Familiarkah anda dengan tayangan Jalan Sesama (JS) ? Variety show untuk anak dengan durasi 30 menit ini diputar di stasiun Trans 7 setiap pukul 13.30 selama Senin sampai Jumat. Jangan heran dengan banyaknya kesamaan antara JS dengan Sesame Street (SS) yang asalnya dari Amerika sana, JS memang SSnya Indonesia. Awal 2000-an, SS pernah ‘dilokalkan’ oleh SCTV namun tidak berhasil menggaet pemirsa sebagaimana suksesnya Sesame Street dahulu.

Oleh karena itu, kali ini konsep repackage SS untuk anak-anak Indonesia dalam JS dibuat dengan lebih matang. Jangan harapkan Elmo, Grover, Cookie Monster atau Kermit akan tampil dominan dalam JS. Indigo Production sebagai production house yang memenangkan tender produksi JS justru menampilkan karakter-karakter baru sebagai tokoh utama.

Momon dan Putri, Tan-tan, Jabrik

Mereka adalah Tan-tan, Jabrik, Momon dan Putri. Tan-tan si orang utan adalah karakter yang dewasa, berwawasan luas dan sangat menyukai pisang. Momon si monyet adalah karakter yang kreatif dan senang menggambar. Jabrik si badak bercula satu adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu dan polos. Sementara Putri digambarkan sebagai gadis kecil yang periang dan aktif.

Selain keempat tokoh boneka tadi, di JS juga hidup karakter-karakter lain yang mendukung gambaran kehidupan yang sangat meng-Indonesia. Ada keluarga Pak Bagus yang merupakan tipikal keluarga Indonesia, ada Pak Dalang yang sering mendongeng untuk anak-anak di JS, dsb. Suasana setting tempat syuting pun dibuat seperti berada di kebanyakan kawasan sub-urban Indonesia dengan rumah beratap miring, pagar tanaman, dsb.

JS memang diharapkan bisa menjadi sarana edukasi bagi anak. Pemilihan orang utan dan badak bercula satu sebagai karakter utama disengaja untuk mengenalkan kedua jenis binatang langka Indonesia kepada anak-anak. Momon dan Putri juga tidak kalah Indonesia, kedua karakter ini mengenakan pakaian khas Indonesia. Momon menggunakan sarung (?) tenunan ulos dan Putri senantiasa mengenakan baju berbahan batik.

Dua jempol saya acungkan untuk JS. Tidak hanya karena penggarapannya yang matang, tetapi juga karena JS menjadi preseden baik untuk dunia hiburan anak Indonesia. Dua jempol juga saya acungkan untuk Trans 7 yang konsisten menghadirkan tayangan anak bermutu melalui deretan acara macam Si Bolang, Laptop si Unyil, Jalan Sesama dan Cita-citaku. Salut!

Sekira selama sebulan terakhir ini saya banyak mengalami ketidak produktifan dalam berkarya (ketidak produktifan apa istilahnya ya?). Menyebalkan memang. Tulisan-tulisan yang dibuat cuma setengah jadi dan kurang gimanaaa gitu. Tugas besar studio pun cuma saya kerjakan alakadarnya, padahal waktu memilih judul tugas itu saya sangat bersemangat untuk melakukan yang terbaik. Desain-desain yang saya kerjakan di luar tugas pun cuma jadi desain biasa-biasa saja.

Padahal, saya tidak kurang memasok stimuli-stimuli agar saya lebih kreatif-produktif lagi. Jalan-jalan ke mal ataupun jalan kaki menyusuri jalalanan Bandung yang biasanya jadi stimuli paling kuat malah hanya membuat saya sakit kaki dan kelelahan saja. Nonton film mulai dari dorama Jepang, film sci-fi, drama Hollywood, serial kartun, dan sebagainya juga tidak membuat saya merasa lebih baik. Stimuli terakhir yang menjadi stimuli pamungkas yaitu baca buku, novel, dsb juga gagal melaksanakan tugasnya.

Mengecewakan, tidak maksimal, di bawah standar.

Entah apa yang sedang terjadi. Fiuh.

