Mendendangkan Lagunya, Yogyakarta
Agustus 27, 2008
Backpacking, obsesi saya sedari dulu yang baru tercapai dua pekan yang lalu. Yogyakarta, kota eksotis di tengah Pulau Jawa yang jadi tujuan saya. Saya bersama para teman Rumah Belajar KM ITB, masing-masing dengan bermodal seratus ribu rupiah bertekad menjelajahi Yogyakarta.
Siapkan sneakers dan tas punggung, kita ketemu di Kiaracondong! Janganlah lewat Stasiun Bandung, toh nanti kita turun di Lempuyangan; bukan Tugu. Mari merakyat, merasai transportasi kelas ekonomi.
Lokomotifnya datang; menderit, menjerit. Kami berlari menuju gerbong ketiga. Ups, sudah ada yang menduduki kursi-kursi kami. Ibu tua dan anaknya. Ternyata keduanya kesulitan membaca. Maaf, mas dan ibu salah kursi. Mereka pergi dengan terbungkuk-bungkuk. Loko dihela, kereta merayapi rel dengan terengah-engah. Pedagang asongan pulang anting sepanjang koridor gerbong.
Mijon, mijon, mijon…
Oh, kita masih di Jawa Barat.
Malam mulai memanjat, beberapa dari kami kalah dalam pertempuran melawan kantuknya. Kartu dikocok, poker dimainkan untuk membunuhi waktu hambar sepanjang perjalanan. Pedagang asongan masih wara wiri sepanjang koridor gerbong.
Mison, mison, mison…
Sudah sampai Jawa Tengah rupanya. Semoga kita cepat sampai di Jogja. Amin.
Subuh sudah tinggi saat akhirnya kami menginjakkan kaki di Yogyakarta. Kahuripan laju lagi, sampai ke Kediri. Selamat jalan, wahai kereta api tanpa api. Stasiun Lempuyangan hiruk pikuk dengan semua kegiatannya. Sibuk namun lembut, begitu khas Yogyakarta. Ah, saya mulai suka kota ini.
Sip, sneakers kami siap beraksi. Menjelajah sudut-sudut Jogja; Pingitan, Umbulharjo, Malioboro, dan Alun-alun. Dari karya besar Gunadharma di Magelang hingga Kalikuning lalu ke Pantai Depok di selatan. Jangan lupa di Malioboro mampir ke Mirota, batiknya tahan sampai 30 tahun katanya. Sudah terlalu sore saat mampir ke Keraton. Sang Astana sudah tak terima tamu. Yasudahlah, lain kali saja.
Dua hari berlalu, saatnya kami kembali ke kehidupan nyata. Murahnya makanan, nasi kucing, ngangkring di pinggir Kali Code; jelas tidak terlupakan. Sayang sekali, waktu liburan sudah habis. Akhirnya, Malioboro jadi titik bertolak. Malam mulai beranjak keluar menggantikan sore. Tenda-tenda dibentangkan, tikar-tikar lesehan digelar. Malioboro berganti aktor, dari penjual suvenir ke penjual makanan. Lepas magrib, Malioboro resmi bersalin rupa. Suasana yang mengingatkan saya pada lagu Katon Bagaskara.
Selamat tinggal Jogja, pasti kami datang lagi.
***
Yogyakarta
(dipopulerkan oleh Katon Bagaskara)
Pulang ke kotamu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Yogya
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditelan deru kotamu
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Lucu!
Agustus 9, 2008
Kata ‘lucu’ telah banyak mengalami penyimpangan makna. Jika mulanya kata ‘lucu’ digunakan untuk mendeskripsikan sifat yang mengundang tawa (en=funny), justru sekarang ini kata ‘lucu’ bisa berarti sangat luas. Misalnya saja dalam contoh-contoh kasus seperti di bawah ini,
Kasus #1 (A dan B adalah remaja-remaja putri)
A: Ih, cowok itu lucu banget!
B: Yang mana??
kesimpulan: lucu= keren, cakep, imut
Kasus #2 (lagi-lagi A dan B adalah remaja putri)
A: Baju kamu lucu deh!
B: Makasih
kesimpulan: lucu=bagus
Kasus #3 (kembali, A dan B adalah remaja-remaja putri)
A: Laper nih, makan yuk…
B: Yuk,, makan apa?
A: Apa aja deh, asal makanan yang enak terus rasanya lucu…
kesimpulan: lucu=unik
Cukup mengejutkan bukan? Masih banyak penyimpangan-penyimpangan lain dalam penggunaan bahasa terutama pada kata ‘lucu’. Ada yang mau menambahkan??
Lima Templet Cerita Sinetron Indonesia
Juli 20, 2008
Suka nonton sinetron Indonesia?
