udara pasif, unit-unit pendingin digunakan sebagai alat pengondisian udara untuk menyamankan kondisi termal ruangan demi mencapai suhu optimum agar produktivitas kerja meningkat. Dingin sih, tapi dijamin mahal. Alhasil, bukannya untung malah jadi buntung.

Kalaupun tidak memungkinkan untuk menghilangkan fungsi AC, minimal dikurangi alias dihemat. Berikut ini serba-serbi dalam penghematan AC.

  1. Mengapa harus berhemat dalam penggunaan AC? AC yang punya daya listrik besar ternyata punya andil lebih dari 50% dalam angka konsumsi listrik bangunan, lebih besar dari porsi konsumsi listriknya lampu dan alat elektronik lainnya.
  2. Siapa yang harus berhemat? Ya, kita. Saya, kamu, kita semua. Kan kita semua penghuni bumi tercinta ini…
  3. Bilamana harus berhemat dalam penggunaan AC? Kurangi penggunaan AC jika memang kondisi udaranya tidak terlalu panas, misalnya waktu pagi dan sore.
  4. Penggunaan AC yang mana yang harus dihemat? AC yang tidakberhubungan dengan kegiatan produktif mestinya bisa dikurangi penggunaannya atau ditiadakan sama sekali.
  5. Di mana harus berhemat dalam penggunaan AC? Di ruangan yang tidak terlalu banyak digunakan oleh orang (misalnya wc.. :p) tidak usah dipasang AC

Nah, setelah cukup jelas begini-begitunya penghematan AC, bisa mulai berhemat dong?

Gimana caranya???

Gampang, ini ada sedikit tips penghematan yang saya sarikan dari berbagai sumber…

  1. Nyalakan AC paling cepat sejam setelah memulai kegiatan dan matikan paling lambat sejam sebelum mengakhiri kegiatan, gunakan penghawaan alami dari jendela dan bouvenlicht saja. Kondisi iklim mikro di sekitar bangunan saat pagi dan sore cukup memadai untuk menyamankan suhu ruangan.
  2. Setel output AC di angka 22-24 derajat celcius. Walaupun suhu yang lebih dingin itu lebih enak, tapi rentang suhu ini justru adalah rentang suhu optimum yang akan menunjang produktivitas kerja.
  3. Pilih jenis AC split dibanding sentral atau package. Unit-unit AC yang terpisah akan memudahkan dalam mengefisienkan ruangan yang terhawakan.

***

Mulai dari hal yang kecil

Mulai dari diri sendiri

Mulai dari sekarang

Yeah!

Suka nonton sinetron Indonesia?

Sayang sekali, saya harus mengasihani anda karena bersedia menjejali diri dengan paket pembodohan atas nama hiburan yang murah meriah. Sebagian besar sinetron Indonesia saat ini ditayangkan hanya untuk mengejar rating dan kue iklan.

Durasi yang wajar untuk sebuah sinetron pada umumnya adalah 60 menit, edannya belakangan ini sudah ditabrak hingga menjadi 90 bahkan 120 menit. Katakanlah seorang remaja putri adalah penggemar dua sinetron tertentu yang masing-masing berdurasi 120 menit, berarti setiap harinya minimal dia akan menghabiskan waktunya di depan televisi selama 1/6 hari. Kalikan dengan tujuh hari dalam seminggu. Kalikan dengan empat minggu dalam sebulan. Kalikan dengan duabelas bulan dalam setahun. Silakan hitung sendiri.

Anehnya, sinetron sendiri sudah lebih menjadi barang poles sana poles sini yang justru tidak punya cerita yang bagus. Setelah saya amati, ternyata alur cerita sinetron Indonesia hanya berkutat pada 5 alur cerita utama. Inilah mereka…

Pertama, tokoh utama yang tentunya wanita, cantik, dan baik hati adalah anak orang kaya yang terpisah dari orangtuanya lalu dipungut dan dibesarkan oleh keluarga yang miskin.

Kedua, tokoh utamanya (masih seorang wanita yang cantik dan baik hati namun miskin) ternyata jatuh cinta pada pria dari keluarga kaya.

Ketiga, hubungan antara tokoh utama (ya si wanita yang cantik, baik hati namun miskin tadi) ternyata tidak direstui oleh keluarga pihak pria karena tidak setuju dengan latar belakang keluarga si tokoh utama.

Keempat, baik tokoh utama maupun si pria akan berjuang dengan berbagai cara agar bisa mendapatkan restu bagi ‘cinta’ mereka.

Kelima, entah yang mana namun salah satu tokoh akhirnya akan menderita luka atau penyakit parah macam amnesia (ampuh untuk mengulur cerita), kecelakaan lalu lintas (ampuh untuk membuat tokohnya cacat permanen), kanker stadium lanjut (ampuh untuk membuat tokoh yang jahat hingga jadi insaf) bahkan meninggal (ampuh untuk mengakhiri konflik yang sudah ribet).

Di luar itu hanya akan menjadi alur tambahan yang ditambah-tambahkan untuk memperumit alur cerita belaka. Misalnya, ada ibu tiri yang akan mempersulit keadaan dan membuat situasi jadi tidak menguntungkan bagi si lemah atau ada kemunculan tokoh imajinatif macam peri yang akan menolong tokoh utama atau jebakan perselingkuhan dan sebagainya.

Menonton sinetron adalah sebuah perbuatan celaka. Mengapa? Karena nyaris tidakada manfaatnya. Kalaupun di sinetron terdapat pesan moral, hal itu tidak lebih sebagai bungkus untuk menyamarkan motif si produser untuk mendapatkan keuntungan. Belum lagi, penikmat sinetron yang kebanyakan adalah kaum perempuan dewasa seringkali menonton sinetron yang berepisode-episode bersama anaknya. Karenanya, tidak heran bila beberapa anak mudah berkata kasar dan mengenal pacaran di usia dini.

Belum ada riset terpublikasi yang mengkaji secara komprehensif soal dampak negatif menonton sinetron. Hanya saja, beberapa indikasi semacam meningkatnya kebiasaan konsumsi masyarakat menunjukkan bahwa mesti ada yang meregulasi dengan jelas tayangan macam apa yang layak tonton.

Sungguh, anda tergolong orang yang beruntung bila anda memiliki kegiatan menghabiskan waktu yang lebih produktif dari sekedar menonton sinetron.

Dukung Hari Tanpa TV, 20 Juli 2008!

Cuma Satu Shaf

Juli 8, 2008

Pemandangan miris ini terjadi di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Bandung. Suatu hari di bulan Juni, beberapa saat setelah azan magrib dikumandangkan.

Cukup satu shaf saja barisan jamaah shalat magrib berjamaah waktu itu. Lainnya ke mana? Barangkali yang lainnya terlalu sibuk berkendara, berniaga, bekerja, hingga tidak sempat menunaikan shalat bersama yang lainnya.

Mirisnya, ini seperti membenarkan ucapan dosen saya yang sering menantang mahasiswa yang membuat masjid dengan ukuran besar dan luas. “Buat apa bikin masjid besar-besar? Toh nantinya yang terpakai cuma untuk satu baris saja!”

Perih.