<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>lumina</title>
	<atom:link href="http://shallypristine.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shallypristine.wordpress.com</link>
	<description>lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada memaki kegelapan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Dec 2011 07:18:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shallypristine.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>lumina</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shallypristine.wordpress.com/osd.xml" title="lumina" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shallypristine.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Trotoar Negara Tega</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/trotoar-negara-tega/</link>
		<comments>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/trotoar-negara-tega/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shallypristine.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[===repost dari catatan FB saya, dipublish 8 April 2010=== Hari itu saya berpapasan dengan sepotong trotoar. Dia biasa saja, saya bisa temukan yang semacamnya di banyak sudut kota lain. Perkerasannya dari paving block, rapat dan tak memberi ruang bagi air menelusup di jeda antar sesamanya. Kansteinnya codet sana sini tanda keusangan, warnanya pun tak jelas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=229&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>===repost dari catatan FB saya, dipublish 8 April 2010===</p>
<p>Hari itu saya berpapasan dengan sepotong trotoar. Dia biasa saja, saya  bisa temukan yang semacamnya di banyak sudut kota lain. Perkerasannya  dari paving block, rapat dan tak memberi ruang bagi air menelusup di  jeda antar sesamanya. Kansteinnya codet sana sini tanda keusangan,  warnanya pun tak jelas apa.</p>
<p>Di trotoar selebar 1,5 meter itu, tergelar sebuah kehidupan: gerobak  plus tenda kaki lima. Tulisannya, Sop Kaki Kambing Bang Kumis Tanah  Abang 999. Di kanan kirinya, berderet pula semacam Pecel Lele Soto  Lamongan, Ayam Goreng Kabita Asgar atau Sate Kambing Asli Madura. Seolah  semua harus beri tunjuk asal muasal baru boleh berjualan.</p>
<p>Tak seberapa jauh dari sana, sebuah perempatan jadi tempat jalanan  bersaling silang. Perempatan ini selalu ramai oleh mobil bagus, mobil  biasa, angkot butut, bis busuk, bis bagus, sepeda, dan sepeda motor.  Lampu lalu lintasnya sibuk berkedip mengatur ribuan kendaraan serba acak  yang kebetulan bertumbuk di satu kesempatan.</p>
<p>Di perempatan itu, pada sepotong trotoar pula, ada kekuatan bagai  magnet. Menyedot sembarang orang dari berbagai latar belakang namun  memiliki tujuan yang satu. Seorang calo jadi comblangnya, membuai calon  penumpang dengan mengumbar janji muluk. Angkot akan segera berangkat dan  cuma butuh satu orang lagi agar bisa laju.</p>
<p>Sekitar pukul setengah lima sore, upacara di trotoar itu dimulai.  Awalnya, segerobak perkakas dan perlengkapan diantar ke sana. Gulungan  tenda dibaringkan di perkerasan, lantas dibuka dan ditudungkan.  Tiang-tiang dipancang, kain pembatas dibentangkan. Makanan dideretkan di  rak etalase. Selesai.</p>
<p>Sejak upacara dimulai, pedestrian jadi tak bisa lalu di trotoarnya.  Mereka pun tumpah ke bahu jalan. Beberapa sambil haha hihi berjalan  sampai ke tepian jalur kendaraan. Pengemudi kendaraan jadi mengklakson  mereka kuat-kuat. Si pedestrian terbirit gusar lalu menggesa langkahnya,  mengejar badan trotoar yang belum terjajah.</p>
<p>Sayangnya tak bisa. Ada deretan angkot yang sedang ngetem tadi. Angkot,  yang jelas lebih kuasa dari tubuh-tubuh manusia, telah merebut badan  trotoar lainnya. Lantas para pedestrian itu berpencar lagi ke jalanan.  Meramaikan lalu lintas lantas menambah semrawut kemacetan dan hiruk  pikuk di perempatan.</p>
<p>Gerombolan sepeda motor tak mau ketinggalan. Mereka gemar berebut posisi  paling depan, kabur dari kemacetan. Tak peduli caranya, pokoknya  sedepan mungkin. Walau dalam pengejaran posisi terdepan ini, mereka  terkadang harus menjajah zebra cross atau malah menghajar potongan  trotoar yang masih tersisa.</p>
