How Sunda Are You?

Agustus 5, 2008

‘How Sunda Are You?’ adalah aplikasi Facebook yang baru saya tambahkan di profil saya,, seru juga. Hasil tes ke-Sunda-an saya adalah…*jreng-jreng-jreng*

URANG SUNDA ASLI

hehe,, pertanyaannya memang agak2 gampang buat saya yang dari lahir sudah tinggal di Tatar Sunda dan dipaksa belajar Basa Sunda di sekolah. Misalnya, apa istilah untuk anak gajah? Kalau diingat2, pelajaran Basa Sunda termasuk pelajaran yang tidak saya sukai karena Basa Sunda lebih tepat disebut keahlian (skill) daripada pengetahuan (knowledge).

Mama saya yang orang Melayu dan Papa saya yang orang Minang bersepakat untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi para anak mereka. Alhasil, saya dan saudara2 saya yang lain sama sekali asing dengan Basa Sunda dan serasa belajar bahasa alien saat belajar bahasa ini.

Justru saat SMA saya jadi lebih mahir menggunakan Basa Sunda, padahal waktu itu sudah tidak ada kewajiban untuk belajar bahasa ini. Kemahiran saya ini cenderung disebabkan oleh pergaulan saya yang kebanyakan dengan teman2 yang Sunda banget. Nah, setelah kuliah saya justru sering dijadikan juru terjemah oleh teman2 saya saat menawar, menanyakan arah jalan atau berinteraksi dengan penduduk asli Sunda oleh teman2 saya yang kebanyakan bukan orang Sunda.

Berkat kelihaian saya dalam berbahasa Sunda (plus logat saya yang makin Nyunda), saya sering disangka sebagai orang Sunda. Padahal…

Padahal sebenarnya saya orang mana ya? Dibilang orang Minang, bukan. Garis keturunan Minang yang matrilineal tidak saya dapatkan. Dibilang Melayu juga bukan, karena Suku Melayu menganut garis patrilineal. Bahasa Minang saya cuma pasif saja, kalau Bahasa Melayu sih lumayan bisa. Hemm,, bingung juga.

Kata seorang teman, golongan orang seperti saya ini namanya mereka yang indiferen. Tidak jelas. Tidak terdefinisi. Saya jelas tidak sendirian. Para indiferen biasanya muncul dari kalangan kaum urban, mereka yang datang ke perkotaan untuk mencari apa yang tidak mereka temui di daerah. Berbagai suku dan latar belakang budaya bercampur, bersatu dan memunculkan keluarga-keluarga urban yang meng-Indonesia tetapi jauh dari akar budayanya.

Lahirlah anak-anak yang tidak pernah mengenal nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur mereka. Mereka begitu rentan terhadap hantaman globalisasi dan budaya populer. Eng-ing-eng, lahirlah generasi MTv. Generasi yang jago bicara Indonesia campur slang Inggris tapi arti kata ‘watak’ saja tidak tahu. Generasi yang mahir mendesain bangunan dengan gaya neo klasik tapi tidak tahu cara mendesain menggunakan mandala. Generasi yang gemar menertawakan kelakuan Mr. Bean namun tidak kenal cerita Kabayan.

Untungnya sekarang sudah ada kesadaran untuk memperkenalkan kebudayaan daerah kepada generasi muda. Misalnya dengan mengikutkan mereka pada paket-paket liburan dengan tema ‘Kembali ke Alam’ atau ‘Kampung Ulin’. Anehnya program-program itu laris walau ditawarkan dengan harga yang –menurut saya– kelewat mahal.

Padahal mah, moal sakitu mahalna meureun…

Hemat AC Yuk!!!

Juli 30, 2008

Saat ini, adalah pemandangan yang lazim bila sebuah (atau berbuah-buah) unit pendingin AC menempel di dinding luar bangunan di Indonesia bahkan di kota yang terkenal dingin macam Bandung. Unit pendingin itu nemplok sana nemplok sini, seringkali perletakannnya tanpa memperhatikan estetika. Alih-alih menggunakan pengondisian udara pasif, unit-unit pendingin digunakan sebagai alat pengondisian udara untuk menyamankan kondisi termal ruangan demi mencapai suhu optimum agar produktivitas kerja meningkat. Dingin sih, tapi dijamin mahal. Alhasil, bukannya untung malah jadi buntung.

Kalaupun tidak memungkinkan untuk menghilangkan fungsi AC, minimal dikurangi alias dihemat. Berikut ini serba-serbi dalam penghematan AC.

