Dua Jempol Untuk Jalan Sesama
Juni 30, 2008
Familiarkah anda dengan tayangan Jalan Sesama (JS) ? Variety show untuk anak dengan durasi 30 menit ini diputar di stasiun Trans 7 setiap pukul 13.30 selama Senin sampai Jumat. Jangan heran dengan banyaknya kesamaan antara JS dengan Sesame Street (SS) yang asalnya dari Amerika sana, JS memang SSnya Indonesia. Awal 2000-an, SS pernah ‘dilokalkan’ oleh SCTV namun tidak berhasil menggaet pemirsa sebagaimana suksesnya Sesame Street dahulu.
Oleh karena itu, kali ini konsep repackage SS untuk anak-anak Indonesia dalam JS dibuat dengan lebih matang. Jangan harapkan Elmo, Grover, Cookie Monster atau Kermit akan tampil dominan dalam JS. Indigo Production sebagai production house yang memenangkan tender produksi JS justru menampilkan karakter-karakter baru sebagai tokoh utama.
Mereka adalah Tan-tan, Jabrik, Momon dan Putri. Tan-tan si orang utan adalah karakter yang dewasa, berwawasan luas dan sangat menyukai pisang. Momon si monyet adalah karakter yang kreatif dan senang menggambar. Jabrik si badak bercula satu adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu dan polos. Sementara Putri digambarkan sebagai gadis kecil yang periang dan aktif.
Selain keempat tokoh boneka tadi, di JS juga hidup karakter-karakter lain yang mendukung gambaran kehidupan yang sangat meng-Indonesia. Ada keluarga Pak Bagus yang merupakan tipikal keluarga Indonesia, ada Pak Dalang yang sering mendongeng untuk anak-anak di JS, dsb. Suasana setting tempat syuting pun dibuat seperti berada di kebanyakan kawasan sub-urban Indonesia dengan rumah beratap miring, pagar tanaman, dsb.
JS memang diharapkan bisa menjadi sarana edukasi bagi anak. Pemilihan orang utan dan badak bercula satu sebagai karakter utama disengaja untuk mengenalkan kedua jenis binatang langka Indonesia kepada anak-anak. Momon dan Putri juga tidak kalah Indonesia, kedua karakter ini mengenakan pakaian khas Indonesia. Momon menggunakan sarung (?) tenunan ulos dan Putri senantiasa mengenakan baju berbahan batik.
Dua jempol saya acungkan untuk JS. Tidak hanya karena penggarapannya yang matang, tetapi juga karena JS menjadi preseden baik untuk dunia hiburan anak Indonesia. Dua jempol juga saya acungkan untuk Trans 7 yang konsisten menghadirkan tayangan anak bermutu melalui deretan acara macam Si Bolang, Laptop si Unyil, Jalan Sesama dan Cita-citaku. Salut!
Namanya Pulau Bangka
April 24, 2008
Pulau Bangka yang jadi tempat mudik saya selama empat tahun terakhir ini merupakan bagian dari propinsi kepulauan Bangka-Belitung. Yep, propinsi ini memang terdiri dari dua pulau besar, Bangka dan Belitung serta beberapa pulau kecil yang ada di sekitar dua pulau besar tadi. Pulau Bangka berukuran lebih besar dari pulau Belitung. Pulau Belitung sendiri belakangan jadi lebih tenar dari Pulau Bangka berkat Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya.
Cuma butuh satu kata untuk mendeskripsikan Bangka: p-a-n-t-a-i. Sejak pertama kali datang ke Bangka waktu tahun 1992, saya cuma ingat pantainya yang indah, bersih dan menakjubkan. Mulai dari yang landai dan berpasir putih sampai yang terjal dan berbatu, semua ada di Bangka. Sayangnya, pantai-pantai ini belum terkelola dengan baik. Setahu saya, hanya Pantai Parai yang sudah ditangani oleh manajemen dan dipasarkan dengan label Parai Beach Resort. Selebihnya hanya dikelola seadanya oleh pemerintah daerah. Belakangan ada itikad baik untuk mendesain pesisir Pantai Pasir Padi dengan mengkompetisikan perancangan Pasir Padi Waterfront City. Namun setelah saya melihat desain pemenangnya, saya harus menahan diri untuk berharap banyak pada masa depan Pantai Pasir Padi dan hanya bisa menghela napas.

Selain pantainya, dunia kuliner Bangka juga patut dijelajahi. Kemplang, pantiaw, model, empek-empek, panekuk, otak-otak, es campur kacang merah, dan tekwan adalah makanan khas Bangka yang citarasanya tidak perlu diragukan lagi. Titik-titik jajan kuliner bisa ditemui di sekitar Pasar Mambo, Bank BCA, dan beberapa tempat lainnya. Sedikit tips dari saya, kalau sedang bingung untuk memilih penjual makanan yang enak antara penjual dari pribumi atau Tionghoa maka pilihlah yang penjualnya dari etnis Tionghoa. Dijamin enak dan halal, karena masyarakat Tionghoa Bangka yang dalam bahasa Bangka disebut ‘urang Cin’ memang sudah terkenal kelihaiannya dalam memasak dan menghargai pembeli Melayunya yang kebanyakan muslim.