<p>Sebuah paving block di potongan terakhir trotoar itu remuk, meremah  terhajar roda nan perkasa. Campuran semen dan pasir itu kini serupa  bubuk, berwarna abu dan sendu. Kanstein, tanah, rumput kecil, dan paving  block lainnya tak sempat meratapi kedukaan itu. Roda yang lain telah  memupus sang remahan dan membaurkannya ke udara.</p>
<p>Inilah saya di negara yang orang-orangnya saling tega. Tega berjualan  trotoar lantaran tak sanggup sewa kios di pertokoan. Tega berjalan di  tepian jalanan lantaran tak bisa menggunakan trotoar. Tega mengagetkan  pejalan kaki lantaran mereka mengganggu jalanan. Tega mengetemkan angkot  di perempatan karena kosong muatan.</p>
<p>Tega bermotor di trotoar lantaran tak mau mengantri dalam kemacetan.  Tega mengutip retribusi ke pedagang kaki lima dan mengangkanginya untuk  diri sendiri. Tega mengamen dengan mengancam karena ingin punya uang.  Tega tak mau bayar pajak karena enggan masuk ke kantong oknum semacam  Gayus.</p>
<p>Hanya orang kerdil yang menggunakan kemalangannya untuk membenarkan  ketegaan yang dia lakukan. Sungguh teganya dirimu, teganya&#8230; teganya&#8230;  teganya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shallypristine.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shallypristine.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=229&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/trotoar-negara-tega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5670db039590e5f11481fed36bb1dcc0?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shallypristine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berharap Kepada Timuran</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/berharap-kepada-timuran/</link>
		<comments>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/berharap-kepada-timuran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shallypristine.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[===repost dari catatan FB saya, 18 Februari 2010. juga sudah diterbitkan di HU Republika=== Andi Side (55 tahun) belum juga berangkat melaut, padahal sedari tadi petang telah sampai rembangnya. Sinar Harapan, perahu yang setia mengantar jemput dia dan kelima temannya melaut sejak setahun terakhir, masih tertambat di dermaga, sekitar 200 meter dari gerbang &#8216;Selamat Datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=227&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>===repost dari catatan FB saya, 18 Februari 2010. juga sudah diterbitkan di HU Republika===</p>
<p>Andi Side (55 tahun) belum juga berangkat melaut, padahal sedari tadi  petang telah sampai rembangnya. Sinar Harapan, perahu yang setia  mengantar jemput dia dan kelima temannya melaut sejak setahun terakhir,  masih tertambat di dermaga, sekitar 200 meter dari gerbang &#8216;Selamat  Datang di Perkampungan Nelayan Cilincing&#8217;, Jakarta Utara.</p>
<p>Sedianya, sebelum maghrib menjelang, Andi bersama kelompoknya sudah  berlayar menuju bagan masing-masing di perairan utara Jakarta. Lantaran  sang empunya kapal belum datang, alhasil mereka harus menunggu sebelum  dapat laju. &#8221;Kalau ada uang, saya juga ingin punya kapal sendiri,&#8221;  lontarnya polos kepada 	<em>Republika</em>, belum lama ini.</p>
<p>Tiadanya kapal milik pribadi diakui Andi menghambat gerak kerja. Dia tak  bisa menjadi nelayan jaring yang melaut hingga jauh, hanya bisa  menangkapi ikan di bagan yang berjarak sekitar garis pantai. &#8221;Itu bagan  saya,&#8221; katanya sambil menunjuk satu di antara puluhan gubuk sederhana,  kumpulan bagan yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kami  berbincang.</p>
<p>Andi bercerita, bagan seharga tujuh juta rupiah itu didirikannya sejak  setengah tahun lalu saat angin Baratan datang. Bagan itulah tumpuannya  mencari penghidupan bagi istri dan empat anaknya. Bila angin besar  datang, bagannya mungkin tersaput badai. &#8221;Makanya, harus <em>nabung</em> pas kebetulan dapat tangkapan banyak biar bisa bikin bagan kalau  tiba-tiba hilang,&#8221; ujar pria Bugis ini.</p>