Sayang sekali, saya harus mengasihani anda karena bersedia menjejali diri dengan paket pembodohan atas nama hiburan yang murah meriah. Sebagian besar sinetron Indonesia saat ini ditayangkan hanya untuk mengejar rating dan kue iklan.
Durasi yang wajar untuk sebuah sinetron pada umumnya adalah 60 menit, edannya belakangan ini sudah ditabrak hingga menjadi 90 bahkan 120 menit. Katakanlah seorang remaja putri adalah penggemar dua sinetron tertentu yang masing-masing berdurasi 120 menit, berarti setiap harinya minimal dia akan menghabiskan waktunya di depan televisi selama 1/6 hari. Kalikan dengan tujuh hari dalam seminggu. Kalikan dengan empat minggu dalam sebulan. Kalikan dengan duabelas bulan dalam setahun. Silakan hitung sendiri.
Anehnya, sinetron sendiri sudah lebih menjadi barang poles sana poles sini yang justru tidak punya cerita yang bagus. Setelah saya amati, ternyata alur cerita sinetron Indonesia hanya berkutat pada 5 alur cerita utama. Inilah mereka…
Pertama, tokoh utama yang tentunya wanita, cantik, dan baik hati adalah anak orang kaya yang terpisah dari orangtuanya lalu dipungut dan dibesarkan oleh keluarga yang miskin.
Kedua, tokoh utamanya (masih seorang wanita yang cantik dan baik hati namun miskin) ternyata jatuh cinta pada pria dari keluarga kaya.
Ketiga, hubungan antara tokoh utama (ya si wanita yang cantik, baik hati namun miskin tadi) ternyata tidak direstui oleh keluarga pihak pria karena tidak setuju dengan latar belakang keluarga si tokoh utama.
Keempat, baik tokoh utama maupun si pria akan berjuang dengan berbagai cara agar bisa mendapatkan restu bagi ‘cinta’ mereka.
Kelima, entah yang mana namun salah satu tokoh akhirnya akan menderita luka atau penyakit parah macam amnesia (ampuh untuk mengulur cerita), kecelakaan lalu lintas (ampuh untuk membuat tokohnya cacat permanen), kanker stadium lanjut (ampuh untuk membuat tokoh yang jahat hingga jadi insaf) bahkan meninggal (ampuh untuk mengakhiri konflik yang sudah ribet).
Di luar itu hanya akan menjadi alur tambahan yang ditambah-tambahkan untuk memperumit alur cerita belaka. Misalnya, ada ibu tiri yang akan mempersulit keadaan dan membuat situasi jadi tidak menguntungkan bagi si lemah atau ada kemunculan tokoh imajinatif macam peri yang akan menolong tokoh utama atau jebakan perselingkuhan dan sebagainya.
Menonton sinetron adalah sebuah perbuatan celaka. Mengapa? Karena nyaris tidakada manfaatnya. Kalaupun di sinetron terdapat pesan moral, hal itu tidak lebih sebagai bungkus untuk menyamarkan motif si produser untuk mendapatkan keuntungan. Belum lagi, penikmat sinetron yang kebanyakan adalah kaum perempuan dewasa seringkali menonton sinetron yang berepisode-episode bersama anaknya. Karenanya, tidak heran bila beberapa anak mudah berkata kasar dan mengenal pacaran di usia dini.
Belum ada riset terpublikasi yang mengkaji secara komprehensif soal dampak negatif menonton sinetron. Hanya saja, beberapa indikasi semacam meningkatnya kebiasaan konsumsi masyarakat menunjukkan bahwa mesti ada yang meregulasi dengan jelas tayangan macam apa yang layak tonton.
Sungguh, anda tergolong orang yang beruntung bila anda memiliki kegiatan menghabiskan waktu yang lebih produktif dari sekedar menonton sinetron.
Dukung Hari Tanpa TV, 20 Juli 2008!
Mengeja Kembali Hakikat Pendidikan
Juni 30, 2008
Pendidikan di negara ini memang sudah sungguh sakit, baik sistemnya, pelakunya, hingga regulatornya. Eksesnya jelas, dunia pendidikan kita makin terpuruk dari hari ke hari. Jika tidak, dari mana datangnya angka kasus putus sekolah yang demikian tinggi. Fakta berbicara, kasus putus sekolah nyaris menyentuh bilangan 12 juta siswa pada 2007. Angka dua belas juta berarti sama saja ketika Anda berada di Jakarta, kemanapun Anda pergi setiap manusia yang anda lihat adalah anak yang putus sekolah. Bangsa ini sedang menunggu bom waktu meledak ketika mendapati ada satu generasi yang hilang karena tidak bisa menjangkau pendidikan.
Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diluncurkan pemerintah sebagai program kompensasi kenaikan BBM tahun 2005 lalu tidak cukup sakti untuk mengerem angka putus sekolah. Jangan pernah berharap banyak pada program BOS ini karena akan datang ancaman baru. Cepat atau lambat RUU BHP akan disahkan, padahal kekuatan BHP sangat lemah dalam mengamankan aksesibilitas masyarakat marjinal pada pendidikan.
Yang perlu dicermati bersama bahwa sekolah tidak sama dengan pendidikan. Sekolah adalah proses, sementara pendidikan adalah keseluruhan sistemnya. Celakanya, bangsa ini semakin terbiasa dengan pendidikan abal-abal yang sekolahnya pun ancur-ancuran, kadang malah ancur beneran (maksudnya sekolah yang roboh). Dana pendidikan yang trilyunan itu dikucurkan sembarangan hingga hanya menetes seadanya bagi mereka yang berhak. Sekolah pun dituntut menjadi panci presto, harus memberikan output sesuai standar UAN dalam waktu yang singkat. Alhasil, ribuan siswa kemudian tak lulus UAN. Mereka lalu dipunguti Depdiknas dan dirangkul lagi dalam Ujian Paket C. Sungguh sebuah sistem yang abal-abal.
Seabad lalu, kebangkitan bangsa ini bermula dari kesadaran sekelompok pemuda yang menyadari bahwa dirinya terjajah. Mereka yang kemudian menamai kumpulannya Boedi Oetomo ini adalah generasi muda Indonesia yang paling awal mendapat pendidikan, buah dari politik balas budi pemerintah kolonial. Berdirinya Boedi Oetomo kemudian menginspirasi berdirinya organisasi-organisasi lain yang memperjuangkan hal senada. Mereka berjuang, hingga akhirnya bangsa ini berani mengaku merdeka pada 1945.
Freire berkata, hakikat pendidikan adalah membebaskan. Sejiwa dengan itu, Ki Hajar Dewantara Sang Bapak Pendidikan Indonesia berkata bahwa pendidikan seyogyanya memerdekakan. Jika kini kita tidak menganggap bahwa pendidikan terjangkau bagi setiap penduduk Indonesia adalah hal mendesak yang harus diperjuangkan oleh semua pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat), mari bertanya pada diri sendiri,
Apakah bangsa kita adalah bangsa yang merdeka?
(Ditulis untuk memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional)
Takut Insyaf
Juni 10, 2008
(Hehe, saya geli sendiri membaca judul di atas..)
Ketakutan ini berawal saat saya sedang kalap dan keluyuran sendiri di Toga Mas. Entah datang dorongan dari mana, saya mendadak ingin membeli buku karangan Salim A. Fillah berjudul ‘Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim’. Bisa jadi, salah satu penyebabnya karena puisi keren yang ada di halaman terakhir buku ini. Setelah buku itu dibayar, disampul hingga tampak makin cantik (beneran ini mah, desain sampulnya memang cantik..), saya cuma menimang-nimang buku itu sampai ke kamar kos.
Setelah sampai kamar, buku itu pun tidak langsung saya baca. Ragu-ragu, saya bolak-balik halaman-halamannya tanpa membaca. Yani, teman sekosan saya jadi bingung melihat perilaku ini.
“Kenapa, sal?”
“Sali mau baca buku ini, tapi takut insyaf… Hehe…”
“Hah?? Insyaf kok takut?”
Jelas ketakutan saya memang berlebihan. Sebuah buku bukan resep insyaf cespleng, karena hidayahNya akan datang jika saya menginginkannya. Lagipula, apa yang salah dengan insyaf? Sebenarnya, ketakutan saya yang paling besar untuk insyaf adalah berubah menjadi pribadi yang diri saya sendiri tidak bisa mengenalinya. Hmm, insyaf yang gimana dong?
Insyaf bisa berarti lisan saya jadi terjaga dari becandaan-becandaan gak penting yang mungkin menyakiti hati ‘korban-korban’ saya.
Insyaf bisa berarti lengan dan tungkai saya istirahat dari aktivitas menjahili teman-teman saya.
Insyaf bisa berarti mengurangi gestur-gestur berlebihan yang sering saya lakukan untuk mengekspresikan sesuatu.
Sebenarnya saya gak segitunya juga kok. Kalo kata Profesor Primadi Tabrani (beliau orang keren nih…), saya tergolong orang yang punya playing impulse yang cukup banyak untuk usia segini. Jadi deh, masi sering jail, iseng, bahkan belakangan dicap autis.
Hahah…