***
Sang Penghibur (Padi)

Setiap perkataan yang menjatuhkan
tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
tak lagi ku cerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
‘tuk merubah nasibnya

Oh, bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya

Yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya

Bukankah hidup ada perhentian
tak harus kejar terus berlari
‘ku helakan nafas panjang
‘tuk siap berlari kembali

berlari kembali
melangkahkan kaki
menuju cahaya

Bagai bintang yang bersinar
menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar
menghibur yang sedih hatinya

Genderang kampanye Pemilu Raya KM ITB 2008 sebentar lagi akan berhenti ditabuh. Masa reses sudah menanti di hari Jumat alias besok lusa. Banyak komentar seputar Pemilu kali ini. Sepi publikasi, jadwal hearing yang gak cocok dengan UTS, kampanye gak langsung yang kurang sounding ke massa kampus dan masih banyak lagi. Bagaimanapun juga, the show must go on. Apapun yang terjadi, senin depan pencoblosan harus tetap dimulai untuk menentukan siapa pasangan pemimpin mahasiswa untuk setahun mendatang. Belum kenal mereka? Kenali mereka lebih dekat… (versi sali!)

Pasangan Kandidat #1: Fikri MG-Rully GL
Pasangan ini adalah satu-satunya kandidat yang berasal dari angkatan 2005. Mereka belum banyak dikenal di massa kampus, siapa basis pendukung mereka pun dipenuhi tanda tanya. Sangat terlihat kalo mereka gak punya beban untuk kalah, namun keberanian mereka mencalonkan diri di tahun ini patut diacungi jempol.

Pasangan Kandidat #2: Shana TI-Bagus PL
Pasangan ini cukup populer di kalangan mahasiswa berkat keterlibatan mereka sebagai personal di kepanitiaan-kepanitiaan kampus, terutama Shana. Sampai-sampai ada joke yang bilang “Kepanitiaan apa di ITB yang gak ada Shana-nya? Gak ada kan…”. Mengusung visi “KM ITB milik semua”, Shana dan Bagus mencoba menawarkan konsep rebranding KM ITB yang dianggap mampu mendekatkan KM ITB dengan massa yang selama ini mengambang. Kans menang mereka masih belum jelas betul, terutama dengan jajaran promotor terdaftar yang (menurut saya) terlihat tanggung. Akankah popularitas mampu membawa kemenangan bagi pasangan kandidat ini?

Pasangan Kandidat #3: Gilang GD-Bobby PL
KM ITB yang kokoh dan berkarakter digadang-gadang pasangan ini sebagai visi KM ITB selama setahun ke depan. Pasangan dengan nickname ‘Bolang’ ini bisa dibilang pasangan yang paling niat dalam hal kampanye sepanjang Pemilu. Bolang Center, setumpuk merchandise yang dibagi-bagikan untuk massa kampus dengan bubuhan kata-kata mutiara: ‘Vote Bolang!’, pun dengan tersedianya sebuah website yang menjadi media komunikasi untuk mengenalkan kedua orang ini. Promotornya pun tidak tanggung-tanggung: 18 orang. Mantan-mantan ketua himpunan, presidium himpunan anu, presiden garda anu, ketua unit anu, mantan ketua panitia anu, dsb. Kans untuk menang? Masih belum bisa dipastikan juga mengingat figur kahim tidak lagi merepresentasi himpunannya.

Itulah ketiga pasangan kandidat. Sekarang silakan anda tebak mana yang raja, ratu ataupun kuda hitam…

Infinite

Maret 12, 2008

Cerita Pertama
Sewaktu masih rajin main gem di PS dulu, sebelum memainkan gem tertentu saya selalu menggunakan Game Shark alias cheat untuk bisa merekayasa beberapa aturan main dari gem yang akan saya mainkan itu. Misalnya saja, untuk gem semacam Harvest Moon saya menggunakan cheat Infinite Food Stock agar persediaan makanan ayam dan sapi saya tidak habis-habis walaupun terus diambil setiap hari. Untuk gem semacam Digimon atau Tomb Raider, saya menggunakan cheat Infinite Health Point dan Infinite Magic Point agar HP dan MP saya tidak habis-habis sekalipun saat bertarung melawan musuh yang terkuat di level terakhir.Saat menggunakan Game Shark, permainan terasa jadi lebih mudah. Bayangkan saja, gem yang semula butuh waktu sangat lama untuk ditamatkan karena berkali-kali mati di tengah jalan menjadi demikian entengnya untuk mencapai level akhir. Bermain gem dalam mode infinite alias ‘gak abis-abis’ memang menghemat waktu dan membuat permainan jadi lebih menyenangkan.