Berada di Bangka juga berarti anda tidak akan menemukan pengemis atau pengamen di sudut-sudut kota. Hal ini tidak berarti Bangka sudah sejahtera, angka kemiskinan di sini juga cukup tinggi. Orang Bangka pantang memelas meminta kasihan dari yang lain. Pendek kata, lebih baik bekerja kasar daripada harus meminta-minta. Orang Bangka juga terkenal senang kumpul-kumpul. Saban malam ada saja saudara atau tetangga yang datang berkunjung ke rumah, jika tidak maka gantian kita yang pergi bertamu.
Bahasa Bangka cukup mudah, seperti bahasa melayu tapi akhiran katanya adalah e seperti pada teh. Misalnya: ada -> ade, kemana -> kemane, dia -> die, dst. Seringkali juga bahasanya disingkat-singkat. Misalnya, aku -> ‘ku, kamu -> ‘ka, tidak -> ‘dak, telah -> ‘lah, belum -> ‘lum, dst.
Tertarik melancong ke Bangka? Ada dua cara untuk mencapai Bangka dari Jawa, lewat laut atau lewat udara. Jika lewat laut, bisa menggunakan kapal laut dari Tanjung Priok dengan waktu tempuh sekitar 24 jam atau menyeberangi Selat Bangka dari Palembang menggunakan kapal jetfoil dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Perjalanan lewat udara juga cukup memadai, dengan menggunakan kapal terbang, Bangka bisa dicapai dari Cengkareng dalam 50 menit saja. Harga tiket? Tiket kapal laut biasa dilego dengan kisaran 100-170 ribu rupiah sementara tiket pesawat biasa dibanderoli 300-670 ribu rupiah tergantung musim liburan atau tidak.
Demikian sedikit cerita tentang pulau kelahiran ibu saya. Walau tidak pernah secara de facto bermukim di Bangka, saya cinta pulau ini!
(gambar dicomot dari wikimapia.org, idrianita.wordpress.com, dan rendymaulana.com,, makasi!!!)
Cendekiawan Muslim Favoritku
Februari 18, 2008
Waktu sekolah dasar dulu, sesi pelajaran agama yang saya sukai adalah Sejarah Kebudayaan Islam. Soalnya, di mata pelajaran ini saya bisa tahu betapa kerennya sepak terjang cendekiawan muslim justru saat dunia barat sedang bergulat dengan pemikiran kolot mereka di masa kegelapan abad pertengahan. Dari deretan nama cendekiawan muslim itu, ada beberapa nama yang jadi favorit saya. Inilah mereka…
Ibnu Sina, orang ini jadi cendekiawan favorit saya karena namanya sama dengan nama SD saya. Hahaha. Ibnu Sina ini dikenal sebagai tokohnya dunia kedokteran di awal milenium kedua. Bukunya yang berjudul Qanun fi at-Tibb atau Aturan Kedokteran yang kemudian diterjemahkan menjadi The Canon of Medicine dipergunakan secara luas sebagai referensi di dunia kedokteran barat hingga masa Rennaisans. Selain ahli kedokteran, Ibnu Sina juga seorang filsuf tersohor. Postulatnya yang terkenal adalah mengenai asal-usul penciptaan alam semesta yang berasal dari pemancaran (emanasi). Soal postulatnya ini, Ibnu Sina alias Avicenna mendapat tentangan keras dari ulama besar sejaman yaitu Al-Ghazali yang membantah postulat tersebut dalam sebuah tulisan berjudul Tahafuf al-Falasifah atau Kekacauan Para Filsuf.
Al-Farabi. Lahir dan besar di Irak, Al-Farabi adalah seorang cendekiawan yang unik karena memiliki keahlian utama di bidang musik. Karyanya yang terkenal di bidang musik adalah Kitab al-Musiqi al-Kabir yang memuat risalat di bidang musik. Selain menulis buku, Al-Farabi juga memainkan dan menemukan berbagai alat musik Arab klasik. Selain menekuni dunia musik, Al-Farabi juga menekuni banyak bidang lain diantaranya logika dan filsafat.