<p>Di bagannya, Andi kerap menangkap beseng, ikan kecil yang jamak dipakai  campuran pakan bebek. Satu peti berisi 20 kilogram beseng hanya akan  ditebus tengkulak dengan Rp 25 ribu rupiah. &#8221;Kalau belanak harganya  lebih tinggi, perkilonya bisa dihargai Rp 3.000 sampai Rp 4.000  tergantung musim,&#8221; jelasnya sembari mengingat-ingat.</p>
<p>Padahal, di pasar ikan Kramatjati, Jakarta, harga satu kilogram belanak  mencapai Rp 20 ribu. Harga yang tak pernah dikecap Andi dan nelayan  lainnya karena rantai panjang distribusi produk perikanan ke pelanggan.  &#8221;Ikan beseng juga kalau di petani bebeknya harganya bisa tiga empat  kali lebih mahal,&#8221; lirihnya.</p>
<p>Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), M. Riza Damanik  mencatat, rata-rata nelayan hanya memperoleh 20 sampai 26 persen dari  harga produk perikanan yang sampai ke konsumen. &#8221;Sisanya terbagi ke  tengkulak, perusahaan pengangkutan, dan distributor pengecer,&#8221;  terangnya.</p>
<p>Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, menurut  Riza harus memperhatikan dengans serius soal kesejahteraan nelayan.  Sekitar seperempat dari total nelayan Indonesia yang tercatat di 2003  telah beralih pekerjaan dan kini hanya menyisakan 2,8 juta lainnya.  &#8221;Nilai tukar nelayan kini cuma 0,92 poin,&#8221; kutipnya dari penelitian  yang dilakukan Bank Indonesia.</p>
<p>Riza menjelaskan, artinya dari satu juta rupiah modal yang dikeluarkan  nelayan untuk menangkap ikan, mereka hanya mengumpulkan pendapatan Rp  920 ribu. Dengan kata lain, para nelayan merugi selepas melaut. &#8221;Cara  mereka agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, para wanitanya bekerja  atau mereka mencari pinjaman untuk menambah alat tangkap,&#8221; urainya.</p>
<p>Mendapatkan pinjaman pun bukan perkara mudah bagi para nelayan. Riza  berkata, bunga pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) Indonesia tinggi  dibanding Cina atau Malaysia, yang memberi kredit bagi nelayan berbunga  lima persen. Belum lagi prosedur mendapatkan kredit nan panjang dan  berliku yang menyulitkan. &#8221;Anehnya, soal KUR ini tidak dituntaskan  pemerintah di 100 hari pertama pemerintahan,&#8221; perangahnya.</p>
<p>Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad mengakui perbankan masih  belum melirik sektor perikanan dalam memberikan kredit karena  menganggapnya berisiko tinggi. Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan,  para menteri terkait mengatakan akan mengubah mekanisme pemberian  pinjaman bagi pelaku di bidang ini.&#8221;Sistem pemberian KUR sedang kita  benahi untuk ke depannya,&#8221; janjinya tanpa menyebut tenggat waktu.</p>
<p>Menanggapi janji Pak Menteri, Andi hanya tersipu. Sejujurnya, dia  mengatakan, ingin mencari pinjaman agar bisa membeli kapal motor yang  harganya sekitar Rp 20 juta. Bila memang akan ada program pinjaman  berbunga rendah, dia amat menyambutnya. &#8221;Tapi, sejak umur 20-an saya  jadi nelayan juga <em>nggak</em> pernah ada bantuan atau pinjaman apa-apa  dari pemerintah,&#8221; lirihnya.</p>
<p>Menjadi nelayan, bagi Andi identik dengan ketidakpastian. Di musim angin  Baratan tengah bertiup seperti sekarang, tangkapan seret dan tak  mustahil ia pulang dengan jaring kosong. Dia berbahagia bila angin  Timuran yang datang. Saat itu, masanya panen besar, dia bahkan pernah  menangguk ikan senilai satu juta rupiah dalam semalam. &#8221;Sekarang saya  memang menunggu angin Timuran datang, waktu itu ikannya banyak,&#8221;  katanya bersemangat.</p>
