Merayakan Lebaran
September 28, 2008
Selamat Hari Raya, Selamat Idul Fitri, Selamat Lebaran. Semua dibungkus dengan satu ucapan yang sama, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Ketupat bergantungan di mana-mana, juga beduk, juga dekorasi berbentuk masjid.
Entahlah, sejak awal Ramadhan kali ini saya sebal dengan semua montase-montase itu. Semua mendadak jadi saleh dan salehah, ditandai dengan ucapan salam yang diArab-arabkan dan baju kepanjangan yang terkadang ditambahi selendang. Tapi dangkal, sungguh banal!
Sinetron Ramadhan menjamur di setiap stasiun televisi. Ramadhan apa? Lagi-lagi hanya sinetron biasa yang karakter-karakternya dipakaikan jilbab dan peci. Kontennya tetap saja berhaluan India khas klan Punjabi. Tetap saja penontonnya setia memirsa sang sinetron, sambil menunggu waktu berbuka puasa katanya. Acara pengisi waktu sahur pun tak kalah norak, justru marak tayangan berbau kekerasan di pagi-pagi bulan penuh berkah.
Doa-doa yang terpanjat mendengung memenuhi masjid, surau dan langgar, terdengar lebih dengung dari biasanya. Lembaran mushaf dibolak-balik dengan cepat, masing-masing berusaha berpacu merapalkan ayat-ayat suciNya. Jemaah-jemaah yang bersaf di belakang imam berlomba mencari baris terdepan, mencoba menjemput pahala Ramadhan.
Di sisi lain Kota Bandung, supir-supir angkot tetap mengebulkan asap rokok sembari menarik helaan pemberi nafkah bagi keluarganya. Warung nasi pinggir jalan tetap berjualan, berusaha mencegat satu dua orang yang ternyata tidak berpuasa. Polisi lalu lintas yang tengah bertugas di Simpang Lima menegak air mineral di tengah hari yang teriknya luar biasa.
Hingga akhirnya sepuluh hari terakhir tiba, justru sebagian besar dari kita memasukkan diri dalam riuhnya pusaran arus mudik. Menjebakkan diri berjam-jam di dalam kendaraan, berharap bisa segera bertemu dengan keluarga tersayang. Sebelum pulang, tak lupa berbelanja baju untuk dipakai di Hari Raya. Diskon dan rabat sudah siap menyambut para pemburu pakaian yang akan bertawaf di pusat-pusat perbelanjaan.
Yah, itulah sebagian potret Ramadhan hingga menjelang Lebaran di negeri tercinta ini. Dalam hemat saya, Lebaran adalah sebuah ritus. Ritus transisi dari Ramadhan ke bulan-bulan selanjutnya. Masing-masing pribadi berhak punya apresiasi sendiri terhadap Ramadhan yang berujung pada satu momen peralihan, Lebaran. Karena shaum diwajibkan atas orang-orang beriman agar mereka bertakwa, seyogyanya yang nikmat dalam merayakan Lebaran adalah mereka yang menjalani lelaku Ramadhan yang sudah digariskan di awal. Semoga kita termasuk dalam umat yang diseru olehNya.
Selamat Idul Fitri 1429 H
Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum
Selamatkan Babakan Siliwangi, Kami Tidak Butuh Mal Baru!
September 16, 2008
Akhirnya puasa menulis saya berakhir juga. Mulanya saya ingin memendam hasrat menulis saya setidaknya sampai sidang TA pertama saya terlalui. Hanya saja, saya merasa harus menulis. Tentang ini, tentang Babakan Siliwangi alias Baksil.
Saya sempat skeptis, buat apa berpayah-payah mengkaji masalah ini dalam-dalam. Beberapa pesan masuk ke inbox saya, Ayo Tandatangani Petisi Online katanya. Saya mencoba menjadi abai. Percuma, percuma saja. Walikota Bandung akan tetap tuli dan DPRD dengan sintingnya tetap menyetujui keputusan Si Orang Tuli. Hingga akhirnya seorang teman yang (bahkan) ada di Korea Selatan ikut mengajak untuk menandatangani petisi ini, baru saya tergerak untuk ikut.
Selamat, saya menjadi orang ke-2860 yang mempetisi masalah ini. Saya mencermati senarai mereka yang ikut menandatangani petisi. Saya takjub, nama-nama pemetisinya sangat familiar di mata saya. Ada dosen saya, ada teman seangkatan, ada teman di kampus, ada alumni, ada teman sd saya, ada orang-orang yang saya hormati; turut berkontribusi. Meluangkan semenit atau dua, sekadar menyatakan kalau kami peduli.