Al-Kindi. Bisa dibilang, Al-Kindi adalah pionir di banyak bidang. Cendekiawan yang satu ini meletakkan pondasi mendasar pada dunia matematika dengan memperkenalkan sistem angka nol pada sistem angka Arab yang akhirnya meluas ke seluruh dunia. Bayangkan jika Al-Kindi tidak melakukan hal ini, betapa repotnya kita ketika harus menuliskan angka 1986 ke dalam simbol angka romawi. Al-Kindi juga yang mementahkan mitos umum di dunia para alkemis pada waktu itu yaitu mengubah logam biasa menjadi logam mulia seperti emas dan perak. Semasa hidupnya, Al-Kindi menulis sedikitnya 260 buku.
Ketiga tokoh di atas adalah segelintir dari banyak cendekiawan besar muslim pada masa itu. Kesamaan dari mereka bertiga adalah penguasaan tingkat tinggi pada berbagai bidang keahlian. Sesuatu yang sulit ditemukan pada cendekiawan saat ini. Sekarang saatnya bertanya pada diri sendiri, apa karya besarku?
Sumber tulisan dikutip dari materi pelajaran SKI untuk sekolah dasar, Ensiklopedia Islam dan (tentunya) wikipedia.org.
Veronica Guerin: Mengenang Udin
Januari 29, 2008
Film ini berkisah tentang kisah Veronica Guerin–yang diperankan oleh Cate Blanchett- dalam mengungkap jaringan peredaran narkoba di sekitaran Dublin, Republik Irlandia sejak tahun 1994 hingga tewasnya Guerin di tahun 1996. Saya tidak akan banyak berkomentar tentang film ini melainkan lebih menyoroti sosok Guerin yang cerkas, berani dan cerdas. Di Jalan Raya Naas, Guerin ditembak mati pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh John Gilligan, seorang bandar narkoba yang kasusnya tengah diusut Guerin. Kematiannya menjadi kehilangan yang besar bagi Rep. Irlandia sampai-sampai kematian seorang Guerin mampu mendorong parlemen, polisi dan masyarakat untuk melakukan perubahan. Pasca kematian Guerin, angka penyalahgunaan narkoba di Rep. Irlandia turun hingga 15% yang merupakan efek multiplier dari kebijakan pemerintah memberantas kejahatan tersebut.
Di akhir film yang diangkat dari kisah nyata ini disebutkan bahwa sejak kematian Guerin yang merupakan jurnalis Sunday Independent, Rep. Irlandia, 196 jurnalis di seluruh dunia meninggal ketika sedang melakukan tugas jurnalistiknya. Barangkali salah satu dari bilangan jurnalis yang meninggal tadi adalah Udin, wartawan harian Bernas yang meninggal di medio 1990an. Nasib Udin memang serupa dengan Guerin, dihilangkan nyawanya oleh orang yang tidak menyukai sepak terjang kejurnalisan masing-masing mereka. Bedanya, konspirasi kasus pembunuhan Guerin terungkap dengan jelas dan pelakunya dihukum kurungan seumur hidup sementara kasus Udin menguap ditelan waktu dan mulai dilupakan orang.
Kejadian pembunuhan Udin terjadi saat saya masih duduk di bangku SD. Ingatan saya tentang hal itu hanya samar-samar saja. Kasus yang tengah diusut Udin pun tak saya ingat dengan jelas. Yang saya ingat hanyalah Udin didatangi orang misterius yang mendatangi rumahnya di malam hari. Beberapa hari setelah itu, jenazah Udin ditemukan tanpa nyawa. Penyidikan, penelusuran dan persidangan atas kasus pembunuhan Udin sempat dilakukan namun sama sekali tidak memuaskan. Publik percaya, ada konspirasi yang lebih besar di balik kasus Udin dibanding pembunuhan biasa.Hal yang sama kembali terjadi pada kasus pelanggaran HAM yang lumayan anyar, kasus Munir. Publik masih meragukan vonis yang dijatuhkan pada Pollycarpus Budihari Prayitno adalah ketukan palu pada orang yang tepat. Keterlibatan oknum BIN yang belum sempat terusut juga menyisakan tanda tanya besar pada kasus ini. Yang pasti, kematian Udin dan Munir–selain kasus Marsinah- menambah panjangnya daftar pelanggaran HAM negeri ini yang tak bisa diungkap.
Keadilan di negeri ini memang masih jauh panggang dari api.
Gambar diambil dari http://www.bangitout.com/images/veronica.jpg
Saya (Pernah Jadi) Penggemar AS Roma
Desember 25, 2007
Dunia gemar-menggemari memang sungguh absurd. Demi yang digemarinya, seorang penggemar rela melakukan apapun bahkan hingga hal yang tidak masuk di akal macam ikut bunuh diri saat sang idola meninggalkan dunia. Remaja adalah segmen umur yang rentan terhadap sindrom gemar-menggemari ini. Usia remaja adalah usia saat seseorang mulai mencari identitas dan mengalami ambiguitas status sosial (Altman and Low: 1987). Mereka cenderung mengambil citra tertentu yang dianggap ideal untuk dicontoh, dikagumi dan dipuja. Remaja akan menduplikasi citra ideal alias idola tadi sebagai bagian dari pencarian identitas dan mengaplikasikannya pada diri mereka sendiri. Karenanya, jangan heran saat melihat remaja berdandan ala artis tertentu atau rela menghabiskan uang jajannya untuk membeli atribut tim yang dikaguminya.