  1. Mengapa harus berhemat dalam penggunaan AC? AC yang punya daya listrik besar ternyata punya andil lebih dari 50% dalam angka konsumsi listrik bangunan, lebih besar dari porsi konsumsi listriknya lampu dan alat elektronik lainnya.
  2. Siapa yang harus berhemat? Ya, kita. Saya, kamu, kita semua. Kan kita semua penghuni bumi tercinta ini…
  3. Bilamana harus berhemat dalam penggunaan AC? Kurangi penggunaan AC jika memang kondisi udaranya tidak terlalu panas, misalnya waktu pagi dan sore.
  4. Penggunaan AC yang mana yang harus dihemat? AC yang tidakberhubungan dengan kegiatan produktif mestinya bisa dikurangi penggunaannya atau ditiadakan sama sekali.
  5. Di mana harus berhemat dalam penggunaan AC? Di ruangan yang tidak terlalu banyak digunakan oleh orang (misalnya wc.. :p) tidak usah dipasang AC

Nah, setelah cukup jelas begini-begitunya penghematan AC, bisa mulai berhemat dong?

Gimana caranya???

Gampang, ini ada sedikit tips penghematan yang saya sarikan dari berbagai sumber…

  1. Nyalakan AC paling cepat sejam setelah memulai kegiatan dan matikan paling lambat sejam sebelum mengakhiri kegiatan, gunakan penghawaan alami dari jendela dan bouvenlicht saja. Kondisi iklim mikro di sekitar bangunan saat pagi dan sore cukup memadai untuk menyamankan suhu ruangan.
  2. Setel output AC di angka 22-24 derajat celcius. Walaupun suhu yang lebih dingin itu lebih enak, tapi rentang suhu ini justru adalah rentang suhu optimum yang akan menunjang produktivitas kerja.
  3. Pilih jenis AC split dibanding sentral atau package. Unit-unit AC yang terpisah akan memudahkan dalam mengefisienkan ruangan yang terhawakan.

***

Mulai dari hal yang kecil

Mulai dari diri sendiri

Mulai dari sekarang

Yeah!

Suka nonton sinetron Indonesia?

Sayang sekali, saya harus mengasihani anda karena bersedia menjejali diri dengan paket pembodohan atas nama hiburan yang murah meriah. Sebagian besar sinetron Indonesia saat ini ditayangkan hanya untuk mengejar rating dan kue iklan.

Durasi yang wajar untuk sebuah sinetron pada umumnya adalah 60 menit, edannya belakangan ini sudah ditabrak hingga menjadi 90 bahkan 120 menit. Katakanlah seorang remaja putri adalah penggemar dua sinetron tertentu yang masing-masing berdurasi 120 menit, berarti setiap harinya minimal dia akan menghabiskan waktunya di depan televisi selama 1/6 hari. Kalikan dengan tujuh hari dalam seminggu. Kalikan dengan empat minggu dalam sebulan. Kalikan dengan duabelas bulan dalam setahun. Silakan hitung sendiri.

Anehnya, sinetron sendiri sudah lebih menjadi barang poles sana poles sini yang justru tidak punya cerita yang bagus. Setelah saya amati, ternyata alur cerita sinetron Indonesia hanya berkutat pada 5 alur cerita utama. Inilah mereka…

Pertama, tokoh utama yang tentunya wanita, cantik, dan baik hati adalah anak orang kaya yang terpisah dari orangtuanya lalu dipungut dan dibesarkan oleh keluarga yang miskin.

Kedua, tokoh utamanya (masih seorang wanita yang cantik dan baik hati namun miskin) ternyata jatuh cinta pada pria dari keluarga kaya.

Ketiga, hubungan antara tokoh utama (ya si wanita yang cantik, baik hati namun miskin tadi) ternyata tidak direstui oleh keluarga pihak pria karena tidak setuju dengan latar belakang keluarga si tokoh utama.

Keempat, baik tokoh utama maupun si pria akan berjuang dengan berbagai cara agar bisa mendapatkan restu bagi ‘cinta’ mereka.

Kelima, entah yang mana namun salah satu tokoh akhirnya akan menderita luka atau penyakit parah macam amnesia (ampuh untuk mengulur cerita), kecelakaan lalu lintas (ampuh untuk membuat tokohnya cacat permanen), kanker stadium lanjut (ampuh untuk membuat tokoh yang jahat hingga jadi insaf) bahkan meninggal (ampuh untuk mengakhiri konflik yang sudah ribet).

Di luar itu hanya akan menjadi alur tambahan yang ditambah-tambahkan untuk memperumit alur cerita belaka. Misalnya, ada ibu tiri yang akan mempersulit keadaan dan membuat situasi jadi tidak menguntungkan bagi si lemah atau ada kemunculan tokoh imajinatif macam peri yang akan menolong tokoh utama atau jebakan perselingkuhan dan sebagainya.