Bandung butuh investasi, katanya. Menjadikan Babakan Siliwangi sebagai daerah tujuan dengan memasukkan fungsi seperti gedung pertunjukan, galeri, tempat olahraga, dan butik akan mengundang pemodal, katanya. Luas bangunannya tidak akan lebih besar dari dua ribu meter persegi, seluas bangunan lama yang terbakar, katanya. Fungsi Babakan Siliwangi sebagai ruang terbuka hijau kota tidak akan terganggu, katanya.
Stop, cukup membodohi kami sampai di sini. Mari kita uji kata-kata tadi.
Tebak berapa luas Bandung Indah Plasa. Berapa? duaribu, limaribu? Lantai dasarnya saja berluas limabelas ribu meter persegi sementara lantai dasar Ciwalk tanpa bagian ekstensionnya berluas sekitar enam ribu meter persegi. Tidak masuk di logika saya bahwa seabrek-abrek fasilitas tempat pertunjukan, butik, pusat kebudayaan, dan sarana olah raga tadi akan cukup menempati lot seluas dua ribu meter persegi. Masih mau membodohi kami?
Delapan jam lagi kami turun ke jalan, mencoba berteriak pada Si Orang Tuli.
Lucu!
Agustus 9, 2008
Kata ‘lucu’ telah banyak mengalami penyimpangan makna. Jika mulanya kata ‘lucu’ digunakan untuk mendeskripsikan sifat yang mengundang tawa (en=funny), justru sekarang ini kata ‘lucu’ bisa berarti sangat luas. Misalnya saja dalam contoh-contoh kasus seperti di bawah ini,
Kasus #1 (A dan B adalah remaja-remaja putri)
A: Ih, cowok itu lucu banget!
B: Yang mana??
kesimpulan: lucu= keren, cakep, imut
Kasus #2 (lagi-lagi A dan B adalah remaja putri)
A: Baju kamu lucu deh!
B: Makasih
kesimpulan: lucu=bagus
Kasus #3 (kembali, A dan B adalah remaja-remaja putri)
A: Laper nih, makan yuk…
B: Yuk,, makan apa?
A: Apa aja deh, asal makanan yang enak terus rasanya lucu…
kesimpulan: lucu=unik
Cukup mengejutkan bukan? Masih banyak penyimpangan-penyimpangan lain dalam penggunaan bahasa terutama pada kata ‘lucu’. Ada yang mau menambahkan??
How Sunda Are You?
Agustus 5, 2008
‘How Sunda Are You?’ adalah aplikasi Facebook yang baru saya tambahkan di profil saya,, seru juga. Hasil tes ke-Sunda-an saya adalah…*jreng-jreng-jreng*
URANG SUNDA ASLI
hehe,, pertanyaannya memang agak2 gampang buat saya yang dari lahir sudah tinggal di Tatar Sunda dan dipaksa belajar Basa Sunda di sekolah. Misalnya, apa istilah untuk anak gajah? Kalau diingat2, pelajaran Basa Sunda termasuk pelajaran yang tidak saya sukai karena Basa Sunda lebih tepat disebut keahlian (skill) daripada pengetahuan (knowledge).
Mama saya yang orang Melayu dan Papa saya yang orang Minang bersepakat untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi para anak mereka. Alhasil, saya dan saudara2 saya yang lain sama sekali asing dengan Basa Sunda dan serasa belajar bahasa alien saat belajar bahasa ini.
Justru saat SMA saya jadi lebih mahir menggunakan Basa Sunda, padahal waktu itu sudah tidak ada kewajiban untuk belajar bahasa ini. Kemahiran saya ini cenderung disebabkan oleh pergaulan saya yang kebanyakan dengan teman2 yang Sunda banget. Nah, setelah kuliah saya justru sering dijadikan juru terjemah oleh teman2 saya saat menawar, menanyakan arah jalan atau berinteraksi dengan penduduk asli Sunda oleh teman2 saya yang kebanyakan bukan orang Sunda.
Berkat kelihaian saya dalam berbahasa Sunda (plus logat saya yang makin Nyunda), saya sering disangka sebagai orang Sunda. Padahal…
Padahal sebenarnya saya orang mana ya? Dibilang orang Minang, bukan. Garis keturunan Minang yang matrilineal tidak saya dapatkan. Dibilang Melayu juga bukan, karena Suku Melayu menganut garis patrilineal. Bahasa Minang saya cuma pasif saja, kalau Bahasa Melayu sih lumayan bisa. Hemm,, bingung juga.