<p>Akhirnya, Andi memilih berharap angin Timuran-lah yang mampu memberinya  kesempatan melapangkan rezeki. Dia tak menumpu keinginannya di bahu  pemerintah yang punya sederet program peningkatan kesejahteraan nelayan  namun realisasinya mengambang. Doanya, semoga sang angin tahun ini akan  menggiring banyak ikan ke bagannya. &#8221;Nanti kalau Timuran sudah datang,  bakalan banyak yang bikin bagan baru di sana,&#8221; ujarnya sambil berseri  seraya mengedikkan dagu, memberi isyarat ke arah lepas pantai Cilincing.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shallypristine.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shallypristine.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=227&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/berharap-kepada-timuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5670db039590e5f11481fed36bb1dcc0?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shallypristine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>akhirnya, ilham bisa keluar dari sana</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/akhirnya-ilham-bisa-keluar-dari-sana/</link>
		<comments>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/akhirnya-ilham-bisa-keluar-dari-sana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shallypristine.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[===repost dari catatan FB saya, dipublish 31 Desember 2009=== ijinkan saya menceritakan sel penjara di lapas anak kutoarjo. ruangnya berukuran empat kali enam meter dengan ketinggian plafon tiga setengah meter. berjendela satu dengan jeruji seukuran jari telunjuk orang dewasa. di malam hari dijejali duapuluhan manusia. interiornya sangat sederhana, hanya serupa plat beton dingin dengan ketinggian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=225&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>===repost dari catatan FB saya, dipublish 31 Desember 2009===</p>
<p>ijinkan saya menceritakan sel penjara di lapas anak kutoarjo. ruangnya  berukuran empat kali enam meter dengan ketinggian plafon tiga setengah  meter. berjendela satu dengan jeruji seukuran jari telunjuk orang  dewasa. di malam hari dijejali duapuluhan manusia.</p>
<p>interiornya sangat sederhana, hanya serupa plat beton dingin dengan  ketinggian hampir semeter dari tanah. di pojok ruangan ada fasilitas  mck, semacam wc terbuka tanpa pintu dengan penyekat dinding sebatas  pinggang saja. tak ada lemari, meja, pun kursi.</p>
<p>kalau keluarga si narapidana anak cukup peduli, bolehlah mereka tidur  beralas kasur. juga punya sabun harum untuk mandi. atau beli autan untuk  menolak nyamuk. lagi ada lauk untuk tambah-tambah gizi. serta salep  untuk obati gatal-gatal. bagi yang tak cukup dapat peduli, semua cuma  andai saja.</p>
<p>di lapas anak pria tangerang, kondisinya sedikit lebih baik. ada ranjang  tempat bisa tidur nyenyak. ada ruang komputer tempat bisa bikin akun  facebook. ada sekolah tempat bisa dapat ijazah. ada bengkel tempat bisa  belajar bongkar motor. ada klinik tempat bisa minta obat. ada wartel  tempat bisa telpon ibu.</p>
<p>tapi cadongnya, bongsengnya, isolasinya, sama saja.</p>
<p>di lapas tangerang inilah saya bertemu anak yang terpaut hati ini  padanya sejak awal. namanya ilham, lengkapnya ilham muhamad yadin. saat  pertama berjumpa dua tahun lalu, umurnya baru sembilan tahun. masih  sekecil itu dan sudah harus hidup di penjara sampai 2013.</p>
<p>ilham asalnya pengamen di serpong, merantau dia ke jawa dari lampung.  dia sampai di lapas karena tertangkap mencuri motor, diperalat preman  senior. aturannya, hanya anak di atas 12 tahun yang bisa kena pidana.  ilham cerita, dia disuruh polisi mengaku berumur lebih tua agar bisa  dijerat hukum.</p>
<p>sejak saat itulah kehidupan ilham di penjara bermula. bangun saat keong  dibuka jam enam. makan, apel, sekolah, makan, apel, kursus, makan, apel.  keong ditutup lagi jam lima sore. karenanya, sudah tiga tahun terakhir  ilham tidak pernah berjumpa bintang maupun purnama.</p>
<p>jadi yang terkecil di lapas, ilham jelas sasaran empuk senior-seniornya.  apalagi narapidana buntut lima yang terkenal sangar atau yang terjerat  kasus pembunuhan. di penjara, ilham masuk kasta pencuri yang derajatnya  kedua dari bawah, hanya lebih tinggi dari pencabul.</p>