Menonton sinetron adalah sebuah perbuatan celaka. Mengapa? Karena nyaris tidakada manfaatnya. Kalaupun di sinetron terdapat pesan moral, hal itu tidak lebih sebagai bungkus untuk menyamarkan motif si produser untuk mendapatkan keuntungan. Belum lagi, penikmat sinetron yang kebanyakan adalah kaum perempuan dewasa seringkali menonton sinetron yang berepisode-episode bersama anaknya. Karenanya, tidak heran bila beberapa anak mudah berkata kasar dan mengenal pacaran di usia dini.

Belum ada riset terpublikasi yang mengkaji secara komprehensif soal dampak negatif menonton sinetron. Hanya saja, beberapa indikasi semacam meningkatnya kebiasaan konsumsi masyarakat menunjukkan bahwa mesti ada yang meregulasi dengan jelas tayangan macam apa yang layak tonton.

Sungguh, anda tergolong orang yang beruntung bila anda memiliki kegiatan menghabiskan waktu yang lebih produktif dari sekedar menonton sinetron.

Dukung Hari Tanpa TV, 20 Juli 2008!

Cuma Satu Shaf

Juli 8, 2008

Pemandangan miris ini terjadi di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Bandung. Suatu hari di bulan Juni, beberapa saat setelah azan magrib dikumandangkan.

Cukup satu shaf saja barisan jamaah shalat magrib berjamaah waktu itu. Lainnya ke mana? Barangkali yang lainnya terlalu sibuk berkendara, berniaga, bekerja, hingga tidak sempat menunaikan shalat bersama yang lainnya.

Mirisnya, ini seperti membenarkan ucapan dosen saya yang sering menantang mahasiswa yang membuat masjid dengan ukuran besar dan luas. “Buat apa bikin masjid besar-besar? Toh nantinya yang terpakai cuma untuk satu baris saja!”

Perih.

Familiarkah anda dengan tayangan Jalan Sesama (JS) ? Variety show untuk anak dengan durasi 30 menit ini diputar di stasiun Trans 7 setiap pukul 13.30 selama Senin sampai Jumat. Jangan heran dengan banyaknya kesamaan antara JS dengan Sesame Street (SS) yang asalnya dari Amerika sana, JS memang SSnya Indonesia. Awal 2000-an, SS pernah ‘dilokalkan’ oleh SCTV namun tidak berhasil menggaet pemirsa sebagaimana suksesnya Sesame Street dahulu.

Oleh karena itu, kali ini konsep repackage SS untuk anak-anak Indonesia dalam JS dibuat dengan lebih matang. Jangan harapkan Elmo, Grover, Cookie Monster atau Kermit akan tampil dominan dalam JS. Indigo Production sebagai production house yang memenangkan tender produksi JS justru menampilkan karakter-karakter baru sebagai tokoh utama.

Momon dan Putri, Tan-tan, Jabrik

Mereka adalah Tan-tan, Jabrik, Momon dan Putri. Tan-tan si orang utan adalah karakter yang dewasa, berwawasan luas dan sangat menyukai pisang. Momon si monyet adalah karakter yang kreatif dan senang menggambar. Jabrik si badak bercula satu adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu dan polos. Sementara Putri digambarkan sebagai gadis kecil yang periang dan aktif.

Selain keempat tokoh boneka tadi, di JS juga hidup karakter-karakter lain yang mendukung gambaran kehidupan yang sangat meng-Indonesia. Ada keluarga Pak Bagus yang merupakan tipikal keluarga Indonesia, ada Pak Dalang yang sering mendongeng untuk anak-anak di JS, dsb. Suasana setting tempat syuting pun dibuat seperti berada di kebanyakan kawasan sub-urban Indonesia dengan rumah beratap miring, pagar tanaman, dsb.

JS memang diharapkan bisa menjadi sarana edukasi bagi anak. Pemilihan orang utan dan badak bercula satu sebagai karakter utama disengaja untuk mengenalkan kedua jenis binatang langka Indonesia kepada anak-anak. Momon dan Putri juga tidak kalah Indonesia, kedua karakter ini mengenakan pakaian khas Indonesia. Momon menggunakan sarung (?) tenunan ulos dan Putri senantiasa mengenakan baju berbahan batik.

Dua jempol saya acungkan untuk JS. Tidak hanya karena penggarapannya yang matang, tetapi juga karena JS menjadi preseden baik untuk dunia hiburan anak Indonesia. Dua jempol juga saya acungkan untuk Trans 7 yang konsisten menghadirkan tayangan anak bermutu melalui deretan acara macam Si Bolang, Laptop si Unyil, Jalan Sesama dan Cita-citaku. Salut!