Selamatkan Babakan Siliwangi, Kami Tidak Butuh Mal Baru!
September 16, 2008
Akhirnya puasa menulis saya berakhir juga. Mulanya saya ingin memendam hasrat menulis saya setidaknya sampai sidang TA pertama saya terlalui. Hanya saja, saya merasa harus menulis. Tentang ini, tentang Babakan Siliwangi alias Baksil.
Saya sempat skeptis, buat apa berpayah-payah mengkaji masalah ini dalam-dalam. Beberapa pesan masuk ke inbox saya, Ayo Tandatangani Petisi Online katanya. Saya mencoba menjadi abai. Percuma, percuma saja. Walikota Bandung akan tetap tuli dan DPRD dengan sintingnya tetap menyetujui keputusan Si Orang Tuli. Hingga akhirnya seorang teman yang (bahkan) ada di Korea Selatan ikut mengajak untuk menandatangani petisi ini, baru saya tergerak untuk ikut.
Selamat, saya menjadi orang ke-2860 yang mempetisi masalah ini. Saya mencermati senarai mereka yang ikut menandatangani petisi. Saya takjub, nama-nama pemetisinya sangat familiar di mata saya. Ada dosen saya, ada teman seangkatan, ada teman di kampus, ada alumni, ada teman sd saya, ada orang-orang yang saya hormati; turut berkontribusi. Meluangkan semenit atau dua, sekadar menyatakan kalau kami peduli.
Bandung butuh investasi, katanya. Menjadikan Babakan Siliwangi sebagai daerah tujuan dengan memasukkan fungsi seperti gedung pertunjukan, galeri, tempat olahraga, dan butik akan mengundang pemodal, katanya. Luas bangunannya tidak akan lebih besar dari dua ribu meter persegi, seluas bangunan lama yang terbakar, katanya. Fungsi Babakan Siliwangi sebagai ruang terbuka hijau kota tidak akan terganggu, katanya.
Stop, cukup membodohi kami sampai di sini. Mari kita uji kata-kata tadi.
Tebak berapa luas Bandung Indah Plasa. Berapa? duaribu, limaribu? Lantai dasarnya saja berluas limabelas ribu meter persegi sementara lantai dasar Ciwalk tanpa bagian ekstensionnya berluas sekitar enam ribu meter persegi. Tidak masuk di logika saya bahwa seabrek-abrek fasilitas tempat pertunjukan, butik, pusat kebudayaan, dan sarana olah raga tadi akan cukup menempati lot seluas dua ribu meter persegi. Masih mau membodohi kami?
Delapan jam lagi kami turun ke jalan, mencoba berteriak pada Si Orang Tuli.
Mendendangkan Lagunya, Yogyakarta
Agustus 27, 2008
Backpacking, obsesi saya sedari dulu yang baru tercapai dua pekan yang lalu. Yogyakarta, kota eksotis di tengah Pulau Jawa yang jadi tujuan saya. Saya bersama para teman Rumah Belajar KM ITB, masing-masing dengan bermodal seratus ribu rupiah bertekad menjelajahi Yogyakarta.
Siapkan sneakers dan tas punggung, kita ketemu di Kiaracondong! Janganlah lewat Stasiun Bandung, toh nanti kita turun di Lempuyangan; bukan Tugu. Mari merakyat, merasai transportasi kelas ekonomi.
Lokomotifnya datang; menderit, menjerit. Kami berlari menuju gerbong ketiga. Ups, sudah ada yang menduduki kursi-kursi kami. Ibu tua dan anaknya. Ternyata keduanya kesulitan membaca. Maaf, mas dan ibu salah kursi. Mereka pergi dengan terbungkuk-bungkuk. Loko dihela, kereta merayapi rel dengan terengah-engah. Pedagang asongan pulang anting sepanjang koridor gerbong.
Mijon, mijon, mijon…
Oh, kita masih di Jawa Barat.
Malam mulai memanjat, beberapa dari kami kalah dalam pertempuran melawan kantuknya. Kartu dikocok, poker dimainkan untuk membunuhi waktu hambar sepanjang perjalanan. Pedagang asongan masih wara wiri sepanjang koridor gerbong.
Mison, mison, mison…
Sudah sampai Jawa Tengah rupanya. Semoga kita cepat sampai di Jogja. Amin.
Subuh sudah tinggi saat akhirnya kami menginjakkan kaki di Yogyakarta. Kahuripan laju lagi, sampai ke Kediri. Selamat jalan, wahai kereta api tanpa api. Stasiun Lempuyangan hiruk pikuk dengan semua kegiatannya. Sibuk namun lembut, begitu khas Yogyakarta. Ah, saya mulai suka kota ini.
Sip, sneakers kami siap beraksi. Menjelajah sudut-sudut Jogja; Pingitan, Umbulharjo, Malioboro, dan Alun-alun. Dari karya besar Gunadharma di Magelang hingga Kalikuning lalu ke Pantai Depok di selatan. Jangan lupa di Malioboro mampir ke Mirota, batiknya tahan sampai 30 tahun katanya. Sudah terlalu sore saat mampir ke Keraton. Sang Astana sudah tak terima tamu. Yasudahlah, lain kali saja.