<p>bisa dibilang, kasus ini salah satu pendorong saya hijrah jadi wartawan.  saya ingin memberitakan temuan ini. harapan saya, keadilan datang  untuknya dan ilham bisa tinggal di tempat yang lebih layak. pernah saya  mengusulkan cerita ini untuk diliput. ficer sudah jadi dan dibungkus di  newsroom. entah apa alasannya, tak pernah naik cetak.</p>
<p>akhirnya, terbit harapan baru bagi ilham. departemen sosial membuat  kesepakatan dengan departemen hukum dan ham agar anak di bawah umur yang  melakukan pidana dikembalikan ke keluarga atau dibina di panti, bukan  lapas. si pak dirjen bilang, sekitar pertengahan januari ilham akan  &#8216;bebas&#8217; dari lapas.</p>
<p>saya ingin menulis catatan kali ini dengan lebih santai. tanpa harus  terganggu aturan kapitalisasi, cetak miring atau eyd. tanpa rungsing  menyoal diksi dan glosarium. kali ini, abaikan hal itu semua karena saya  sedang bahagia. akhirnya ilham bisa keluar dari sana. :D</p>
<p>keterangan:</p>
<ol>
<li> cadong: nasi penjara, biasanya keras seperti kurang air</li>
<li> bongseng: bahasa slang atau sandi penjara, supaya tidak diketahui  petugas</li>
<li> isolasi: sel hukuman, berukuran sempit, tanpa jendela dan  penerangan</li>
<li> keong: istilah untuk sel atau kamar</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shallypristine.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shallypristine.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=225&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/akhirnya-ilham-bisa-keluar-dari-sana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5670db039590e5f11481fed36bb1dcc0?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shallypristine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musim Panen Kurcaci Hujan</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/musim-panen-kurcaci-hujan/</link>
		<comments>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/musim-panen-kurcaci-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shallypristine.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[===repost dari catatan FB saya, dipublish 29 Desember 2009=== Mendung sudah lama menggantung di langit ibukota, sejak tengah hari. Separuh jalan menuju sore, hujan deras mengguyur Jakarta Timur. Air boleh turun dengan lebatnya, namun aktivitas manusia-manusia di satu toko buku di bilangan Matraman itu seolah tak terhentikan hujan. Sosok demi sosok berlesatan keluar dari bangunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=223&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>===repost dari catatan FB saya, dipublish 29 Desember 2009===</p>
<p>Mendung sudah lama menggantung di langit ibukota, sejak tengah hari.  Separuh jalan menuju sore, hujan deras mengguyur Jakarta Timur. Air  boleh turun dengan lebatnya, namun aktivitas manusia-manusia di satu  toko buku di bilangan Matraman itu seolah tak terhentikan hujan. Sosok  demi sosok berlesatan keluar dari bangunan tiga lantai itu, menerobos  hujan dengan penuh gusar menuju parkiran atau halte kendaraan umum.</p>
<p>Sejurus kemudian, datanglah belasan bocah lelaki pengojek payung yang  berkerumun di pintu-pintu keluar toko buku itu. Mereka seperti kurcaci,  berbadan tanggung semeter tak sampai dan tanpa alas kaki. Kesemuanya  pandai berkelit lincah walau di tengah hujan, saling berebut calon  konsumen. Pakaian mereka kuyup, namun terulas senyum gembira saat jasa  mereka ditebus rupiah. Bagi mereka, musim hujan bagai panen, saatnya  mengais rezeki atas air yang tercurah dari langit.</p>
<p>Dua jam kemudian hujan mereda dan tinggal gerimis saja. Beberapa dari  bocah pengojek payung itu mengusaikan kerjanya lantas berkumpul di sudut  pagar. Lembar-lembar rupiah lecek dan basah digelar di atas sila, ramai  mereka menghitung pendapatan kali ini. Sebagian yang sudah puas  kemudian menjajankan uang yang didapat ke gerobak-gerobak kaki lima yang  marak di dekat sana, sembari berdiang menghangatkan jari-jari mereka  yang mengkerut biru di tungku-tungku pemasak makanan pinggir jalan.</p>