Cerita Kedua
Sejak bulan Januari 2008, ponsel Esia teman saya yang bernama Sandi tak pernah kehabisan pulsa alias berpulsa infinite hingga saat ini. Tidak ada yang tahu penyebabnya, yang pasti semua teman-teman Sandi (anak-anak Kongres 78, anak-anak Asrama Bumi Ganesha, anak-anak TeKim, dsb) senang karena bisa menelepon kemanapun sesuka hati menggunakan ponsel Sandi tanpa memikirkan pulsa yang terpakai.

Kira-kira awal bulan ini, Sandi menerima pemberitahuan dari sang operator CDMA bahwa masa aktif pulsanya akan segera berakhir. Teman-teman Sandi sempat cemas, akankah keajaiban dunia kedelapan yang menjadi rejeki bagi banyak orang itu berakhir dengan habisnya masa aktif si pulsa? Seminggu berlalu, ternyata ponsel Sandi masih sehat wal afiat dan tetap bisa digunakan meneleponi senator yang belum datang ke tempat rapat.

***
Infinite menjadi sesuatu yang terasa menyenangkan namun semu, bukan? Kondisi pada cerita pertama hanya terjadi di alam gem PS. Bahkan pada cerita kedua, ponsel yang diklaim berpulsa infinite tetap mengkonsumsi kue jasa telekomunikasi. Kasus semacam ini memang kerap terjadi dan ditengarai sebagai akibat dari kebocoran sistem. Tinggal Esia sebagai operator yang menangguk rugi.

Seringkali masyarakat kita terjebak dalam dongeng-dongeng semu yang mengangkat cerita tentang kepemilikan yang infinite. Tentu sudah tidak asing di telinga bila mendengar nama praktek klenik seperti pesugihan maupun pemujaan terhadap benda-benda tertentu bertujuan untuk mendapatkan kekekalan atas sesuatu macam kekayaan infinite maupun kekuasaan infinite. Masyarakat pun terjebak dalam syirik yang tidak jelas juntrungannya. Padahal sejatinya, tidak ada yang infinite di dunia ini. Makanan, pulsa, tenaga, kekuasaan maupun uang pasti akan berkurang dan jadi habis karena kekekalan hanya milik Sang Ia.

Wallahua’lam.

Re-Launch

Januari 31, 2008

Hemm, para penggemar setia blog saya pasti memperhatikan perubahan templet yang saya lakukan pada si blog ini. Jika dulu menggunakan templet ‘Banana Smoothie’ yang berambiance kuning segar, sekarang menggunakan templet ‘Jentri’ yang berambiance marun. Sahabat saya bersikukuh kalau warna marun memiliki kesan seksi, namun bagi saya marun memberi kesan mature alias dewasa. Selain untuk ganti suasana, perubahan templet juga dimaksudkan untuk mendukung bentuk baru dari blog ini.

Selain perubahan templet, saya juga memberi nama baru bagi si blog. Perubahan nama ini juga dimaksudkan untuk mendukung bentuk baru dari blog ini. Setelah tirakat dan bersemedi selama setengah jam, akhirnya saya memutuskan untuk menamai blog ini ‘Rumah Cahaya’. Mulanya blog ini akan saya namai ‘The Sanctuary’ namun setelah mempertimbangkan keluasan makna dan sedikit dibumbui rasa nasionalisme, saya memutuskan untuk menggunakan nama ‘Rumah Cahaya’. Jika sebelumnya blog ini bercerita tentang hal-hal yang terjadi di keseharian saya (sesuai namanya dulu, MyQuiteSimpleDay), sekarang melalui blog ini saya akan lebih banyak berbagi tentang pemikiran dan kehidupan. Untuk lebih jelasnya, silakan mampir ke halaman Tentang Rumah Cahaya.

Sedikit peringatan dari saya, tidak semua yang saya katakan di atas adalah serius. Kebanyakan adalah eksagerasi alias lebai tea. Hahahahaha…