Waktu SD sampai SMA saya juga sempat punya idola. Bukan tokoh agama, bukan artis, bukan tokoh nasional tetapi klub sepakbola. Saat teman-teman saya yang wanita sedang gemar-gemarnya mengidolakan boyband saya malah datang ke sekolah sambil membawa tabloid BOLA terbaru. Saya memang suka melakukan sesuatu yang mahiwal alias ingin beda sendiri. Buat anak SMP yang uang jajannya masih recehan, membeli BOLA berarti tidak jajan selama 2 hari. Karena BOLA terbit dua kali dalam seminggu, walhasil saya hanya bisa jajan di hari Rabu dan Sabtu. Haha…
Sebenernya, di tiap liga Eropa yang ngetop saya punya tim jagoan sendiri. Di Premiership, Manchester United. Di Erdevisie, PSV Eindhoven. Di Bundesliga, Bayer Leverkusen. Di Liga Spanyol, Alaves. Di Liga Prancis, PSG. Di Lega Calcio, AS Roma tentunya. Pilihan tim-tim idola tadi bukan tanpa alasan, saya yang suka mahiwal tadi memang tidak suka pada tim yang melulu menang. Akhirnya pilihan-pilihan saya jatuh pada tim yang underdog tapi berpotensi jadi kuda hitam mengalahkan tim yang lebih mapan.
Lega Calcio adalah liga favorit saya, persaingannya paling menarik dibanding liga Eropa lainnya. Karenanya, AS Roma menjadi tim kesayangan saya. Saya mulai mengidolakan AS Roma sejak musim terakhir AS Roma dilatih Zdenek Zeman. Saat itu, Roma adalah pelanggan urutan 5-6 di akhir kompetisi Lega Calcio dan hanya menjadi peserta rutin Piala UEFA perwakilan Italia. Saat musim berikutnya, Fabio Capello masuk dan mengubah pola permainan 4-3-3 warisan Zeman yang defensif menjadi 3-4-3 yang membawa Roma menjadi Il Campionati Lega Calcio taun 2000(?..lupa).
Selain Francesco Totti sang pangeran, sisa skuad Il Lupo alias Si Serigala nyaris tidak ada yang super talented. Kalaupun terpilih masuk skuad Azzuri pun cuma jadi penghangat bangku cadangan. Roma bukan klub kebanyakan duit macam Real Madrid yang punya hobi memecahkan rekor transfer pemain. Roma juga bukan klub dengan pembibitan sebaik MU yang menghasilkan David Beckham dan Neville bersaudara, bisa dibilang hanya Totti yang merupakan produk yang sukses dari akademi AS Roma. Hanya saja, Roma punya pemandu bakat-pemandu bakat yang jeli melihat pemain-pemain berpotensi yang bertebaran di klub-klub yang kurang terkenal.
Capello berhasil menempatkan right man in the right place. Tiga punggawa di barisan depan diisi oleh trio Marco Delvecchio-Totti-Vincenzo Montella. Di tengah ada barisan gelandang yang tidak kalah solidnya (cuma inget Candela, yg lain nama-namanya pada lupa, euy). Di bagian belakang ada Cafu sebagai bek kiri yang giat membantu serangan (nama-nama bek lainnya saya juga lupa). Roma menamatkan kompetisi sebagai juara dan melaju ke Liga Champion. AS Roma adalah bukti bahwa untuk jadi pemenang dibutuhkan super team, bukan superman.
Di musim-musim selanjutnya, Roma tidak pernah mengulangi kegemilangannya itu walau Capello lagi-lagi berhasil menemukan bibit-bibit unggul dan melejitkan mereka. Sebut saja Danielle de Rossi, Emerson dan Antonio Cassano. Beberapa tahun setelah stagnansi dan mal prestasi, Fabio Capello cabut ke Juventus dan sekarang melatih tim nasional Inggris.
Terhitung sejak tahun 2003 saya vakum dari pengamatan dunia persepakbolaan internasional. Jika ada siaran langsung pun sekedar menengok sambil sedikit kangen. Di koran yang saya baca beberapa minggu lalu, AS Roma lolos ke babak perempat final Liga Champions. Sekarang Roma dilatih Luciano Spaletti yang pernah melatih Lecce dan Udinese. Totti masih ada, demikian pula dengan de Rossi. Penyedia apparel pun sudah beralih ke Diadora dari Kappa. AS Roma sudah berubah. Demikian pula dengan saya.