<p>Arfan, salah satu bocah yang ikut mengais nafkah di toko buku itu, tak  ikut bermajelis di sudut pagar. Dia terus beredar, menawarkan peneduhan  dari rintik hujan di bawah payung pelanginya kepada satu dua pengunjung  toko yang beranjak pulang. Giginya gemeletuk dan setiap sekian detik  rahang bawahnya terkatup tiba-tiba, tanda ada yang tak beres pada  mekanisme kerja otot rangka mulut. &#8220;Karena kedinginan kali, kak,&#8221;  ucapnya menduga penyebab serangkaian gerak tak lazimnya itu.</p>
<p>Siswa kelas tiga Sekolah Dasar Negeri Tegalan 09 Pagi itu mengaku sudah  yatim. Ibunya, Aisyah, menjadi pemenuh hajat utama di keluarga dengan  berjualan gado-gado di rumah. Dituturkannya, Arif Rahman, kakak semata  wayangnya kini telah turut bekerja menjadi pencuci piring di satu  restoran cepat saji di kawasan Senen sejak setengah tahun terakhir.  &#8220;Kadang, setelah pulang sekolah saya ikut bantu cuci piring di sana  lho,&#8221; ujar bocah sembilan tahun itu penuh bangga, kepada <em>Republika</em> belum lama ini.</p>
<p>Arfan mengatakan, ide dirinya turut bekerja datang dari sang ibu. Dia  mengaku, pendapatannya yang berkisar Rp 10 ribu perhari semua disetor  pada ibunya. Lantaran prihatin bundanya yang kerap sakit-sakitan masih  harus menjadi tulang punggung keluarga, ia berkata rela memenuhi suruhan  sang ibu ikut bekerja. Entah itu bersama kakaknya atau berangkat  mengojek payung saat hujan deras.  &#8220;Walau, kadang akibat bekerja saya  sering kecapaian dan sakit sampai tidak masuk sekolah,&#8221; papar bocah  berumur sembilan tahun itu.</p>
<p>Temuan pekerja anak yang bekerja dalam kondisi buruk memang lazim  ditemukan terutama di di kota besar macam Jakarta dan sekitarnya. Komisi  Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat, Jakarta, Bogor, Depok,  Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menjadi daerah penyumbang terbesar  jumlah pekerja anak yang dipekerjakan dalam kondisi buruk.  &#8220;Kalau di  lingkungan Jabodetabek totalnya ada sekitar 80 ribu pekerja,&#8221; ungkap  Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.</p>
<p>Padahal menurut Arist, anak hanya diperbolehkan bekerja di bawah  sederetan prasyarat ketat. Selain berusia minimal 12 tahun, pekerja anak  hanya boleh diberikan tugas ringan dan tak mengganggu sekolah maupun  hak tumbuh kembangnya. Selain itu, durasi waktu bekerja maksimal tiga  jam perhari dan tak boleh di waktu malam. &#8220;Yang terpenting, harus  mendapat persetujuan dari orang tua,&#8221; paparnya.</p>
<p>Fenomena pekerja anak diakui Arist menjadi kondisi yang ambivalen. Di  satu sisi, anak memiliki hak-hak yang wajib dipenuhi agar dapat tumbuh  kembang menjadi manusia dewasa. Namun di sisi lain, kondisi sosial  ekonomi masyarakat kelas bawah mendorong keluarga-keluarga miskin  mempekerjakan semua anggota keluarga agar tercukupkan kebutuhan  sehari-hari. &#8220;Sudah menjadi tanggung jawab negara untuk mengambil alih  anak yang terlantar hak-haknya karena harus bekerja,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Karenanya menurut Arist, penyelesaian masalah pekerja anak menuntut  kerjasama lintas departemen maupun lembaga negara lain yang terkait agar  bisa tuntas. Dia mengingatkan, pekerja anak adalah salah satu hasil  sampingan sistem sosial ekonomi yang dianut negara ini. Penanganan  taktis di lapangan oleh aparat terhadap pekerja anak di sektor informal  semacam pengamen atau pengojek payung pun harus menempatkan anak dalam  perspektif yang semestinya. &#8220;Perlakukan mereka sebagai korban, bukan  pelaku,&#8221; tegasnya. n shally pristine</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shallypristine.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shallypristine.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=223&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/musim-panen-kurcaci-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5670db039590e5f11481fed36bb1dcc0?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shallypristine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu, Piramida Kekerasan dan Angka yang Membuat Saya Terhenyak</title>