Dua hari berlalu, saatnya kami kembali ke kehidupan nyata. Murahnya makanan, nasi kucing, ngangkring di pinggir Kali Code; jelas tidak terlupakan. Sayang sekali, waktu liburan sudah habis. Akhirnya, Malioboro jadi titik bertolak. Malam mulai beranjak keluar menggantikan sore. Tenda-tenda dibentangkan, tikar-tikar lesehan digelar. Malioboro berganti aktor, dari penjual suvenir ke penjual makanan. Lepas magrib, Malioboro resmi bersalin rupa. Suasana yang mengingatkan saya pada lagu Katon Bagaskara.
Selamat tinggal Jogja, pasti kami datang lagi.
***
Yogyakarta
(dipopulerkan oleh Katon Bagaskara)
Pulang ke kotamu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Yogya
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditelan deru kotamu
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Permata di Mata-mata Mereka yang Bercahaya
Agustus 25, 2008
Tanggal 19 Agustus 2008 yang lalu, Hari Perdana Belajar di Rumah Belajar KM ITB resmi dimulai. Selasa, Rabu, hingga Jumat berlalu; saya belum kunjung sempat datang ke Sangkuriang 19A. Akhirnya, Sabtu lalu saya berjodoh dengan para malaikat itu.
Pluk, seorang bocah menggelayut di punggung saya. Irsan namanya. Dalam hati saya bergumam, nih anak SKSD pisan. Baru kenalan udah maen nemplok aja..
Irsan gak ngaji?
Aku libuuur…
Sekarang mau belajar apa?
Gamau belajar, mau gambar aja…
Boleh, tapi abis ngegambar belajar ya??
Gamau..
Skak mat. Saya mati kutu. Yasudah, biarkan dia menggambar saja dulu. Sementara Irsan menggambar, datang segerombolan anak yang lain yang maunya cuma pindah main ke Rumah Belajar. Main layangan dalam ruangan. Bayangkanlah.
Kutukkutukkutuk, datang lagi dua orang anak pra-SD yang selalu main bersama. Buku tulisnya disorongkan ke hadapan saya.
Mau belajar apa? nulis?
Enggak. Kakak, kakak nomer hapenya berapa?
Hah?
Tulis di buku aku ya…
Saya tuliskan duabelas angka nomor HP saya. Mereka berdua berebutan, saling mengklaim kepemilikan atas kertas bernomer hape saya itu. Sesaat saya merasa jadi selebritis [:p]. Cuma sesaat karena setelah itu Irsan meminta dituliskan abjad untuk ia tirukan di buku latihannya. Sudah selesai menggambar rupanya dia. Belum dua baris latihan menulisnya ia tuntaskan, Difa mengajak Irsan main kucing-kucingan. Irsan menolak, Difa menjerit minta Irsan ikut main.
Mulai chaos.
Yandi Rama datang, syukurlah. Ada bala bantuan. Yandi mengurusi geng Para Bangor supaya tidak mengacau konsentrasi yang sedang belajar. Sandi mengajari anak-anak kelas 3 dan 4, Kasfi mengajar anak-anak kelas 5, dan saya mengajari anak-anak TK, kelas 1 dan kelas 6.
Kami pun ’selesai’ belajar 2 jam kemudian. Dadaah, kata mereka. Sebelum dadah, harus salim dulu. Habis dadaah, jangan lupa bilang Assalamualaikum. Waalaikumsalam, jawab kami.
Wow, hari yang luar biasa. Ada lelah, ada bahagia. Terutama saat melihat permata-permata yang siap digosok di mata-mata mereka yang bercahaya.
Pasti butuh tenaga banyak untuk mengilapkannya, semoga yang kami kerjakan diberkahiNya.
Untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.
Untuk generasi muda yang lebih baik.
Untuk Indonesia yang lebih baik.
Amin.
Mengeja Kembali Hakikat Pendidikan
Juni 30, 2008
Pendidikan di negara ini memang sudah sungguh sakit, baik sistemnya, pelakunya, hingga regulatornya. Eksesnya jelas, dunia pendidikan kita makin terpuruk dari hari ke hari. Jika tidak, dari mana datangnya angka kasus putus sekolah yang demikian tinggi. Fakta berbicara, kasus putus sekolah nyaris menyentuh bilangan 12 juta siswa pada 2007. Angka dua belas juta berarti sama saja ketika Anda berada di Jakarta, kemanapun Anda pergi setiap manusia yang anda lihat adalah anak yang putus sekolah. Bangsa ini sedang menunggu bom waktu meledak ketika mendapati ada satu generasi yang hilang karena tidak bisa menjangkau pendidikan.
Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diluncurkan pemerintah sebagai program kompensasi kenaikan BBM tahun 2005 lalu tidak cukup sakti untuk mengerem angka putus sekolah. Jangan pernah berharap banyak pada program BOS ini karena akan datang ancaman baru. Cepat atau lambat RUU BHP akan disahkan, padahal kekuatan BHP sangat lemah dalam mengamankan aksesibilitas masyarakat marjinal pada pendidikan.
Yang perlu dicermati bersama bahwa sekolah tidak sama dengan pendidikan. Sekolah adalah proses, sementara pendidikan adalah keseluruhan sistemnya. Celakanya, bangsa ini semakin terbiasa dengan pendidikan abal-abal yang sekolahnya pun ancur-ancuran, kadang malah ancur beneran (maksudnya sekolah yang roboh). Dana pendidikan yang trilyunan itu dikucurkan sembarangan hingga hanya menetes seadanya bagi mereka yang berhak. Sekolah pun dituntut menjadi panci presto, harus memberikan output sesuai standar UAN dalam waktu yang singkat. Alhasil, ribuan siswa kemudian tak lulus UAN. Mereka lalu dipunguti Depdiknas dan dirangkul lagi dalam Ujian Paket C. Sungguh sebuah sistem yang abal-abal.
Seabad lalu, kebangkitan bangsa ini bermula dari kesadaran sekelompok pemuda yang menyadari bahwa dirinya terjajah. Mereka yang kemudian menamai kumpulannya Boedi Oetomo ini adalah generasi muda Indonesia yang paling awal mendapat pendidikan, buah dari politik balas budi pemerintah kolonial. Berdirinya Boedi Oetomo kemudian menginspirasi berdirinya organisasi-organisasi lain yang memperjuangkan hal senada. Mereka berjuang, hingga akhirnya bangsa ini berani mengaku merdeka pada 1945.
Freire berkata, hakikat pendidikan adalah membebaskan. Sejiwa dengan itu, Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia berkata bahwa pendidikan seyogyanya memerdekakan. Jika kini kita tidak menganggap bahwa pendidikan terjangkau bagi setiap penduduk Indonesia adalah hal mendesak yang harus diperjuangkan oleh semua pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat), mari bertanya pada diri sendiri,
Apakah bangsa kita adalah bangsa yang merdeka?
(Ditulis untuk memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional)
We Call It “The Studio”
April 30, 2008
bipbip,, sebuah sms masuk…
bungabukannamasebenarnya: sal, lagi ngapain??
shallypristine: lagi studio…
bipbip,, sebuah telepon masuk…
sebutsajanamanyamelati: sal, lagi di mana??
shallypristine: lagi di studio
bipbip,, sebuah IM masuk…
sifulanah: kenapa lo gak mau ikut nonton, sal?
shallypristine: lagi gak mood nih, abis nilai studio gw yang kemaren baru keluar jelek…
…dan seterusnya dan seterusnya…
Hanya satu kata ’studio’ tapi kata ini bisa berarti banyaaak hal bagi kami, mahasiswa arsitektur. Studio bisa berarti tempat, aktivitas, hingga mata kuliah ber-SKS obesitas.
Studio sebagai kata keterangan.
Studio sebagai kata keterangan berarti studio sebagai tempat kami mengerjakan semua proses kreatif mulai dari brainstorming ide sampai mempresentasikan ide di atas kertas. Di arsitektur ITB, ada 5 buah studio untuk mahasiswa pascasarjana, tugas akhir, TPB, tingkat 2, tingkat 3, dan tingkat 4. Berhubung di jurusan arsitektur hanya ada satu macam studio yaitu studio perancangan arsitektur, jadinya studio yang ada dipisah-pisah berdasarkan tingkatan kuliah.
Studio sebagai kata kerja.
Studio sebagai kata kerja yang belakangan dikenal sebagai ‘nyetudio’ adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan semua kegiatan yang berkaitan dengan pengerjaan tugas mata kuliah studio. Survei, mengumpulkan data, membaca buku-buku referensi di perpus, menganalisis data, programming, membuat maket, membuat skema desain, asistensi, membuat kop kertas tugas, menggambar, mengeplot, melayout, deelel, deelel. Extremely exhausting!
Studio sebagai kata benda.
SKS-nya studio ini obesitas bener. Tiap semester (sejak semester 3 sampai semester 7) ada serial mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur yang jumlah sksnya sama, 8 sks. malahan ada joke gini, studio itu 8 sks tapi effortnya 24 sks. Alhasil, seluruh jiwa dan raga anak arsi dicurahkan untuk menggapai A di mata kuliah yang nilainya susahsusahsusah ini. maklum, sekalinya dapet C, sirnalah ipe di atas 3..
Ya, itulah sedikit cerita tentang kata yang menjadi menu wajib sehari-hari saya selama tiga tahun terakhir. Sarat cerita, kenangan, dan pelajaran yang saya dapat dari kata studio yang bunyinya sangat ‘nyeni’ ini.