Kata seorang teman, golongan orang seperti saya ini namanya mereka yang indiferen. Tidak jelas. Tidak terdefinisi. Saya jelas tidak sendirian. Para indiferen biasanya muncul dari kalangan kaum urban, mereka yang datang ke perkotaan untuk mencari apa yang tidak mereka temui di daerah. Berbagai suku dan latar belakang budaya bercampur, bersatu dan memunculkan keluarga-keluarga urban yang meng-Indonesia tetapi jauh dari akar budayanya.
Lahirlah anak-anak yang tidak pernah mengenal nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur mereka. Mereka begitu rentan terhadap hantaman globalisasi dan budaya populer. Eng-ing-eng, lahirlah generasi MTv. Generasi yang jago bicara Indonesia campur slang Inggris tapi arti kata ‘watak’ saja tidak tahu. Generasi yang mahir mendesain bangunan dengan gaya neo klasik tapi tidak tahu cara mendesain menggunakan mandala. Generasi yang gemar menertawakan kelakuan Mr. Bean namun tidak kenal cerita Kabayan.
Untungnya sekarang sudah ada kesadaran untuk memperkenalkan kebudayaan daerah kepada generasi muda. Misalnya dengan mengikutkan mereka pada paket-paket liburan dengan tema ‘Kembali ke Alam’ atau ‘Kampung Ulin’. Anehnya program-program itu laris walau ditawarkan dengan harga yang –menurut saya– kelewat mahal.
Padahal mah, moal sakitu mahalna meureun…
Hemat AC Yuk!!!
Juli 30, 2008
Saat ini, adalah pemandangan yang lazim bila sebuah (atau berbuah-buah) unit pendingin AC menempel di dinding luar bangunan di Indonesia bahkan di kota yang terkenal dingin macam Bandung. Unit pendingin itu nemplok sana nemplok sini, seringkali perletakannnya tanpa memperhatikan estetika. Alih-alih menggunakan pengondisian udara pasif, unit-unit pendingin digunakan sebagai alat pengondisian udara untuk menyamankan kondisi termal ruangan demi mencapai suhu optimum agar produktivitas kerja meningkat. Dingin sih, tapi dijamin mahal. Alhasil, bukannya untung malah jadi buntung.
Kalaupun tidak memungkinkan untuk menghilangkan fungsi AC, minimal dikurangi alias dihemat. Berikut ini serba-serbi dalam penghematan AC.
- Mengapa harus berhemat dalam penggunaan AC? AC yang punya daya listrik besar ternyata punya andil lebih dari 50% dalam angka konsumsi listrik bangunan, lebih besar dari porsi konsumsi listriknya lampu dan alat elektronik lainnya.
- Siapa yang harus berhemat? Ya, kita. Saya, kamu, kita semua. Kan kita semua penghuni bumi tercinta ini…
- Bilamana harus berhemat dalam penggunaan AC? Kurangi penggunaan AC jika memang kondisi udaranya tidak terlalu panas, misalnya waktu pagi dan sore.
- Penggunaan AC yang mana yang harus dihemat? AC yang tidakberhubungan dengan kegiatan produktif mestinya bisa dikurangi penggunaannya atau ditiadakan sama sekali.
- Di mana harus berhemat dalam penggunaan AC? Di ruangan yang tidak terlalu banyak digunakan oleh orang (misalnya wc.. :p) tidak usah dipasang AC
Nah, setelah cukup jelas begini-begitunya penghematan AC, bisa mulai berhemat dong?
Gimana caranya???
Gampang, ini ada sedikit tips penghematan yang saya sarikan dari berbagai sumber…
- Nyalakan AC paling cepat sejam setelah memulai kegiatan dan matikan paling lambat sejam sebelum mengakhiri kegiatan, gunakan penghawaan alami dari jendela dan bouvenlicht saja. Kondisi iklim mikro di sekitar bangunan saat pagi dan sore cukup memadai untuk menyamankan suhu ruangan.
- Setel output AC di angka 22-24 derajat celcius. Walaupun suhu yang lebih dingin itu lebih enak, tapi rentang suhu ini justru adalah rentang suhu optimum yang akan menunjang produktivitas kerja.
- Pilih jenis AC split dibanding sentral atau package. Unit-unit AC yang terpisah akan memudahkan dalam mengefisienkan ruangan yang terhawakan.
***
Mulai dari hal yang kecil
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari sekarang
Yeah!