		<link>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/ibu-piramida-kekerasan-dan-angka-yang-membuat-saya-terhenyak/</link>
		<comments>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/ibu-piramida-kekerasan-dan-angka-yang-membuat-saya-terhenyak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shallypristine.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[===repost dari catatan FB saya, dipublish 22 Desember 2009=== soal perempuan yang melakukan kekerasan terhadap anak karena mendapat perlakuan serupa dari pihak lain, bukan perkara baru. namun setelah mengetahui 82 persen kekerasan yang terjadi kepada anak dilakukan oleh perempuan yang mendapat kekerasan pula, baru saya terhenyak. gila, itu angka yang banyak sekali. perlu dicatat, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=221&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>===repost dari catatan FB saya, dipublish 22 Desember 2009===</p>
<p>soal perempuan yang melakukan kekerasan terhadap anak karena mendapat  perlakuan serupa dari pihak lain, bukan perkara baru. namun setelah  mengetahui 82 persen kekerasan yang terjadi kepada anak dilakukan oleh  perempuan yang mendapat kekerasan pula, baru saya terhenyak.</p>
<p>gila, itu angka yang banyak sekali. perlu dicatat, yang disebut  kekerasan bisa berupa tindakan fisik seperti pemukulan hingga psikis  semacam memarahi karena kesal.</p>
<p>siapa perempuan pelaku kekerasan pada anak tadi? para ibu. ibu kandung,  ibu angkat, ibu guru, ibu pengasuh, dan sebagainya. ibu kandung pegang  porsi terbanyak. lantas siapa mayoritas pelaku kekerasan dalam rumah  tangga pada para perempuan tadi? para suami. persentasenya sekitar 78  persen, barulah relasi kerja macam majikan.</p>
<p>piramida kekerasan tadi tidak berhenti sampai di sini. anak yang  dikasari ibunya karena sang ibu mendapat perlakuan kasar tadi cenderung  akan melakukan tindakan kekerasan pula pada pihak yang lebih lemah.  biasanya teman sepermainan atau si adik yang menjadi korban bullying di  level ini. dan seterusnya.</p>
<p>struktur masyarakat patriarki yang subur dianut di negeri ini memang  kerap mendudukkan perempuan sebagai orang kelas dua di keluarga. relasi  kuasa semacam inilah yang kuat mendorong terjadinya kekerasan pada  perempuan. penyebab utamanya dua, pemahaman yang salah terhadap agama  dan adat.</p>
<p>dave pelzer dalam &#8216;a child called it&#8217; menggambarkan dengan cukup detil  tindakan kekerasan fisik dan psikis dari ibu kandung yang diterimanya.  ibu dave memang mendapat perilaku kekerasan pula dari suaminya, walau  tak berupa tindakan fisik melainkan penelantaran psikis. lagi-lagi,  suami&gt;istri/ibu&gt;anak.</p>
<p>siklusnya serupa dengan daur kekerasan yang digambarkan lenore walker:  fase peningkatan ketegangan, saat perlakuan tindakan kekerasan, masa  berbaikan, dan fase tenang. setelah melakukan kekerasan, ibu dave kerap  menampakkan rasa menyesal. saya duga itu berasal dari fitrah keibuannya.</p>
<p>akhirnya, walau tak membenarkan tindakan ibu yang melampiaskan kekerasan  pada anak akibat perilaku serupa yang diterima, saya kini lebih  memahami duduk perkaranya. semoga Allah mengampuni para ibu yang sampai  pada khilafnya hingga melakukan kesalahan. surga masih dan selalu di  bawah telapak kaki ibu.</p>
<p>&#8212;<br />
data didapat dari Komnas Perlindungan Anak dan LBH APIK-asosiasi  perempuan indonesia untuk keadilan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shallypristine.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shallypristine.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shallypristine.wordpress.com&amp;blog=1711188&amp;post=221&amp;subd=shallypristine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shallypristine.wordpress.com/2010/05/13/ibu-piramida-kekerasan-dan-angka-yang-membuat-saya-terhenyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5670db039590e5f11481fed36bb1dcc0?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shallypristine</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
